Buku Baru : Antologi Fiksi Mini

Teman-teman, saya bersyukur bisa diajak bersama 25 penulis lainnya dalam buku Antologi Fiksi Mini yang dibidani oleh Mas Kurniawan Junaedhie dan Kang Soni Farid Maulana ini.

Di tengah-tengah trend fiksi mini, buku ini termasuk pionir dalam format antologi.  Silahkan dimiliki, dan berikut adalah paparan mengenai bukunya.

(untuk memperbesar gambar, silahkan klik di gambar)

SINOPSIS BUKU ANTOLOGI FIKSI MINI

Simak beberapa karya yang dimuat di dalamnya:

Sebelum pergi ke medan perang, kekasihnya berjanji akan meminangnya sepulang nanti. Sudah 40 tahun kekasihnya tak kunjung datang. (PENANTIAN TIDAK BERUJUNG, Alina Kharisma)

Ia lega. Dayang Sumbi sang ibunda akhirnya menerima lamarannya. Sample test DNA itu telah ditukarnya dengan milik orang lain. (SANGKURIANG, Ariana Pegg)

Dia merindukan pangeran berkuda putih menjemputnya. Yang ditunggu datang juga. Berkuda putih dan gagah. Tanpa kepala. (PANGERAN BERKUDA PUTIH, Fonny Jodikin)

Dinda mendapati putra bungsunya sedang mematut diri depan kaca. Rok dan gaun malamnya bertebaran di mana mana. (BOY, Nona G. Muchtar) Continue reading

Kumpulan Fiksi Miniku 2

Mari Membahas Tentang Potret

Nyata. Kaget bercampur senang, cincin Papa di foto bisa kuambil. Esoknya foto Papa memegang kertas yang tertulis : Udah dikasih warisan masih nyolong, dasar maruk!

Kembaran. Pacarku menangis tersedu melihat foto mesranya denganku di dompet.  Akhirnya ia tersadar jika telah kuselingkuhi kembarannya.

Tetap Mesra. Hari ini tahun kelima melayat ke pusara Papa Mama. Seperti biasa, tak didapati foto mereka di makam karena sedang bermesraan entah di mana.

Foto Nakal. Pose artis itu akan makin menggoda.  Semua tergantung colekan dan sentuhan pria di foto syurnya.

Nasib Apel Impor. Dilihat fotonya yang gagah merah meranum di reklame mini market.  Ia pun marah telah terbang jauh hanya untuk mengisut dan membusuk di keranjang. Continue reading

Kumpulan Fiksi Miniku 1

Tentang Oneng

Oneng & KTP
Oneng membawa foto postcard untuk ktp baru.
Pak RT : Fotonya kegedean!
Oneng pulang dan kembali dengan foto balita.
Pak RT : Fotonya…??! Kekecilan!??!
Oneng bete.

Oneng & Bank
Oneng senang jadi kasir kantoran.  Suatu hari ia ditugaskan ke Bank.
Bankir : Formulir ditandatangan dan dicap ya, Bu.
Oneng manggut-manggut.  Esok hari Oneng menyerahkan formulir lengkap dengan tandatangan dan cap LUNAS!
Bankir : Hmmmm…

Oneng & Mani Padi
Pelanggan salon Oneng sebal bukan kepalang.Oneng : Kan sudah ditulis tidak terima mani padi di atas jam 5 sore.
Pelanggan : Kenapa sih?!
Oneng : Ihhh.. situ gimana sih!  Gak boleh potong kuku malem-malem tahuuu! Continue reading

Cerpen : Salimasokis

“Yurrr… Sayurrr!”

Matahari belum turun, namun suara Mas Salim sudah mengalun.  Rombongan ibu-ibu datang berduyun-duyun.  Dari yang ibu muda, ibu tua, dan ibu paruh baya semua berkerumun.

Begitulah sobat Mas Salim, si tukang sayur di perumahan elit itu, sebagian besar sudah jelas wanita.  Dari wanita yang ngos-ngosan sehabis olahraga pagi hingga wanita yang masih menggunakan daster dengan rambut penuh roll. Dari wanita yang mengenakan jilbab miring-miring dengan bawahan yang tidak sesuai dengan warna jilbabnya hingga wanita yang menggunakan pakaian ala kadarnya daripada disebut tidak berpakaian.

Yang jelas Mas Salim tidak pernah mengeluh walaupun ibu-ibu belum mandi dan gosok gigi.  Baginya, mereka berbau wangi sewangi isi dompet yang mereka genggam.  Baginya, mereka tetap secantik bidadari walaupun mata masih belekan.  Baginya, mereka tetap anggun dengan bau mulut naganya.

Untuk membaca cerita lengkap silakan klik tautan di bawah ini

Cerpen : Salimasokis

Posted using ShareThis

Sang Penyembuh Bab 7 : SURATAN TAKDIR KETIGA

Dua bulan ia hidup dalam termenung. Dua bulan ia hidup dalam kesakitan hati. Dua bulan ia menolak semua takdir yang menghampirinya, namun ternyata ia memang bukan manusia yang mampu larut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Ia mencoba bangkit kembali. Hidup harus dilalui jika memang belum saatnya untuk mati. Semua harus diawali kembali dengan bersahabat dengan mereka yang selama ini diasingkannya. Ia harus kembali bersahabat dengan jalan hidup yang diharapkan dapat berpihak kembali padanya.

Dua bulan sepeninggalan Michi, Geya bagaikan manusia abnormal yang dihantui oleh kegagalan. Kegagalan mempertahankan buah hatinya, sekaligus kegagalan mempertahankan profesinya. Ia memilih untuk menerimanya.

Baca selanjutnya di
Kata-kata Bermakna dalam Cerita: 8/30/09 – 9/6/09

Shared via AddThis

SANG PENYEMBUH BAB 6 : PERSETERUAN (MENYIBAK TRAUMA 2)

Bila ia dulu sering menganggap orang yang berbicara dengan tanaman adalah orang yang rada gila, ternyata sekarang dilakoninya. Ternyata mengasyikan. Sejak Geya mencoba berkebun, ia hanya berharap mengisi waktu luang, lagipula ia tidak memiliki penghasilan, dengan berkebun ia tidak harus berbelanja terlalu banyak. Namun sejak tekadnya bulat untuk membuat apotek hidup, ia semakin getol menanam apa yang bermanfaat kelak.

Geya akan melonjak riang dan spontan mengucapkan,
“Wahhhh… kamu sudah besarrrr!” kepada tanaman-tanamannya yang berbuah. Atau bertanya-tanya,
“Ealahhh… kenapa daun kamu kok pada kering yaaa??” jika beberapa tanamannya ada gejala sakit. Geya akan semakin lama memandang hasil pertumbuhan bibit yang ditanamnya sebagai bentuk menjiwai tujuannya kelak untuk penduduk di desa ini.

Kelanjutannya dapat dibaca di sini

SANG PENYEMBUH BAB 6 : PERSETERUAN (MENYIBAK TRAUMA 2)

Posted using ShareThis

SANG PENYEMBUH : BAB 5 MENYIBAK TRAUMA

Sudah bulan ketiga di mana Geya tinggal di desa Tulung Harapan. Luka-luka yang dideritanya sudah semakin jauh membaik. Jalannya sudah tidak terpincang-pincang. Para penduduk sekitar yang senantiasa merawatnya agar sembuh dari kecelakaan kendaraan yang hampir merenggut nyawanya. Termasuk juga dokter Hendra yang ada di desa itu tak pernah letih menunggunya.

Geya diselamatkan oleh penduduk saat mobilnya terbalik dan berguling-guling. Kakinya yang tergencet akhirnya patah. Ditemukan dalam kondisi tidak sadar dan akhirnya dibawa oleh mobil puskesmas yang dipanggil oleh penduduk. Lamat-lamat diingatnya ketika ia sadar, ia hanya dapat berteriak-teriak,

“Biarrr… sudah jangan tolong!! Biarkan aku mati! Kenapa kalian bawa aku di sini?? Di mana ini?? Lepaskan… aku mau mati saja… mati…!!” jerit Geya sambil menahan sakit kaki yang ternyata sudah dioperasi. Saat ia bangun baru disadari jika ia tidak dapat berjalan. Badannya lemas seketika hendak jatuh. Dan akhirnya menangis sejadi-jadinya.

Kelanjutannya dapat dibaca di sini

SANG PENYEMBUH : BAB 5 MENYIBAK TRAUMA

Posted using ShareThis