<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Femi on the Blog</title>
	<atom:link href="http://femikhirana.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://femikhirana.com</link>
	<description>klik judul untuk ke awal</description>
	<lastBuildDate>Tue, 31 Aug 2010 16:15:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Sinis (Sindiran Manis) : Sukses, Gak Pakai Lama!</title>
		<link>http://femikhirana.com/archives/1708</link>
		<comments>http://femikhirana.com/archives/1708#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Aug 2010 15:55:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fekhi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sinis]]></category>
		<category><![CDATA[kaya]]></category>
		<category><![CDATA[kilat]]></category>
		<category><![CDATA[kursus]]></category>
		<category><![CDATA[kursus cepat]]></category>
		<category><![CDATA[kursus kilat ekspres]]></category>
		<category><![CDATA[sindiran manis]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femikhirana.com/?p=1708</guid>
		<description><![CDATA[Hadiri kursus kilat jadi pengarang best seller! Seminar jadi pintar sekejap bermain saham. Cara instan mengeruk uang di internet. Belajar Bahasa Inggris jarak jauh, seminggu sudah bisa. Banyak lagi deh ajakan sejenis yang menjanjikan keberhasilan dalam waktu amat sangat singkat sekali (hiperbola mode on).  Peserta yang tergiur juga banyak, karena memang ngarep bisa sukses dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Hadiri kursus kilat jadi pengarang <em>best seller</em>!</p>
<p style="text-align: justify;">Seminar jadi pintar sekejap bermain saham.</p>
<p style="text-align: justify;">Cara instan mengeruk uang di internet.</p>
<p style="text-align: justify;">Belajar Bahasa Inggris jarak jauh, seminggu sudah bisa.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Banyak lagi deh ajakan sejenis yang menjanjikan keberhasilan dalam waktu amat sangat singkat sekali (hiperbola <em>mode on</em>).  Peserta yang tergiur juga banyak, karena memang <em>ngarep</em> bisa sukses dengan cara cepat.  Padahal aslinya dalam materi kursus kilat tersebut ujung-ujungnya hanya mengajarkan pengetahuan dasar saja, selanjutnya???</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Saya menuliskan empat kegiatan kursus di atas karena sekadar ingin memberikan contoh pengalaman pribadi saja.  Kebetulan empat kegiatan itu memang kegiatan saya sehari-hari juga.<span id="more-1708"></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Jadi penulis, saya perlu lebih dari 15 tahun, baru bisa merasakan tulisan saya dibaca banyak orang.</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah lima tahun lebih belajar menjadi trader valuta asing, masih merasa belum pintar.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya sudah mengakses internet sejak tahun 1995.  Hingga kini juga masih mempelajari cara efektif untuk memanfaatkan internet jadi media yang ampuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Belajar bahasa Inggris?  Wah ini apalagi, sudah belajar dari kelas 1 SD pun saya masih minder kalau disuruh berbahasa Inggris dengan aktif.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Jadi saya salut kalau ada yang berani buat program Sukses, Gak Pakai Lama itu, termasuk yang ikutan juga saya saluti karena punya semangat juang yang baik.  Tapi sayangnya, keahlian bahkan bakat sekalipun tidak bisa jadi secara <em>instant</em>.  Yang lebih ekstrim lagi ada yang percaya bila tidak ada jalan pintas untuk sebuah kesuksesan.  Eh benar gak ya?  Kalau memang ada yang bisa sukses dengan sistem SKS, berarti memang saya yang goblok deh…  hiks…!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femikhirana.com/archives/1708/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wirausaha Sejak Dini</title>
		<link>http://femikhirana.com/archives/1705</link>
		<comments>http://femikhirana.com/archives/1705#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Aug 2010 01:51:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fekhi</dc:creator>
				<category><![CDATA[business]]></category>
		<category><![CDATA[anak sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[ciputra]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[smp citra kasih]]></category>
		<category><![CDATA[wirausaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femikhirana.com/?p=1705</guid>
		<description><![CDATA[Tanggal 27 Agustus 2010 kemarin, SMP Citra Kasih yang kebetulan lokasinya persis di depan rumah saya mengadakan acara yang membuat saya salut.  Para siswa menerima jasa cuci mobil, cuci motor, cuci sepeda, dan juga buka lapak di halaman sekolah.  Pendapatan dari semuanya untuk disumbangkan. Kalau di-googling memang sekolah ini punya kurikulum entrepreneurship kepada siswanya.  Tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tanggal  27 Agustus 2010 kemarin, SMP Citra Kasih yang kebetulan lokasinya  persis di depan rumah saya mengadakan acara yang membuat saya salut.   Para siswa menerima jasa cuci mobil, cuci motor, cuci sepeda, dan juga  buka lapak di halaman sekolah.  Pendapatan dari semuanya untuk  disumbangkan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Kalau di-<em>googling</em> memang sekolah ini punya kurikulum <em>entrepreneurship</em> kepada siswanya.  Tapi ternyata kurikulum bukan sekadar diajarkan  secara teori semata, justru harus dipraktikan!  Alhasil para siswa  bekerja sendiri dari persiapan, promosi, hingga mengerjakan jasa itu  sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Lanjutannya dapat dibaca <a href="http://smoothmarketing.femikhirana.com/?p=130." target="_blank">DI SINI</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://smoothmarketing.femikhirana.com/?p=130"></a></p>
<p style="text-align: justify;">(Tulisan ini terdiri dari banyak foto.  Bagi yang tidak menggunakan  akses internet <em>broadband unlimited</em>, perhatikan pemakaian <em>bandwith</em> Anda)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femikhirana.com/archives/1705/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sinis (Sindiran Manis) :  Manusia (Itu) Sempurna</title>
		<link>http://femikhirana.com/archives/1700</link>
		<comments>http://femikhirana.com/archives/1700#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Aug 2010 16:44:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fekhi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sinis]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[manusia sempurna]]></category>
		<category><![CDATA[sindiran manis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femikhirana.com/?p=1700</guid>
		<description><![CDATA[Banyak sih yang selalu bilang, “Manusia itu kan ndak sempurna.” Entah itu kalimat penghiburan, atau kalimat penyangkalan. Ya, kalau manusia sempurna memang tidak bakal ada acara pengampunan dosa deh… Kesannya Tuhan malah jadi tempat buat cuci dosa akibat stempel : ketidaksempurnaan manusia.  Yang lebih ekstrim lagi manusia yang tidak sempurna ngambek kalau merasa God is [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Banyak sih yang selalu bilang,</p>
<p style="text-align: justify;">“Manusia itu kan <em>ndak</em> sempurna.”</p>
<p style="text-align: justify;">Entah itu kalimat penghiburan, atau kalimat penyangkalan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ya, kalau manusia sempurna memang tidak bakal ada acara pengampunan dosa deh…</p>
<p style="text-align: justify;">Kesannya Tuhan malah jadi tempat buat cuci dosa akibat stempel : ketidaksempurnaan manusia.  Yang lebih ekstrim lagi manusia yang tidak sempurna ngambek kalau merasa <em>God is not perfect in their minds. </em></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Tapi pasti ada yang pernah berpikir dengan cara yang berbeda tentang alasan ketidaksempurnaan itu.  Entah itu pemikiran yang menghibur, atau pemikiran yang menyangkal.  Yaitu pemikiran seperti ini,<span id="more-1700"></span></p>
<p style="text-align: justify;">“Manusia itu tidak sempurna, tapi manusia adalah milik Empunya yang Sempurna.  Adalah baik untuk berusaha sempurna meniru Penciptanya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi fungsi Tuhan bukan sekadar tempat pengampunan dosa kan?  Beliau juga sosok untuk ditiru, berdiskusi, mungkin malah berdebat, tinimbang tempat curhat dan tempat omelan semata.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Bertindaklah ala sifat Pencipta kita, ekstrimkah?  Kembali lagi kepada penerimaan diri kita di mata dan hati kita masing-masing : aku bukan orang sempurna atau aku berusaha untuk sempurna.  Capek?  Tidak sempurna dan berusaha sempurna sama-sama memiliki tingkat keletihan yang sama.  Tapi yang jelas hasil akhir dari kedua penerimaan diri itu berbeda.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Bertindaklah ala sifat Pencipta kita, mampukah?  Sama seperti kalimat di atas, kembali kepada penerimaan diri di mata dan hati kita masing-masing.  Kalau kita selalu bersandar kepada ketidaksempurnaan diri kita, tentu tidak mampu.  <em>Wong</em> kekuatan diri memang ndak sempurna, gimana bisa bertindak sempurna?  Tetapi kalau kita selalu bersandar kepada usaha untuk menjadi sempurna, maka Pemilik tubuh kita ini akan memampukan kemanusiaan kita untuk menjadi sempurna.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Bertindaklah ala sifat Pencipta kita, relakah?  Karena ketidaksempurnaan manusia memang cenderung tidak rela untuk jadi sempurna.  Benarkah?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femikhirana.com/archives/1700/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sinis (Sindiran Manis) :  Hidup Nyaman yang Beresiko (Lagi)</title>
		<link>http://femikhirana.com/archives/1696</link>
		<comments>http://femikhirana.com/archives/1696#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Aug 2010 02:25:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fekhi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sinis]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[hidup nyaman]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[resiko]]></category>
		<category><![CDATA[sindiran manis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femikhirana.com/?p=1696</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini boleh dikatakan masih ada hubungan dengan topik tulisan Sinis yang berjudul : Hidup Nyaman yang Beresiko.  Atau bisa juga tulisan ini masih sambungan judul tersebut.  Karena lagi gak kreatif membuat judul, saya gunakan judul yang sama saja dengan menambahkan kata ‘lagi’.  Sewaktu menyelesaikan tulisan sebelumnya memang sudah merencanakan sambungannya.  Apalagi komentar-komentar dari teman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tulisan ini boleh dikatakan masih ada hubungan dengan topik tulisan Sinis yang berjudul : <a href="../archives/1662">Hidup Nyaman yang Beresiko</a>.  Atau bisa juga tulisan ini masih sambungan judul tersebut.  Karena lagi <em>gak</em> kreatif membuat judul, saya gunakan judul yang sama saja dengan menambahkan kata ‘lagi’.  Sewaktu menyelesaikan tulisan sebelumnya memang sudah merencanakan sambungannya.  Apalagi komentar-komentar dari teman di <em>facebook</em> di <a href="http://www.facebook.com/notes/femi-on-the-blog/sinis-sindiran-manis-hidup-nyaman-yang-beresiko/10150225911150085">SINI</a> dan di <a href="http://www.facebook.com/notes.php?id=685469830#%21/note.php?note_id=414698067879">SINI</a> juga, akhirnya juga membuat saya berniat harus menyelesaikan masalah ini dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya (mentang-mentang habis 17-an hihihi…).</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Pada tulisan sebelumnya memang seakan-akan (memang sengaja saya buat seakan-akan hehehe…  untung saya tidak ditimpuk!) saya menganggap bahwa pekerjaan yang sreg itu adalah bisnis sendiri.  Kalau ada yang berasumsi demikian ya boleh saja, karena memang bagi sebagian orang memang lebih nyaman untuk mewujudkan kemandirian.  Lagipula setelah ditimbang-timbang memang resiko mewujudkan impian pasti ada dan sudah siap untuk menerimanya.<span id="more-1696"></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Nah pada tulisan sambungan ini, justru saya malah bukan ingin terkesan <em>ngenyek</em> dengan mereka yang berani mengambil resiko tinggi untuk <em>point-point</em> yang saya kutip kembali di sini :</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">* Merelakan impian besarnya tidak musti terwujud.</p>
<p style="text-align: justify;">* Harus konsisten dan tahan tuntutan dari luar untuk bisa berkarya (bekerja) lebih dari delapan jam kerja (apalagi kalau di Jakarta, duh itu jam 9 dan 10 malam saja masih pada ramai di jalan karena baru pulang)  Apalagi yang berada di posisi manajerial, harus menjaga agar posisi amannya tetap aman.</p>
<p style="text-align: justify;">* Rela bekerja untuk sistem (bukan sistem bekerja untuk kita).</p>
<p style="text-align: justify;">* Tidak bisa sembarangan mengistirahatkan diri walaupun pikiran sedang susah, mumet dan sulit diajak kompromi.</p>
<p style="text-align: justify;">* Tidak bisa seenaknya berkreasi tanpa persetujuan orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">* Anak dan orang tua sakit atau ada masalah tidak bisa langsung mendampingi.</p>
<p style="text-align: justify;">* Bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan (dipecat, sakit hingga harus berhenti kerja) maka memerlukan waktu yang lama untuk mencari pekerjaan baru atau memulai pekerjaan baru lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Wahai rekan-rekan sekalian yang menghadapi masalah di atas, saya justru ingin mengucapkan salut.  Karena apa?  Saya tahu hidup masing-masing pribadi memang tidak persis sama.  Jadi saya juga percaya bila banyak rekan yang dengan sukacita mengambil pilihan untuk hidup dalam resiko tinggi dalam pengabdian juga adalah pilihan yang sangat mulia.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Dulu saya pernah terharu dengan sms seorang rekan yang berbunyi :</p>
<p style="text-align: justify;">“Hidup mandiri itu bagus.  Tapi hidup mengabdi itu juga bukan jelek, itu juga mulia.”</p>
<p style="text-align: justify;">Justru mereka yang hidup mengabdi tanpa menuankan diri sendiri memang cerminan ideal dan kebanyakan yang terjadi dalam fenomena kehidupan.  Rasanya tidak perlu berkecil hati hidup dalam resiko ketidaknyamanan.  <strong>Sejatinya justru disyukuri karena sudah diberi kesempatan untuk menjalani panggilannya masing-masing.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Bisa berbakti itu sungguh baik!  Lagipula siapa yang bilang bila hidup mengabdi tidak dapat mewujudkan impian untuk memiliki kegiatan yang mandiri, milik sendiri?  Kalau mau diatur ya pasti bisa saja.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Yang jelas saya juga ingin menekankan bila tulisan yang seakan-akan mengajak orang untuk memiliki jiwa <em>entrepreneur</em> ini bukan berbicara tentang bagaimana mencari uang banyak! Beda meraih impian dan meraih uang banyak loh!  Mencari uang itu bisa dengan kerja sendiri atau kerja dengan orang lain, hasilnya?  Percayalah : sama saja!  Bukan berarti bisnis sendiri lalu uangnya jadi melimpah ruah!  <em>Sorry to say</em>, harap <em>mind set</em> atau otaknya diluruskan dulu untuk tidak menyamakan istilah <em>entrepreneurship</em> dengan ambisi jadi konglomerat.  Aslinya wirausaha justru harus beneran rela tinggal di kolong dan melarat (kolongmelarat).</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Jadi sekadar meluruskan tulisan bersambung ini bukan sekadar bicara soal mencari uang untuk hidup nyaman.  Bekerja apapun bisa dapat uang, entah banyak atau sedikit itu tergantung usaha.  Tetapi yang saya tekankan dalam tulisan ini adalah : beranikah kita menanggung resiko untuk merealisasikan mimpi kita?  Padahal sejatinya resiko untuk mencapai impian kita itu tidak lebih berat daripada resiko pengabdian kita selama ini di dunia.  Entah di manakah posisi kita sekarang ini, bekerja sendiri atau mengabdi, <strong>beranikah kita mendobrak diri sendiri untuk tidak selalu menjadi pemimpi</strong>?</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femikhirana.com/archives/1696/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Share dari Motiflection : Berkarya Adalah Hak Seumur Hidup</title>
		<link>http://femikhirana.com/archives/1694</link>
		<comments>http://femikhirana.com/archives/1694#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Aug 2010 09:20:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fekhi</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[motiflection]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[prestasi]]></category>
		<category><![CDATA[superkids]]></category>
		<category><![CDATA[umur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femikhirana.com/?p=1694</guid>
		<description><![CDATA[Terinspirasi dari tulisan di SINI, saya jadi tergugah sendiri untuk menuliskan dampak dari hasil bacaan tersebut.  Jika tidak sempat baca tulisan yang saya tautkan tadi tidak mengapa, saya coba mengintisarikan di sini juga. Di zaman yang mulai canggih (ya era di atas 1950-an) banyak orang tua yang memiliki kecenderungan untuk memberikan pendidikan sedini mungkin kepada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Terinspirasi dari tulisan di <a href="http://rumahinspirasi.com/homeschooling/anak-anak-karbitan">SINI</a>,  saya jadi tergugah sendiri untuk menuliskan dampak dari hasil bacaan  tersebut.  Jika tidak sempat baca tulisan yang saya tautkan tadi tidak  mengapa, saya coba mengintisarikan di sini juga.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Di  zaman yang mulai canggih (ya era di atas 1950-an) banyak orang tua yang  memiliki kecenderungan untuk memberikan pendidikan sedini mungkin kepada  anak.  Apalagi era 2000-an.  <strong>Superkids</strong> muncul di mana-mana.   Orang tua seakan bangga memiliki anak yang mampu menghafal dengan banyak  dan cepat, menghitung dengan kilat, berbicara dalam bahasa asing dengan  lancar, bahkan sebagian sudah bisa menghasilkan uang sebagai <em>entertainer.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Kelanjutannya dapat dibaca dengan klik tautan di bawah ini<em> :<br />
</em></p>
<p><a href="http://motiflection.com/?p=1913">Weekly Motiflection : Berkarya Adalah Hak Seumur Hidup – Kumpulan Penikmat Tulisan dan Souvenir Kontemplatif</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femikhirana.com/archives/1694/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Noters atau Bloggers dalam Tempurung</title>
		<link>http://femikhirana.com/archives/1683</link>
		<comments>http://femikhirana.com/archives/1683#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Aug 2010 04:15:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fekhi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Testimoni]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[bloggers]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[noters]]></category>
		<category><![CDATA[posting]]></category>
		<category><![CDATA[trend]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femikhirana.com/?p=1683</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum facebook merebak, posting-an pribadi melalui media internet disalurkan melalui blog.  Blogging, yaitu kegiatan menulis yang bersifat personal di blog.  Bloggers adalah mereka si penulis blog yang beberapa di antaranya juga jadi terkenal.  Penerbit buku pun tidak mau kalah bersaing merangkul blogger untuk menelurkan buku-buku. Komunitas blogger tidak bisa dianggap enteng karena cukup banyak blogger [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sebelum <em>facebook</em> merebak, <em>posting</em>-an pribadi melalui media internet disalurkan melalui blog.  <em>Blogging</em>, yaitu kegiatan menulis yang bersifat personal di blog.  <em>Bloggers</em> adalah mereka si penulis blog yang beberapa di antaranya juga jadi terkenal.  Penerbit buku pun tidak mau kalah bersaing merangkul <em>blogge</em>r untuk menelurkan buku-buku.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Komunitas <em>blogger</em> tidak bisa dianggap enteng karena cukup banyak <em>blogge</em>r yang memiliki kemampuan menulis di atas rata-rata.  <em>Blogger</em> pemula rata-rata memang masih sangat mentah dalam usaha <em>posting</em> tulisan dan malas untuk merawat blog-nya.  Tetapi untuk <em>blogger </em>aktif tidak kalah reputasi dengan tulisan kolumnis di surat kabar atau portal internet.  Semakin aktif <em>posting</em>, tentu semakin terlatih untuk mengulas satu persoalan dengan tajam.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>Blogger</em> umumnya bukan hanya ditunjang dari isi tulisan, tapi juga usaha untuk mendisain <em>blog</em> menjadi enak dibaca.  Selain itu juga cara membesarkan blog harus ditunjang dengan <em>personality</em> yang baik dengan saling berkunjung sesama <em>bloggers</em>.  Belum lagi harus mengerti strategi cara mempublikasi alamat blog dengan cara yang sopan.  Tanpa didukung unsur usaha di atas, maka blog hanya mejeng saja tanpa <em>visitor</em> berarti.  Makanya banyak juga yang bingung kenapa blog pribadinya jarang dikunjungi.  Ya, gimana bisa dikunjungi kalau orang tidak tahu hehehe…<span id="more-1683"></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Lalu kita masuk ke era <strong>Noters</strong>.  <em>Noters</em> ini saya gunakan istilahnya bagi mereka yang nyaman <em>posting</em> tulisan di <em>facebook</em>.  Jejaring sosial <em>facebook</em> ini memang cukup mumpuni tiga tahun belakangan ini.  Tulisan dari para <em>noters</em> (yang sebagian juga sebenarnya berasal dari <em>bloggers</em>) ada juga yang berkualitas.  <em>Noters</em> dari <em>facebook</em> pun ada yang juga dilirik oleh penerbitan.  Menjadi <em>noters</em> juga tidak terlalu pusing dengan disain untuk menarik mata karena sudah dibantu oleh <em>facebook</em> itu sendiri.  Dengan fasilitas <em>sharing</em> yang ada di <em>facebook</em> memang lebih memudahkan tulisan <em>noters</em> lebih mudah diketahui anggota <em>facebook</em> lain tinimbang blog.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Belakangan saya amati malah banyak yang sudah enggan <em>posting</em> di blog dan asyik ber-<em>noting</em> di <em>facebook</em>.  Ada juga yang mengatakan masa-masa blog sudah habis, karena keribetannya untuk mempublikasikan tulisan.  Hmmm… ya sah-sah saja beropini tentang era <strong><em>blogger versus noters</em></strong>.  Tetapi yang mengagungkan kegiatan <em>noting</em> tinimbang <em>blogging</em> juga harus konsisten dengan berusaha menambah pertemanan di akun <em>facebook </em>mereka.  <strong><em>Tanpa keterbukaan, maka note yang ditulis di facebook juga percuma efeknya</em></strong>.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Kalau pendapat pribadi saya sih, baik <em>blogging</em> dan <em>noting</em> seharusnya <strong>dapat dilakukan seiring sejalan</strong>.  Lagipula kita bukan futuris yang bisa mengklaim, era blog sudah kuno.  Rasanya selama internet masih belum dikonsumsi oleh semua umat manusia, baik <em>website, email</em>, milis, blog, <em>chatting, notes</em> di jejaring sosial masih sangat efektif untuk mengemukakan dan berbagi pendapat.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Satu hal lagi, kita tidak boleh lupa dengan sifat internet yang <strong><em>comprehensive</em></strong> dan <strong><em>compatible</em></strong> antarportal.  Jadi kalau ada yang menggunakan alasan :</p>
<p style="text-align: justify;">“Malas <em>posting</em> dua kali di media yang berbeda!”  <strong>Berarti masih belum sepenuhnya paham sifat internet itu sendiri. </strong>Mungkin sebagian dari kita yang suka menulis masih terkungkung dengan cara publikasi konvensional ala suratkabar atau majalah.  Sejatinya kalau di media <em>offline</em> kita juga berusaha mendiversifikasikan tulisan kita di berbagai portal media, masakan di dunia <em>online </em>yang lebih fleksibel penyebarannya, kita hanya terkungkung pada satu sarana saja (misalnya hanya memanfaatkan <em>facebook</em> untuk publikasi tulisan) ?  Jadinya kan lucu?!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">*)Seluas apakah tulisan kita akan menyebar di ranah internet?  <strong>Itu tergantung dari pemahaman dan keinginan kita sendiri untuk mengulik kompabilitas antarportal.</strong> Apakah dari nulis di blog lalu bisa <em>posting</em> otomatis ke <em>note facebook</em>?  <strong>Jelas bisa!</strong> Apakah <em>note </em>saya di <em>facebook</em> bisa diketahui oleh orang lain di luar <em>facebook</em> tanpa <em>posting</em> ulang?  <strong>Jelas bisa juga!</strong> Anda ingin tulisan Anda di forum-forum ngetop di internet juga tampil di <em>facebook </em>atau <em>twitter</em>?  <strong>Itu bukan masalah besar!</strong> Bila Anda besar di zaman <em>friendster</em>, bisakah Anda juga tetap eksis dengan blog di <em>friendster</em> tapi juga aktif sebagai <em>noters</em> di <em>facebook</em>?  <strong>Amat sangat bisa!</strong> Saya punya blog pribadi, tapi mau buat blog di portal detik.com (biar kelihatan eksis) tanpa harus <em>posting</em> dua kali, bisa?  <strong>Bisa banget!</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Program yang menghubungkan antara blog<em>, facebook, twitter, google mail, yahoo mail </em>Anda juga banyak sekali.  Jadi bukan berarti kita harus usaha dua tiga kali untuk mempublikasikan <em>posting</em> tulisan.  Justru itulah kelebihan internet di mana antarportal selalu saling berkorelasi untuk meningkatkan <em>traffic web</em> atau <em>posting</em>-an seseorang.  Jadi terus terang saya sendiri ragu bila ada yang dapat mengklasifikasi tren media publikasi tulisan di internet ada yang masih <em>up to date </em>atau <em>out of date</em>.  Berarti pikiran orang tersebut belum dapat mengikuti keluasan <em>mapping</em> internet itu sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Menurut pendapat saya pribadi masih banyak yang dapat diselami dari fungsi internet untuk mempublikasikan tulisan kita ke portal manapun tinimbang harus berpikir mana yang lebih ngefek, <em>blogging</em> atau <em>noting</em>.</strong> Kalau bisa <em>posting</em> lalu dengan efektif kita sebarkan dengan menguasai teknis konektivitas antarportal, mengapa harus <em>kekeuh</em> dengan satu komunitas?  Toh intinya adalah TULISAN itu sendiri disebar, jadi jangan terkonsentrasi hanya di satu atau dua portal saja.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Memperluas publikasi tulisan dengan tidak jadi <em>noters </em>atau <em>bloggers </em>saja juga akan sangat membantu kita memperoleh masukan dari banyak pembaca.  Setiap portal memiliki ciri khas keanggotaan, jadi masukan yang kita terima pun pasti berbeda.  Jika Anda suka mengeksplorasi diri dalam ilmu menulis dan berbagi pengalaman hanya mengevaluasi bentuk tulisan dari orang yang itu-itu saja, maka Anda juga akan sulit berkembang dalam mencari sumber mereka yang memancing Anda untuk lebih eksplorasi ide-ide liar Anda.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Yang justru harus dipikirkan sebagai <em>noters</em> atau <em>bloggers</em> (karena sering dilupakan) adalah hal krusial yaitu <strong>jangan menulis dengan fasilitas online portal!</strong> Menulislah di aplikasi untuk menulis (piranti lunak pengolah kata), <strong>BUKAN</strong> menulis di kotak <em>notes facebook</em> atau juga blog.  Setelah menulis dengan sistem <em>offline</em>, baru pindahkan tulisan ke media <em>online</em>.  Lalu jangan lupa di-<em>backup</em> (DISIMPAN) di media penyimpanan sendiri.  <strong><em>Jangan pernah tergantung dengan server blog, jejaring sosial, atau hosting andalan sekalipun!</em></strong> Sekali lagi, sifat internet yang perlu diketahui selain <em>comprehensive</em>, tapi juga <strong>sangat maya</strong>!  Jadi, <strong>jangan biarkan tulisan Anda yang sudah diangkat di media internet baik di <em>note, blog</em>, atau portal manapun juga dihancurkan atau dihilangkan oleh media yang sama.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">*)  Maaf, teknik kompabilitas antarportal di internet silahkan dipelajari sendiri ya <img src='http://femikhirana.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .  Mudah-mudahan di lain kesempatan saya juga bisa menuangkannya di blog.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femikhirana.com/archives/1683/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sinis (Sindiran Manis) :  Manusia Copy Paste</title>
		<link>http://femikhirana.com/archives/1680</link>
		<comments>http://femikhirana.com/archives/1680#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Aug 2010 13:59:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fekhi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sinis]]></category>
		<category><![CDATA[copy paste]]></category>
		<category><![CDATA[manusia pintar]]></category>
		<category><![CDATA[pengulangan hidup]]></category>
		<category><![CDATA[sindiran manis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femikhirana.com/?p=1680</guid>
		<description><![CDATA[Kalau di usia sekarang ini saya ditanya oleh sahabat-sahabat muda, sejujurnya tidak ada nasihat yang terbaik selain : “Hadapi saja, pasti bisa.  Apapun hasilnya jalani saja.  Asal jangan merusak diri aja.” Ya, karena saya sudah melewati masa yang sahabat muda sedang alami, jadi saya sendiri punya keyakinan bila persoalan yang dihadapi memang harus terjadi. Itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kalau di usia sekarang ini saya ditanya oleh sahabat-sahabat muda, sejujurnya tidak ada nasihat yang terbaik selain :</p>
<p style="text-align: justify;">“Hadapi saja, pasti bisa.  Apapun hasilnya jalani saja.  Asal jangan merusak diri aja.”</p>
<p style="text-align: justify;">Ya, karena saya sudah melewati masa yang sahabat muda sedang alami, jadi saya sendiri punya keyakinan bila persoalan yang dihadapi memang harus terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Itu juga yang jadi pegangan saya di masa kini.  Mengingat apa yang dulu terjadi ternyata membuat saya baik-baik saja sekarang ini membantu dalam menghibur diri sendiri.  Toh di masa tua, saya akan mengenang apa yang terjadi sekarang ini.  Jadi ya, hadapi saja dengan tegar.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Lagipula kerapkali semua masalah yang terjadi itu kebanyakan juga pengulangan-pengulangan.  Tetapi lucunya, tetap kita tidak pernah jadi pintar sebagai manusia.  Kesalahan-kesalahan yang dilakukan ya selalu itu-itu saja, tidak pernah berubah.<span id="more-1680"></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Jadi kalau bertemu dengan masalah dengan sahabat muda, saya masih bisa maklum karena mungkin banyak hal baru yang mereka harus pelajari.  Tapi kalau dengan orang yang sudah dapat secara umur dibilang ‘dewasa’ selalu terjebak di kesalahan yang sama tanpa ada perubahan, nah baru saya bingung dan maklum bila ternyata sudah sepantasnya manusia dikasih masalah yang itu-itu saja.  Wong emang belum pinter ngatasinnya hehehe…</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Sejatinya memang kalau dapat masalah baru yang lain dari biasanya justru bagus tuh, karena kita dikasih satu pelajaran berharga yang berbeda.  Bukannya kalau selalu terjebak di masalah yang sama terus-terusan malah bikin bosan?  Harusnya juga  sebagai tanda kalau hanya <em>copy paste</em> dari solusi lama saja masih tidak membuat kita naik kelas terus untuk jadi manusia yang lebih pintar?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femikhirana.com/archives/1680/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peluncuran Buku Raup Untung dengan Jual Diri dan Buku Inspiratif Lainnya</title>
		<link>http://femikhirana.com/archives/1673</link>
		<comments>http://femikhirana.com/archives/1673#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Aug 2010 02:05:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fekhi</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femikhirana.com/?p=1673</guid>
		<description><![CDATA[Acara peluncuran buku inspiratif ini membahas tiga buku.  Kebetulan selain menulis buku Raup Untung dengan Jual Diri, saya memang ikut menyumbangkan tulisan di buku Setitik Embun Inspirasi.  Akhirnya kami luncurkan bersamaan dengan buku sahabat saya juga, Chapters of Life :  From Nothing to Something milik Fonny Jodikin (yang juga menulis di buku Setitik Embun Inspirasi). [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Acara peluncuran buku inspiratif ini membahas tiga buku.  Kebetulan selain menulis buku <a href="http://femikhirana.com/archives/1419" target="_blank">Raup Untung dengan Jual Diri</a>, saya memang ikut menyumbangkan tulisan di buku <a href="http://setitikembuninspirasi.com" target="_blank">Setitik Embun Inspirasi</a>.  Akhirnya kami luncurkan bersamaan dengan buku sahabat saya juga, <a href="http://motiflection.com/?p=1814" target="_blank">Chapters of Life :  From Nothing to Something</a> milik <a href="http://fjodikin.blogspot.com" target="_blank">Fonny Jodikin</a> (yang juga menulis di buku Setitik Embun Inspirasi).</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.fileden.com/files/2009/4/30/2425104/fonny%20femi%20mas%20wendo.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter" src="http://www.fileden.com/files/2009/4/30/2425104/fonny%20femi%20mas%20wendo.jpg" alt="" width="432" height="289" /></a></p>
<p style="text-align: center;">ki-ka :  Fonny Jodikin, Femi, Mas Arswendo (bintang tamu kita)<span id="more-1673"></span></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.fileden.com/files/2009/4/30/2425104/me.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter" src="http://www.fileden.com/files/2009/4/30/2425104/me.jpg" alt="" width="289" height="432" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.fileden.com/files/2009/4/30/2425104/me%20cecil%20wendo.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter" src="http://www.fileden.com/files/2009/4/30/2425104/me%20cecil%20wendo.jpg" alt="" width="432" height="289" /></a></p>
<p style="text-align: center;">ki-ka : Cecil (dari buku Setitik Embun Inspirasi), Mas Wendo, Femi</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.fileden.com/files/2009/4/30/2425104/me%20and%20team.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter" src="http://www.fileden.com/files/2009/4/30/2425104/me%20and%20team.jpg" alt="" width="432" height="289" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Tim yang ikutan repot</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.fileden.com/files/2009/4/30/2425104/me%20lusi.jpg" target="_blank"><img class="    aligncenter" src="http://www.fileden.com/files/2009/4/30/2425104/me%20lusi.jpg" alt="" width="432" height="289" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Mbak Lucy dapat doorprize</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femikhirana.com/archives/1673/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sinis (Sindiran Manis) :  Hidup Nyaman yang Beresiko</title>
		<link>http://femikhirana.com/archives/1662</link>
		<comments>http://femikhirana.com/archives/1662#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Aug 2010 07:26:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fekhi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sinis]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[impian]]></category>
		<category><![CDATA[resiko]]></category>
		<category><![CDATA[sindiran manis]]></category>
		<category><![CDATA[uang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femikhirana.com/?p=1662</guid>
		<description><![CDATA[Berkhayal atau berpikiran untuk menjadi besar rasanya adalah bawaan manusia biasa.  Tetapi yang luar biasa adalah mereka yang siap menanggung dan menghadapi resiko dalam proses mewujudkan dirinya menjadi besar. Kenyataannya banyak memang orang terhenti sampai berpikiran untuk menjadi besar saja.  Ketika ditanya bagaimana, cenderung menjawab, “Gak tahu mulainya gimana.” Itu sih masih mendinglah, ada juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Berkhayal atau berpikiran untuk menjadi besar rasanya adalah bawaan manusia biasa.  Tetapi yang luar biasa adalah mereka yang siap menanggung dan menghadapi resiko dalam proses mewujudkan dirinya menjadi besar.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Kenyataannya banyak memang orang terhenti sampai berpikiran untuk menjadi besar saja.  Ketika ditanya bagaimana, cenderung menjawab,</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Gak tahu mulainya gimana.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Itu sih masih mendinglah, ada juga yang menjawab,</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Gak kepikiran buat mimpi besarnya jadi kenyataan.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Yang lebih takjub lagi, ketika saya ketika berhadapan dengan para profesional yang di atas kertas memiliki ilmu dan pengalaman kerja yang lebih <em>top</em> dari saya, ternyata bagi merekapun gentar ketika membayangkan resiko demi mewujudkan impian mereka.  Belum lagi semua harus dikerjakan sendiri demi terwujudnya hasil besar di kemudian hari.   Masih harus banyak ego yang disingkirkan demi menjadi kuli untuk diri sendiri (lebih nyaman jadi kuli bagi orang hehehe…)  Dipikir-pikir ternyata pengusaha UKM begitu malah lebih besar nyalinya.<span id="more-1662"></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Oklah, kalau hidup memang lebih sejahtera dengan aman-aman saja.  Adrenalin memang tidak bergejolak hebat, tetapi setelah coba saya urai seperti ini :</p>
<p style="text-align: justify;">* Merelakan impian besarnya tidak musti terwujud.</p>
<p style="text-align: justify;">* Harus konsisten dan tahan tuntutan dari luar untuk      bisa berkarya (bekerja) lebih dari delapan jam kerja (apalagi kalau di Jakarta, duh itu jam      9 dan 10 malam saja masih pada ramai di jalan karena baru pulang)  Apalagi yang berada di posisi manajerial,      harus menjaga agar posisi amannya tetap aman.</p>
<p style="text-align: justify;">* Rela bekerja untuk sistem (bukan sistem bekerja untuk      kita).</p>
<p style="text-align: justify;">* Tidak bisa sembarangan mengistirahatkan diri walaupun      pikiran sedang susah, mumet dan sulit diajak kompromi.</p>
<p style="text-align: justify;">* Tidak bisa seenaknya berkreasi tanpa persetujuan      orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">* Anak dan orang tua sakit atau ada masalah tidak bisa      langsung mendampingi.</p>
<p style="text-align: justify;">* Bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan (dipecat,      sakit hingga harus berhenti kerja) maka memerlukan waktu yang lama untuk      mencari pekerjaan baru atau memulai pekerjaan baru lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">* (ada lagi sih, tapi nanti malah kelihatan <em>ngenyek</em>)</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Weh… kok ya malah resiko untuk hidup tanpa resiko malah lebih beresiko</strong> <strong>?</strong> (kalimat mumet <em>on</em>).  Setelah dipikir-pikir justru malah tak beresiko untuk lebih bergejolak adrenalin mewujudkan kerinduan dalam hati dengan :</p>
<p style="text-align: justify;">*  Hidup pas-pasan dulu karena uangnya harus dijaga      untuk perputaran.</p>
<p style="text-align: justify;">* Rela belajar banyak hal baru demi kemajuan diri dan      kestabilan emosi untuk pengambilan keputusan</p>
<p style="text-align: justify;">*  (itu saja?) ya itu saja sih…</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Jadi bila dengan mengorbankan nominal kita dapat bergerak maju mewujudkan impian besar maka nominal itu akan kembali dengan nilai yang lebih besar bersamaan dengan impian.  Tetapi bila akhirnya kita lebih rela mengorbankan impian besar hanya demi kestabilan nominal, rasanya kok malah pertambahan uang tidak selaras dengan impian yang harus dikubur dalam-dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Kejadian hitung-hitungan resiko itu boleh saya analogikan dengan orang yang ingin masuk surga tetapi selalu beranggapan resiko hidup untuk masuk surga itu beratnya minta ampun.  Padahal kalau dijalani sejatinya hidup malah lebih nyaman, tidak selalu kepikiran, “Ah rugi gak bisa begini, rugi gak bisa begitu.”  <strong>Takut resiko tetapi malah secara tidak sadar sudah sangat berani menghadapi hidup yang penuh resiko</strong>.  Alamak…!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Entahlah mana yang sebenarnya lebih sreg untuk dipilih.  Hilang uang untuk dapat impian, atau hilang impian untuk dapat uang?  Kalau tujuannya ingin dapat uang sekaligus dapat impian, mungkin seharusnya kita pilih dulu proses : hilang uang untuk dapat impian, karena biasanya impian kalau sudah dapat, uang menguntit.  Kecuali kita sejak lahir sudah otomatis jadi pewaris Bill Gates, ya tidak perlu mikir tulisan ini.   Seperti biasa, tulisan Sinis itu memang cenderung subyektif.   Jika ternyata ada yang tersiniskan, berarti pikirannya seharusnya nyambung dengan saya dong hehehe…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femikhirana.com/archives/1662/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karya Si Cela</title>
		<link>http://femikhirana.com/archives/1660</link>
		<comments>http://femikhirana.com/archives/1660#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jul 2010 03:34:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fekhi</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[cela]]></category>
		<category><![CDATA[manusia dosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femikhirana.com/?p=1660</guid>
		<description><![CDATA[kubukan sosok sobat mulia kumungkin kecewakan per manusia kukerap tak hadirkan wajah kumohon tuk tebus dosa hanya lewat karyakarya dikuaskan dari tinta-Nya oleh hamba yang penuh cela]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://www.fileden.com/files/2009/4/30/2425104/77097179.jpg" alt="" width="190" height="285" /></p>
<p><big>kubukan sosok sobat mulia<br />
kumungkin kecewakan per manusia<br />
kukerap tak hadirkan wajah<br />
kumohon tuk tebus dosa<br />
hanya lewat karyakarya<br />
dikuaskan dari tinta-Nya<br />
oleh hamba yang penuh cela</big></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femikhirana.com/archives/1660/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
