Suatu ketika saya menonton tayangan acara anak yang dimeriahkan oleh dua pembawa acara dari stasiun televisi anak di Indonesia. Acaranya biasanya dimeriahkan dengan nyanyian-nyanyian, gurauan, dan dongeng fabel dengan menggunakan boneka binatang.
Kali itu dongeng yang dibawakan adalah tentang si gajah dan si anjing yang bermimpi dalam tidur. Singkat cerita, si gajah tidurnya gelisah karena bermimpi buruk sementara si anjing merasa senang dalam tidur karena bermimpi indah. Si anjing berdoa sebelum tidur dan si gajah tidak. Kesimpulannya setelah si gajah dan anjing bertanya kepada raja hutan (si singa) mengapa si gajah tidak nyenyak tidur sementara anjing berbahagia adalah : harus berdoa sebelum tidur.
Wah lagi-lagi ilmu spiritual yang menurut saya keliru untuk diperkenalkan kepada anak. Bagi saya, jika ingin mengajarkan hal-hal baik dengan harapan mendapat kompensasi malah kelak akan memberikan persepsi yang keliru tentang nilai baik itu. Seperti cerita yang saya tulis di atas, bagi saya kisah tersebut malah merendahkan arti doa itu sendiri. Doa jadi diibaratkan seperti jimat atau kalimat sakti yang akan berakibat buruk jika tidak dilakukan. Padahal makna doa jelas lebih dari itu bagi yang sering mengaplikasikan dengan benar.
Selanjutnya dapat dibaca dengan klik tautan di bawah ini :
http://motiflection.com/2011/10/doa-tanpa-kompensasi/.




