Kumpulan Fiksi Miniku 2

Mari Membahas Tentang Potret

Nyata. Kaget bercampur senang, cincin Papa di foto bisa kuambil. Esoknya foto Papa memegang kertas yang tertulis : Udah dikasih warisan masih nyolong, dasar maruk!

Kembaran. Pacarku menangis tersedu melihat foto mesranya denganku di dompet.  Akhirnya ia tersadar jika telah kuselingkuhi kembarannya.

Tetap Mesra. Hari ini tahun kelima melayat ke pusara Papa Mama. Seperti biasa, tak didapati foto mereka di makam karena sedang bermesraan entah di mana.

Foto Nakal. Pose artis itu akan makin menggoda.  Semua tergantung colekan dan sentuhan pria di foto syurnya.

Nasib Apel Impor. Dilihat fotonya yang gagah merah meranum di reklame mini market.  Ia pun marah telah terbang jauh hanya untuk mengisut dan membusuk di keranjang. Continue reading

Kumpulan Fiksi Miniku 1

Tentang Oneng

Oneng & KTP
Oneng membawa foto postcard untuk ktp baru.
Pak RT : Fotonya kegedean!
Oneng pulang dan kembali dengan foto balita.
Pak RT : Fotonya…??! Kekecilan!??!
Oneng bete.

Oneng & Bank
Oneng senang jadi kasir kantoran.  Suatu hari ia ditugaskan ke Bank.
Bankir : Formulir ditandatangan dan dicap ya, Bu.
Oneng manggut-manggut.  Esok hari Oneng menyerahkan formulir lengkap dengan tandatangan dan cap LUNAS!
Bankir : Hmmmm…

Oneng & Mani Padi
Pelanggan salon Oneng sebal bukan kepalang.Oneng : Kan sudah ditulis tidak terima mani padi di atas jam 5 sore.
Pelanggan : Kenapa sih?!
Oneng : Ihhh.. situ gimana sih!  Gak boleh potong kuku malem-malem tahuuu! Continue reading

Buku Cemilan : Buku Cerita Milik Anda (E-book Kumcer 2)

Sekali lagi, cerpen-cerpen saya satukan dalam sebuah E-Book kumpulan cerpen.  E-Book ini saya beri judul : Buku Cemilan (Buku Cerita Milik Anda).

Setelah merilis SUMPIT sebagai e-book / buku elektronik kumpulan cerita pendek yang pertama, saya bersyukur kembali dapat membuat kumpulan cerita pendek yang kedua.

Pada awalnya saya tidak ingin ribet jadi ingin menggunakan nama SUMPIT KE-2 saja.  Tetapi berhubung foto yang saya jadikan kaver buku elektronik yang merupakan karya Indriyani Veichin ini selalu mengusik saya, akhirnya diri saya bersepakat untuk merilis dengan nama BUKU CEMILAN. Continue reading

Cerpen : Hidung Godfather

hidung godfather

foto : Hugh Kretschmer
dipinjam dari gettyimages.com

Dia, bertubuh gempal, berkumis tipis.

Dia, yang sepuluh tahun lalu hanya seorang petugas keamanan di perumahan elit kawasan Pondok Indah. Dia yang semula hanya nebeng di rumah kampung mertua indah, lalu mencoba sewa rumah gubuk derita bawah jembatan tol yang akhirnya digusur. Namun seiring naiknya pamor sebagai satpam, ia dapat mengontrak rumah bedeng. Lalu tiga tahun terakhir ini sudah mampu ngontrak rumah sederhana di kawasan Kebayoran.

Dia, bertubuh gempal, berkumis tipis.

Orang memanggilnya sebagai Mas Wawan. Terlalu panjang bila dipanggil Kurniawan, nama aslinya. Nama itu pun baru mencuat di kawasan perumahan Pondok Indah setelah kemenangannya memukul maling di perumahan itu. Ya, sejak itu dia mulai disegani. Dulu? Boro-boro! Selalu senior-senior yang dapat jatah istirahat yang banyak. Tetua satpam selalu dapat seseran yang menggiurkan. Ia hanya sesekali dapat uang rokok bila ia sedang sendirian menjaga portal tatkala matahari baru akan menyembul. Continue reading

Cerpen : Balerina Resah

Cerpen ini sudah dimuat di majalah Story No. 6, edisi Desember 2009

Ia mematut dirinya.  Pantulan dari kaca didominasi warna broken white dari gaunnya.  Penutup kaki jenjang yang dikaguminya juga berwarna putih.  Tangannya yang berhiaskan gelang bunga-bunga kuning dilambai-lambaikan seakan-akan ia adalah pemenang Miss Universe tahun ini.  Kemudian ia menjinjit-jinjit mendekati cermin sebesar tinggi badannya itu, hingga yang terpantul hanya separuh badannya.  Dipatut wajahnya sekali lagi.  Diusahakan untuk tersenyum…

Riasan mata yang sempurna, merah pipi yang sempurna, lapisan bibir yang glossy itu pun sempurna…  Semua nyaris sempurna sampai dirinya melihat dahi yang sudah lebar menjadi semakin lebar akibat rambutnya yang harus dicepol sehingga dahinya tak berponi.

Baca selanjutnya di tautan bawah ini

via http://fiksi.femikhirana.com/archives/113.

Cerpen : Balerina Resah

balerina resah

Dimuat di Majalah Story edisi 6, Desember 2009

Mengisahkan seorang remaja bernama Ita yang selalu merasa minder dengan tubuhnya.  Di luar sangkaannya, ia ternyata memiliki bakat sebagai seorang balerina.  Walau pesimis karena merasa tidak cantik, Ita akhirnya berusaha percaya dengan kata Kak Martin, instrukturnya, bahwa ia adalah penari yang bagus.  Akhirnya dengan tubuh chubby-nya dan konflik dalam batinnya, ia berusaha menari dengan segenap kemampuannya bersama dengan teman-teman yang sekaligus adalah saingannya!

Terserah bila ada yang mengatakan posting ini narsis dan norak (emang iya kali ya) hahaha…

Yang jelas setelah sekian lama hanya ngotot mengandalkan media blog sebagai bahan berekspresi, akhirnya saya diberi kesempatan lagi untuk menyalurkan tulisan ke media cetak.  Terima kasih untuk rekan-rekan yang sudah membaca tulisan saya di blog, facebook, dan sekarang di majalah.  You all are my motivators :)

Cerpen : Desember Tersenyum

“Papi, next week kita ke Semarang?” tanya Peter penuh harap.
“Iya…” jawabku.
“Greattt! Kita ke rumah Grandpa yaaa!” ajak Peter lagi. Ini sudah yang kesekiankalinya Peter mengingatkanku untuk ketemu kakeknya.
“Iya… Kalau Grandpa ada di Semarang,”
“Pasti ada! I will make a phone call to him! Peter akan minta Grandpa ikut kita Natalan di sana” kata Peter yakin.
“Iya… But you must remember, Peter…” belum sempat kuselesaikan kalimatku, Peter sudah menimpali,
“Iyaaa… Peter tidak akan minta hadiah Natal dari Grandpa. Peter hanya mau kumpul sama Grandpa waktu malam Natal. In this country, every people celebrate the Christmas with their family. Itu buat Peter jadi kangen Grandpa. Sudah lama kita tidak ketemu Grandpa.”

Kisah selanjutnya silakan baca di tautan bawah ini

http://fiksi.femikhirana.com/archives/101.