Demo Baik-baik?

Terkait dengan masalah BBM, ada banyak yang menyarankan untuk berdemo secara baik-baik, tidak merusak, dan tidak anarkis.  Hmmm… bagaimana yahhh…  Demo yang sudah merusak saja tetap tidak membuat pemerintah bergegas, masih ‘nyantai’, malah bisa tidur sambil sidang.  Kalau mau tidur lebih baik jangan di ruang sidang, pilihlah tidur sebentar di toilet mewah daripada disorot kamera televisi dan semakin meningkatkan kegeraman dari penonton di seluruh Indonesia.  Jadi kira-kira sudah terbayangkah jika  berdemo baik-baik?  Dicuekin?  Iya kali!

Karena saya pernah jadi mahasiswa yang ikut menyaksikan demo reformasi tahun 1998, jadi saya tidak bisa menyalahkan mahasiswa yang demo. Waktu tahun 1998 yang berujung kerusuhan pun bukan gara-gara mahasiswa.  Harus dibedakan antara demo mahasiswa, demo massa, dan demo yang menunggangi mahasiswa. Continue reading

Aku Presiden Gagal

Dulu zaman saya abege ada sosok boneka cantik nan lucu pintar menyanyi yang disuarakan oleh Ria Enes.  Ya… yang sezaman dengan saya pasti tahu namanya, Susan!  Lagu yang paling saya ingat dari si Susan kecil berlogat Jawa itu adalah Cita-citaku.  Nah waktu dia menyanyi dengan lengkingan lucunya pada bait : ‘cita-citaaaa… ingin jadi presidennn…’ sebenarnya sempat membuat saya salut sama anak-anak kecil yang kalau ditanya cita-citanya apa, jawabannya : presidennn!

Sejak kecil saya tidak pernah bercita-cita jadi presiden tuh…  Soalnya saya merasa itu bukan cita-cita yang normal alias ketinggian buat saya hahaha…  Saya lebih berani bercita-cita jadi biarawati deh daripada jadi presiden.  Kenapa?  Jadi presiden itu bagi saya ribet dan bukan posisi enak.  Pastinya tidak enak jadi orang nomor satu di mana-mana termasuk nomor satu paling sering disorot masyarakat.  Harus bisa mengayomi rakyat, harus bisa jadi teladan, harus bisa menahan tekanan dari lawan.  Apa enaknya kan?  Oh ya yang saya maksud itu jadi presiden Indonesia, bukan presiden direktur.  Kalau jadi presiden direktur sih sudah pernah, wong bikin usaha sendiri ya otomatis mengangkat diri jadi presiden dengan suara bulat.  Continue reading

gayus memang jayus

gayus memang maknyus
badannya penuh fulus
akalnya diikuti bulus
jaksa dan polisi dihembus-hembus
jeruji disulap jadi kawat halus
tak lupa wig tutupi batok mulus

bagimu hidup tak lagi lurus
jalanmu terlanjur kusut tak terurus
awal dan akhir berkelit terus
terpaksa semua kaugerus
entah kapan habis jurus
sampai gayus tak lagi jayus

Sinis (Sindiran Manis) : Menghibur Itu Tidak Bereksposisi dan Argumentatif

Jujur, sedari kecil saya asing dengan kata kerja satu ini : menghibur.  Karena apa?  Karena memang di lingkungan saya sedari kecil nyaris tidak pernah menganggap kata ‘menghibur’ itu penting.  Bahkan cenderung kata menghibur itu dianggap menyesatkan realita.  Jadi alih-alih kalau saya menangis atau marah dialemin, malah omelan yang saya dapat.  Omelan itu bisa berupa nasihat atau betul-betul kata-kata yang mendamprat agar saya tidak membesar-besarkan kebetean.

Saya tidak menyalahkan orang tua saya, karena saya pun tahu mereka tidak tahu apa itu menghibur.  Mereka sedari dulu juga besar di lingkungan dan keluarga yang tidak bisa menunjukkan ekspresi cinta kasih dengan kata-kata manis.  Dulu bagi saya teguran itu ya bentuk perhatian dan kasih sayang.  Orang tua saya tidak pernah berkata kepada saya,

“Gak apa-apa, semua akan baik-baik saja…”

“Sudah jangan nangis, kan cuman bercanda…”

Melainkan kalimat begini,

“Makanyaaa… Jangan cari susah sendiri… Kalau udah begini, siapa yang repot??!”

“Orang cuman becanda kamu udah marah begini!  Jangan nangis!  Besok-besok orang gak mau main lagi sama kamu!” Continue reading

Sinis (Sindiran Manis) : Berkhayal itu Pintar!

Imagination is more important than knowledge. For knowledge is limited, whereas imagination embraces the entire world, stimulating progress, giving birth to evolution.” (“What Life Means to Einstein” di The Saturday Evening Post, 26 Oktober 1929.)

Hah…!  Senangnya saya bertemu kalimat ini setelah beberapa hari belakangan ini berasyik masyuk dengan pikiran tentang kekuatan sebuah daya khayal.  Saya sampai hilang nafsu menulis beberapa saat karena kesulitan menjabarkan semua ini.

Terus terang, saya sedang penasaran untuk menarik benang merah antara kata imajinasi dan kenyataan.  Berawal dari banyaknya science fiction yang sekarang menjadi ‘betulan’.  Apakah kebetulan?  Saya merasa bila semua itu akhirnya hanya kebetulan berarti manusia merendahkan kapabilitas otak manusia sendiri.  Saya pun hingga sekarang ini masih menganggap bila apa yang menjadi kenyataan di zaman ini sejatinya sudah divisualisasi dalam bentuk pikiran imajinasi manusia di masa lampau.

Saya mau ngotot untuk mengatakan bila manusia memang sejak awalnya tercipta dengan kondisi daya khayal yang dahsyat.  Lagi-lagi, itu bukan semata-mata khayalan kosong.  Banyak khayalan manusia masa lalu yang terbukti memang nyata dan terwujud, berarti imajinasi itu bukan alat permainan dalam otak manusia.  Daya khayal itu ternyata sahih kebenarannya setelah menghasilkan bukti empiris.   Daya khayal itu ternyata daya visioner manusia untuk terus bertahan dan menguak misteri-misteri indah di jagad alam raya! Jadi kesimpulannya, saya ngotot bila tidak akan ada hal yang bersifat ilmiah, realistis, kreatif dan empiris tanpa dimulai dari imajinasi manusia di masa lalu. Continue reading

Sinis (Sindiran Manis) : Remedial #FF

Ada yang jadi trend dalam dunia penulisan di tahun 2010 ini, yaitu Flash Fiction (selanjutnya disebut FF) alias Fiksi Kilat.  FF adalah tulisan fiksi dengan hanya menggunakan 100-350 kata.  Malah ada yang lebih ekstrim, Fiksi Mini yang bisa dijumpai di twitter.  Fiksi ditulis hanya dengan 140 karakter (huruf) saja!  Mungkin inilah dampak dari meningkatnya pengguna internet dan jejaring sosial yang menggunakan fasilitas netbook atau ponsel untuk onlineUsers lebih memilih membaca tulisan ringan yang pendek, singkat, padat yang langsung ke topik masalah tinimbang membaca yang panjang-panjang.

Jika tulisan esai yang pendek sudah cukup lama berlangsung, yaitu ketika era blog bermunculan.  Tetapi untuk sebuah fiksi?  Di sinilah justru tantangannya ketika menulis sebuah fiksi minim deskripsi.  Biasanya editing tulisan adalah untuk memperdetil deskripsi, maka di FF editing atau baca ulang adalah untuk mempersingkat deskripsi.  Di sini penulis tidak boleh menyepelekan tingkat kecerdasan pembaca, dengan kata lain deskripsi-deskripsi yang dipangkas (tidak perlu) akan dikembangkan dan diimajinasikan sendiri oleh pembaca.

Bagaimana jika terjadi pemahaman yang berbeda tentang arti cerita?  Nah, itu juga tantangannya.  FF bukan puisi yang bisa menciptakan pemahaman yang berbeda kepada pembaca.  Bagaimanapun FF harus punya awal, klimaks, dan ending yang jelas sehingga kesimpulan pada setiap pembaca tidak bias.

Cukup ya saya berkisah tentang FF.  Karena Sinis itu harus ikut trend, maka kali ini tulisan Sinis (Sindiran Manis) akan menggunakan format FF.  Kisah fiksi hanya dengan 348 kata saja.  Sekali lagi, jangan protes karena tidak ada penjelasan dari berbagai aspek seperti biasanya tulisan Sinis.  Namanya juga fiksi, kilat lagi!  Jadi nikmati saja, yang penting point-nya dapat (itu doa saya sambil deg-degan supaya semua memiliki kesimpulan yang sama hahaha…!)  Selamat menulis eh salah… selamat membaca! Continue reading

Sinis (Sindiran Manis) : Jadilah Orang Minoritas!

Semakin lama sebenarnya saya semakin tidak percaya dengan kalimat-kalimat yang menggeneralisasikan sifat atau karakteristik seseorang berdasarkan suku, agama, ras, dan golongan.  Bagi saya, itu hanya mitos!  Di satu sisi jadi mengagungkan sifat seseorang atau juga menjatuhkan.

Misalnya saja, orang Batak itu keras, orang Jawa itu lemah lembut.  Yang namanya pencuri itu tidak pernah dari suku Jawa mengingat falsafah Jawanya yang nrimo.  Terus orang Palembang itu kasar, tuh buktinya preman-preman terminal banyak yang menggunakan bahasa wong kito.  Orang Ambon kalau gak jadi penyanyi, nyasar jadi debt collector. Belum lagi, orang Indonesia itu tidak bisa tertib.  Orang keturunan China itu pintar, juga licik.  Orang Singapore itu jutek-jutek.  Orang Amerika itu kapitalis.  Orang Eropa itu hedonis.  Orang desa itu katro.  Pembantu rumah tangga itu gak ada yang beres.  Banyak lagi…

Astagaaa, kalau memang dunia begitu adanya, betapa sederhananya pembentukan sifat manusia?  Begitu sederhananya manusia terkategori atau terkelompokkan dengan apa yang sesungguhnya belum tentu dilakoninya. Yang sering mengkotak-kotakkan seorang pribadi hanya berdasarkan latar belakang SARA mungkin sejak kecil hingga sekarang juga sudah terdoktrin untuk enggan melihat dengan mata dan pikiran terbuka dengan kondisi sosial yang ada. Continue reading