Ada yang jadi trend dalam dunia penulisan di tahun 2010 ini, yaitu Flash Fiction (selanjutnya disebut FF) alias Fiksi Kilat. FF adalah tulisan fiksi dengan hanya menggunakan 100-350 kata. Malah ada yang lebih ekstrim, Fiksi Mini yang bisa dijumpai di twitter. Fiksi ditulis hanya dengan 140 karakter (huruf) saja! Mungkin inilah dampak dari meningkatnya pengguna internet dan jejaring sosial yang menggunakan fasilitas netbook atau ponsel untuk online. Users lebih memilih membaca tulisan ringan yang pendek, singkat, padat yang langsung ke topik masalah tinimbang membaca yang panjang-panjang.
Jika tulisan esai yang pendek sudah cukup lama berlangsung, yaitu ketika era blog bermunculan. Tetapi untuk sebuah fiksi? Di sinilah justru tantangannya ketika menulis sebuah fiksi minim deskripsi. Biasanya editing tulisan adalah untuk memperdetil deskripsi, maka di FF editing atau baca ulang adalah untuk mempersingkat deskripsi. Di sini penulis tidak boleh menyepelekan tingkat kecerdasan pembaca, dengan kata lain deskripsi-deskripsi yang dipangkas (tidak perlu) akan dikembangkan dan diimajinasikan sendiri oleh pembaca.
Bagaimana jika terjadi pemahaman yang berbeda tentang arti cerita? Nah, itu juga tantangannya. FF bukan puisi yang bisa menciptakan pemahaman yang berbeda kepada pembaca. Bagaimanapun FF harus punya awal, klimaks, dan ending yang jelas sehingga kesimpulan pada setiap pembaca tidak bias.
Cukup ya saya berkisah tentang FF. Karena Sinis itu harus ikut trend, maka kali ini tulisan Sinis (Sindiran Manis) akan menggunakan format FF. Kisah fiksi hanya dengan 348 kata saja. Sekali lagi, jangan protes karena tidak ada penjelasan dari berbagai aspek seperti biasanya tulisan Sinis. Namanya juga fiksi, kilat lagi! Jadi nikmati saja, yang penting point-nya dapat (itu doa saya sambil deg-degan supaya semua memiliki kesimpulan yang sama hahaha…!) Selamat menulis eh salah… selamat membaca! Continue reading →