Kau Buatku Sempurna
- Posted in Testimoni, kisah nyata, motivasi, refleksi
- Comments 2
Untuk kesekian kalinya surat kawin kami hendak kami bawa ke meja hijau. Berbicara tentang siapa yang akan menggugat sungguh tidak mudah. Pikiran berkecamuk antara kemarahan, kesedihan, serta khayalan hidup tanpa pendamping. Aku memutuskan untuk tidak banyak berbicara lagi. Hatiku sudah meluap dengan tekanan.
Sebelum memutuskan untuk berpisah, hati meluap dengan amarah dan kebencian karena tidak pernah merasa dihargai selama hidup bersama. Hati selalu merasa sia-sia hidup dengan orang yang membuat aku sakit. Aku tahu perasaannya juga demikian kepadaku. Ya, harus diakui, semua adalah kesalahan bersama. Kesalahan yang bukan dibenahi hingga tuntas malah melebar dan menghasilkan kesimpulan : kau dan aku lebih baik hidup berpisah untuk kebaikan hati masing-masing. Masalah anak? Yang terpikir justru kalau kami bersama terus, anak akan menjadi korban kejelekan kami masing-masing.






