Motiflection : Doa Tanpa Kompensasi

Suatu ketika saya menonton tayangan acara anak yang dimeriahkan oleh dua pembawa acara dari stasiun televisi anak di Indonesia.  Acaranya biasanya dimeriahkan dengan nyanyian-nyanyian, gurauan, dan dongeng fabel dengan menggunakan boneka binatang.

Kali itu dongeng yang dibawakan adalah tentang si gajah dan si anjing yang bermimpi dalam tidur.  Singkat cerita, si gajah tidurnya gelisah karena bermimpi buruk sementara si anjing merasa senang dalam tidur karena bermimpi indah.  Si anjing berdoa sebelum tidur dan si gajah tidak.  Kesimpulannya setelah si gajah dan anjing bertanya kepada raja hutan (si singa) mengapa si gajah tidak nyenyak tidur sementara anjing berbahagia adalah : harus berdoa sebelum tidur.

Wah lagi-lagi ilmu spiritual yang menurut saya keliru untuk diperkenalkan kepada anak.  Bagi saya, jika ingin mengajarkan hal-hal baik dengan harapan mendapat kompensasi malah kelak akan memberikan persepsi yang keliru tentang nilai baik itu.  Seperti cerita yang saya tulis di atas, bagi saya kisah tersebut malah merendahkan arti doa itu sendiri.  Doa jadi diibaratkan seperti jimat atau kalimat sakti yang akan berakibat buruk jika tidak dilakukan.  Padahal makna doa jelas lebih dari itu bagi yang sering mengaplikasikan dengan benar.

Selanjutnya dapat dibaca dengan klik tautan di bawah ini :

http://motiflection.com/2011/10/doa-tanpa-kompensasi/.

Motiflection : Another 9/11

 

 

sumber foto http://www.skeptic.com/eskeptic/06-09-11/

9 September 2001 lalu saya serta beberapa rekan kerja sedang rapat dengan pemilik perusahaan tempat saya bekerja.  Rapat itu berlangsung sampai larut malam, sekitar pukul 21.00 sampai 23.00 masih di kantor juga.  Kantor tempat saya bekerja memang seringnya rapat sampai panjanggg dan lamaaa karena materi yang dibahas dari beberapa divisi.  Beberapa keputusan rapat sudah saya catat untuk dilaksanakan di kemudian hari di divisi saya saat itu.

Saat kami sudah mulai santai, gosip seputar pekerjaan, tiba-tiba boss saya ditelepon oleh boss dari perusahaan lain.

“Hah?!  Amerika dibom?!  Twin tower hancur?” pekik boss saya kaget.

Seketika itu juga kami mencari informasi melalui televisi di kantor, dan benar saja, Amerika baru diserang.  Yang kami pikirkan kala itu adalah semua hasil keputusan rapat yang telah kami sepakati sepertinya tidak bisa dijalankan dalam waktu dekat, bahkan ada yang sepertinya harus diubah dan dipikirkan kembali.  Boss saya pun langsung mulai meraba-raba apa yang bakal tersendat pada produk kami dan sedikit banyak pasti ada dampak kepada penjualan.

Baca lanjutannya dengan klik tautan di bawah ini :

Motiflection : Another 9/11 – Kumpulan Penikmat Tulisan dan Souvenir Kontemplatif.

Selamat Tinggal Semangat ‘45

 

Ada baiknya untuk tidak selalu mengatakan : Semangat ’45 di zaman sekarang.  Semangat ’45 adalah semangat untu melawan penjajah, dan kita sudah merdeka karenanya.  Jadi tidak sesuai juga jika hingga usia ke-66 negara Republik Indonesia masih menggunakan semangat ’45 dalam tatanan kehidupan bangsa.  Semangat ’45 hanya layak dikenang, bukan digunakan.

Lalu, pakai semangat tahun berapa dong?  Ya, terserah!  Semakin baru tahunnya, maka semakin baru semangatnya dalam mengisi kemerdekaan.  Kalau saya pribadi, ya jelas menggunakan :  Semangat 2011 biar Indonesia bisa sejajar dengan negara lainnya.  Jelas Indonesia dan penduduknya punya segalanya seperti bangsa maju lainnya, tapi mengapa tetap dipandang sebagai negara ‘aneh’ oleh penghuninya sendiri?  Ya mungkin karena tetap berpandangan sempit, tidak berkembang, dan terbatas seolah-olah negara kita kondisinya masih seperti di tahun 1945.

Baca posting selengkapnya dengan klik tautan di bawah ini

 

Weekly Motiflection : Selamat Tinggal Semangat ‘45 – Kumpulan Penikmat Tulisan dan Souvenir Kontemplatif.

Selamat Paskah 2011

foto : Moses Agustian

Terima kasih Tuhan buat Yesus-Mu
yang juga pernah merasa Kau tinggal
yang juga pernah merasa Kau abaikan
yang menjadi teladan kami
untuk memandang hidup tidak selalu berpihak kepada kita
namun kematian atas dosa serta bangkitnya Yesus membuat kita beriman
jika Tuhan sudah mempersiapkan jalan yang terbaik
di balik salib yang kita panggul

Selamat Paskah semuanya

Terima Kasih, Tikus

Tikus, walaupun saya sebal dengan hewan satu ini tetapi akhirnya saya harus mengakui kehebatannya.  Saya salut dengan hewan kecil (yang lucu) ini dan akhirnya ditemplak untuk bisa menirunya.  Kok ?

 

http://www.clker.com/clipart-simple-cartoon-mouse-2.html

Tidak usah bingung, karena setelah saya googling, dengan rendah hati dan berat hati juga (hehehe…) saya harus menerima dengan lapang dada jika tikus itu termasuk sepuluh hewan tercerdas yang pernah hidup di dunia.  Jadi, kenapa tidak belajar darinya?  Dia ternyata tidak sejijik yang saya kira setelah tahu apa kelebihannya.

Huh… daripada saya ditimpuk karena memuji seekor tikus, baiklah saya langsung berkisah mengapa saya jadi malu dengan tikus.  Begini… (jrengggg… tenang bukan adegan atau kisah yang menjijikan kok…), saya sudah menempati rumah kontrakan ini setahun lebih.  Saya agak takjub karena di rumah ini bebas dari tikus yang menyusup ke dalam rumah.  Berbeda jauh dengan rumah kontrakan saya sebelumnya yang nyaris setiap hari pasti ada tikus berpesta di halaman belakang dan sering juga nyasar di ruang tengah mencari tempat persembunyian.

Baca selanjutnya dari tautan bawah ini

Terima Kasih, Tikus – Kumpulan Penikmat Tulisan dan Souvenir Kontemplatif.

Jangan Hanya Melangkah, Tetapi Lompatlah!

Merancang hidup itu tidak seperti merancang bangunan yang harus dilakukan langkah demi langkah.  Sementara dalam hidup, kita tidak hanya boleh melangkah tetapi harus MELOMPAT.

(dikutip secara bebas dari acara serial film How I Met Your Mother)

 

 

Leap of Faith, photo by James Vancek

Mungkin ada beberapa yang belum atau jarang nonton film seri How I Met Your Mother.  Tidak masalah, saya juga jarang sih…  Tetapi ketika lagi santai kala itu, biasanya saya memang nangkring di stasiun televisi yang berlambang bintang dan pas lagi menayangkan film tersebut.  Saya tidak mengikutinya tiap episode, karena hanya mencari guyonan konyol semata yang menemani waktu senggang.  Nah sampai ketemulah kalimat yang sudah saya tulis di atas.  Rada terkesima juga sih sewaktu mendengar salah satu tokoh di film tersebut mengeluarkan quote seperti itu.

Baca selanjutnya dengan klik tautan bawah ini

Jangan Hanya Melangkah, Tetapi Lompatlah! – Kumpulan Penikmat Tulisan dan Souvenir Kontemplatif.