Lebih Hot dari Ariel dan Luna

Saya menemukan iklan ini di situs cnbc.com.  Saya sebenarnya tidak terlalu tertarik untuk klik-klik banner kalau memang tidak perlu.  Ketika melihat banner ini, saya mau klik.  Saya sebenarnya sudah tahu jika isi iklan ini pasti tidak sesuai dengan harapan yang ditulis dari kalimat iklannya.  Jadi begini tampilannya sebelum diklik.

Kelanjutannya dapat dibaca di sini

http://smoothmarketing.femikhirana.com/?p=141.

Sudah Tepatkah Kalimatnya?

Waktu kuliah saya pernah diceritakan oleh salah seorang dosen Prilaku Konsumen di Fakultas tempat saya kuliah tentang pengalamannya menyeleksi slogan-slogan yang akan dipasang oleh Polantas di jalan raya.

Beliau pernah mengoreksi sebuah kalimat yang kurang lebih isinya adalah : ‘Ingat keluarga yang ada di rumah! ‘ menjadi ‘Ingatlah anak-anak yang ada di rumah!’ pada satu kalimat billboard yang rencananya ingin dipasang agar pengguna kendaraan beroda untuk hati-hati di jalan raya. Beliau juga mengatakan bila humas Polantas bingung dengan slogan yang dianggap kurang tepat oleh dosen saya itu. Dosen saya pun menerangkan bila,
“Biasanya kalau sudah berkeluarga dan punya anak, kadar sayang dan ingat anak itu lebih tinggi daripada kepada suami atau istrinya. Jadi kalau ingin menimbulkan ‘rasa hati-hati’ lebih tepat menggunakan kata anak-anak sebagai alasan orang untuk berhati-hati di jalan.”

Selengkapnya dapat dibaca dengan klik tautan berikut ini :

Sudah Tepatkah Kalimatnya? : : Smooth Marketing.

Terpuruk Sebagai Spammer Iklan

Setiap hari saya harus menghapus sedikitnya lima komentar spam / sampah yang nyasar di blog utama. Dulu saya menggunakan plug in untuk memblokir secara otomatis komentar spam, tetapi alih-alih merasa terbantu, malah saya malah kena bugs yang menyebabkan database kacau. Ya sudah, akhirnya saya harus berjuang sendiri untuk menggunakan setting-an komentar moderasi dan menghapus komentar-komentar spam secara manual delete.

Sejak itu saya secara tidak sengaja jadi tahu karateristik spammer yang tujuannya sengaja menyebar spyware atau yang nebeng iklan. Lucu juga jadinya, karena setiap hari seakan bertarung agar mereka tidak sampai mengotori blog saya.

Jadi kalau spammer yang sengaja nebeng virus atau spywear biasanya lebih kasar caranya daripada yang nebeng iklan saja. Mereka menggunakan bahasa-bahasa yang tidak beraturan dan memberikan tautan yang dapat diklik dengan kata yang menarik misalnya : games, shop, sex, porn. Ada juga yang hanya nebeng komentar tautan yang seolah-olah web games, atau apalah, tetapi kalau diklik saya tidak jamin bila komputer bisa selamat sentosa.

Kelanjutannya dapat dibaca di tautan bawah ini :

http://smoothmarketing.femikhirana.com/?p=86.

Jangan Jadi Penjual Gadungan

Minggu lalu, saya kedatangan orang yang mengaku dari Pertamina untuk mengecek gas elpiji. Intuisi? Saya yang memang selalu berpatokan pada intuisi awal ketika bertemu dengan orang asing langsung berkata : boleh masuk tetapi hati-hati. Kartu pengenal orang tersebut tertera nama dan jabatan sebagai surveyor.

Perbincangan mengalir di dapur saya yang memang terbuka, jadi semua anggota keluarga atau tamu memang bisa melihat dapur dari pintu masuk. Akhirnya saya mendengar beberapa instruksi darinya tentang edukasi mengenai kompor gas. Saya mengangguk saja, mengiyakan jika memang benar. Belum selesai orang tersebut bicara, sudah masuk temannya yang lebih lancar ngomongnya. Kesimpulannya, ia mengatakan bila 60% perumahan tempat kami sudah menggunakan regulator gas otomatis.

Akhirnya mereka mendeskripsikan produk yang kebetulan mereka bawa (katanya sebagai contoh) serta mendemonstrasikannya. Terus terang, saya sendiri memang baru lihat regulator gas otomatis (yang ternyata salah satu temuan mahasiswa ITS ‘cmiiw’) Saya cukup merasa impresif setelah mengetahuinya. Tetapi karena intuisi masih berbicara, jadi saya pasang tampang ‘cool’ saja.

kelanjutannya dapat dibaca di tautan bawah ini

http://smoothmarketing.femikhirana.com/?p=69.

Menjual ‘DIRI’ Penjual

Seringkali saya prihatin melihat orang-orang yang sudah bersusah payah menyebarkan informasi (iklan) di berbagai jalur komunikasi dunia maya seperti email, facebook, milis, forum.  Tetapi alih-alih mendapatkan respon, terkadang malah menuai cibiran.  Belum lagi kalau dianggap sebagai spam dan diblok oleh pembaca.  Boleh saja Anda dan saya sebagai pengiklan bertebal muka dan telinga, tapi buat apa?  Adakah orang yang akan membaca iklan dari orang yang sudah dicap sebagai ‘seorang pengganggu’?  Usaha menyebarkan informasi tanpa dibaca adalah usaha menjaring angin dan menuai badai.

Seringkali juga tidak terpikirkan oleh pengiklan bila iklan yang di-posting di media atau jejaring sosial cenderung klise dan umum.  Dengan kata lain, bila kita mencoba mengiklankan produk baju, kita sering tidak ‘ngeh’ bila ada beratus-ratus orang yang juga mengiklankan produk yang sama (di media yang sama lagi!).  Berapa banyak orang yang sama-sama beriklan tentang : jualan buku, MLM, tas, bedcover, mobil, beras, arisan berantai, makanan, asuransi dan produk-produk lainnya?  Lalu bagaimana agar informasi klise, umum, dan terkadang out of date (basi, usang, bekas) dibaca sebagai sesuatu yang berharga?

http://smoothmarketing.femikhirana.com/?p=62.

Smooth Marketing : Personal Inbox

Menjamurnya fasilitas teknologi komunikasi yang canggih kerap kali membuat kita merasa mudah untuk mengirimkan pesan-pesan secara massal.  Bila promosi konvensional mengandalkan promosi massal dengan brosur, poster, iklan tv, dan sebagainya, maka sekarang kita dimanjakan dengan email, sms, mailbox jejaring sosial, blog adalah hal yang sangat efektif untuk memberikan informasi secara bersamaan kepada komunitas.

Mari kita coba ingat-ingat kembali, bagaimana perlakuan kita terhadap pesan massal yang masuk dalam inbox kita (sms, email atau apa sajalah) ?  Berapa banyak inbox yang akhirnya kita simpan dalam ‘inbox’ otak kita?  Anda tentu akan terkejut dengan jawaban Anda sendiri.

selanjutanya dapat dibaca di tautan bawah ini :

http://smoothmarketing.femikhirana.com/?p=57.

Maaf dan Arogansi Profesi

Bingung dan heran, ketika saya melihat sebuah Rumah Sakit yang bertaraf internasional menempuh jalan bunuh diri hanya untuk menunjukkan jati diri perusahaan. Mungkin etika profesi kedokteran yang jauh dari ilmu pemasaran dan manajemen lebih dijunjung ketimbang harus dicemoohkan sebagai ‘dokter bodoh’ atau ‘dokter lalai’?

Dalam dunia usaha, setiap produk dan jasa pasti ada cacatnya. Jika ada perusahaan yang kemudian menghindar hal ini dengan membela diri sebenarnya sangat tidak bijak. Dalam kasus RS yang menempuh jalan pengadilan hanya karena kasus pencemaran dan berlarut-larut juga sebuah kasus yang menggelikan bagi dunia pemasaran. Sepertinya management lebih sreg kehilangan pendapatan daripada kehilangan nama.


Kelanjutannya dapat dibaca di tautan berikut ini :

http://smoothmarketing.femikhirana.com/?p=39.