Anak-anakku (2)

Tulisan ini sambungan dari Anak-anakku (1)

Berjualan makanan tidak pernah jadi rencana dari kecil, mengingat saya bisa masak saja ketika anak pertama saya sudah menginjak usia 6 bulanan.  Namun setelah bisa memasak akhirnya tertantang juga untuk terjun ke bisnis makanan.

Walaupun tidak mudah pastinya, saya dan suami saya memberanikan diri juga untuk jualan ayam goreng kremes dan ayam bakar.  Persiapan tersebutlah yang membuat saya mengistilahkan jika saya sedang mempersiapkan ‘anak’ yang lahir dengan nama AYAM GO-KAR (GOreng, baKAR & KARi).


Awalnya kita mencoba lokasi yang dekat dengan rumah, tetapi akhirnya kami memutuskan untuk tempat yang lebih ramai yaitu di pusat jualan makanan di area Citra Garden 2, depan Citra Niaga, bersebelahan dengan Dunkin Donat (Cengkareng)  Mangkallah gerobak plus etalase Ayam Gokar di sana dengan spesialisasi menu : ayam goreng kremes, ayam bakar, ayam kari, tahu tempe (goreng dan bakar), dan urap. Ngiler gak? Hehehehe… Continue reading

Percakapan Gaban dan Voltus

Gaban dan Voltus adalah sahabat.  Di suatu senja yang indah mereka berbincang-bincang santai di teras rumah Voltus setelah sekian lama mereka tidak bertemu karena kesibukan masing-masing.

Gaban    :  Kegiatan lu apa sekarang, Tus?
Voltus    :  Ya begini-begini aja.  Kerjaan di kantor lagi sepi jadi rada nyantai.
Gaban    :  Cari kegiatan dong, cari tambahan.
Voltus    :  Wah, kalo gue ada duit banyak sih, gue udah bisnis sendiri aja.
Gaban    :  Loh, salah kaleee!  Kalo lu udah ada duit banyak ngapain bisnis lagi?
Voltus  :  Heh?
Gaban    :  Justru kalo kita mau bisnis ya karena cari duit kan?
Voltus  :  Iya yah…  Kalo udah ada duit banyak ngapain gua kerja sendiri ya?
Gaban    :  Huahuahuahua…

baca lanjutannya dengan klik tautan di bawah ini

Percakapan Gaban dan Voltus : : Smooth Marketing.

Wirausaha Sejak Dini

Tanggal 27 Agustus 2010 kemarin, SMP Citra Kasih yang kebetulan lokasinya persis di depan rumah saya mengadakan acara yang membuat saya salut.  Para siswa menerima jasa cuci mobil, cuci motor, cuci sepeda, dan juga buka lapak di halaman sekolah.  Pendapatan dari semuanya untuk disumbangkan.

Kalau di-googling memang sekolah ini punya kurikulum entrepreneurship kepada siswanya.  Tapi ternyata kurikulum bukan sekadar diajarkan secara teori semata, justru harus dipraktikan!  Alhasil para siswa bekerja sendiri dari persiapan, promosi, hingga mengerjakan jasa itu sendiri.

Lanjutannya dapat dibaca DI SINI

(Tulisan ini terdiri dari banyak foto.  Bagi yang tidak menggunakan akses internet broadband unlimited, perhatikan pemakaian bandwith Anda)

Sudah Tepatkah Kalimatnya?

Waktu kuliah saya pernah diceritakan oleh salah seorang dosen Prilaku Konsumen di Fakultas tempat saya kuliah tentang pengalamannya menyeleksi slogan-slogan yang akan dipasang oleh Polantas di jalan raya.

Beliau pernah mengoreksi sebuah kalimat yang kurang lebih isinya adalah : ‘Ingat keluarga yang ada di rumah! ‘ menjadi ‘Ingatlah anak-anak yang ada di rumah!’ pada satu kalimat billboard yang rencananya ingin dipasang agar pengguna kendaraan beroda untuk hati-hati di jalan raya. Beliau juga mengatakan bila humas Polantas bingung dengan slogan yang dianggap kurang tepat oleh dosen saya itu. Dosen saya pun menerangkan bila,
“Biasanya kalau sudah berkeluarga dan punya anak, kadar sayang dan ingat anak itu lebih tinggi daripada kepada suami atau istrinya. Jadi kalau ingin menimbulkan ‘rasa hati-hati’ lebih tepat menggunakan kata anak-anak sebagai alasan orang untuk berhati-hati di jalan.”

Selengkapnya dapat dibaca dengan klik tautan berikut ini :

Sudah Tepatkah Kalimatnya? : : Smooth Marketing.

Pelajaran dari Dragon’s Den

Dari sekian banyak acara di televisi (tv kabel) ada satu yang selalu jadi favorit saya, yaitu Dragon’s Den yang disiarkan di BBC Knowlegde.  Ini bukan sinetron, film seri, tapi semacam kontes.  Tapi kontes juga bukan kontes ala idol-idol atau buat dapat pacar.  Ini kontes untuk dapat puluhan ribu Pound Sterling untuk mengembangkan usaha.

Jadi alkisah terdapat lima milyuner yang sudah kampiun dalam usahanya masing-masing akan mencoba untuk berinvestasi ke usaha-usaha yang dipresentasikan oleh wirausahawan atau calon wirausahawan.  Uang yang diminta sudah ditentukan oleh calon pengusaha yang akan presentasi, termasuk persentase pembagian keuntungan untuk pada Dragons yang berminat juga ditentukan oleh calon pengusaha.

Nah, serunya justru di sesi presentasi ini.  Ada yang produknya udah kereeennn banget, tapi setelah ditanya sana-sini calon pengusaha malah ketahuan bohongnya karena belum pernah mencoba menjual sendiri.  Jadi asumsi milyuner adalah, “Lah lu sendiri aja belum usaha, belum tahu gambaran nih produk bisa selaku apa, gak ada data untuk menunjang kenapa lu minta duit gua segini!” Akhirnya si calon pengusaha tidak mendapatkan uang sepeserpun.

baca lanjutannya di sini

http://smoothmarketing.femikhirana.com/?p=91.

Menjual ‘DIRI’ Penjual

Seringkali saya prihatin melihat orang-orang yang sudah bersusah payah menyebarkan informasi (iklan) di berbagai jalur komunikasi dunia maya seperti email, facebook, milis, forum.  Tetapi alih-alih mendapatkan respon, terkadang malah menuai cibiran.  Belum lagi kalau dianggap sebagai spam dan diblok oleh pembaca.  Boleh saja Anda dan saya sebagai pengiklan bertebal muka dan telinga, tapi buat apa?  Adakah orang yang akan membaca iklan dari orang yang sudah dicap sebagai ‘seorang pengganggu’?  Usaha menyebarkan informasi tanpa dibaca adalah usaha menjaring angin dan menuai badai.

Seringkali juga tidak terpikirkan oleh pengiklan bila iklan yang di-posting di media atau jejaring sosial cenderung klise dan umum.  Dengan kata lain, bila kita mencoba mengiklankan produk baju, kita sering tidak ‘ngeh’ bila ada beratus-ratus orang yang juga mengiklankan produk yang sama (di media yang sama lagi!).  Berapa banyak orang yang sama-sama beriklan tentang : jualan buku, MLM, tas, bedcover, mobil, beras, arisan berantai, makanan, asuransi dan produk-produk lainnya?  Lalu bagaimana agar informasi klise, umum, dan terkadang out of date (basi, usang, bekas) dibaca sebagai sesuatu yang berharga?

http://smoothmarketing.femikhirana.com/?p=62.

Smooth Marketing : Personal Inbox

Menjamurnya fasilitas teknologi komunikasi yang canggih kerap kali membuat kita merasa mudah untuk mengirimkan pesan-pesan secara massal.  Bila promosi konvensional mengandalkan promosi massal dengan brosur, poster, iklan tv, dan sebagainya, maka sekarang kita dimanjakan dengan email, sms, mailbox jejaring sosial, blog adalah hal yang sangat efektif untuk memberikan informasi secara bersamaan kepada komunitas.

Mari kita coba ingat-ingat kembali, bagaimana perlakuan kita terhadap pesan massal yang masuk dalam inbox kita (sms, email atau apa sajalah) ?  Berapa banyak inbox yang akhirnya kita simpan dalam ‘inbox’ otak kita?  Anda tentu akan terkejut dengan jawaban Anda sendiri.

selanjutanya dapat dibaca di tautan bawah ini :

http://smoothmarketing.femikhirana.com/?p=57.