Tipikal Tembok Versus Tipikal Busa

Apakah Anda orang tua tipikal tembok atau tipikal busa?

Orang tua tipikal tembok adalah orang tua yang (entah sadar atau tidak sadar) selalu melawan pernyataan atau curhat anak.
Biasanya tanpa dipikirkan lagi selalu terlontar kata-kata yang kurang lebih seperti ini :
‘Ah… sudahlah jangan macam-macam pikirannya, bikin repot aja’
‘Emang kamu bisa?’
‘Makanya… sudah dikasih tahu masih dikerjain, ya tanggung sendiri akibatnya’
‘Sudahlah… pasti tidak ada yang mau dehhh…’
Bagaikan bola yang dilempar ke tembok, maka bola itu mental kembali.
Orang tua tipikal tembok, apa yang didengarnya biasanya akan dimentalkan dengan kata-kata yang akhirnya membuat anak yang semangat jadi patah semangat.
Membuat anak yang ingin maju namun orang tuanya sendiri ragu apakah ia bisa maju, sehingga anak merasa berjuang sendiri. Continue reading

Demo Baik-baik?

Terkait dengan masalah BBM, ada banyak yang menyarankan untuk berdemo secara baik-baik, tidak merusak, dan tidak anarkis.  Hmmm… bagaimana yahhh…  Demo yang sudah merusak saja tetap tidak membuat pemerintah bergegas, masih ‘nyantai’, malah bisa tidur sambil sidang.  Kalau mau tidur lebih baik jangan di ruang sidang, pilihlah tidur sebentar di toilet mewah daripada disorot kamera televisi dan semakin meningkatkan kegeraman dari penonton di seluruh Indonesia.  Jadi kira-kira sudah terbayangkah jika  berdemo baik-baik?  Dicuekin?  Iya kali!

Karena saya pernah jadi mahasiswa yang ikut menyaksikan demo reformasi tahun 1998, jadi saya tidak bisa menyalahkan mahasiswa yang demo. Waktu tahun 1998 yang berujung kerusuhan pun bukan gara-gara mahasiswa.  Harus dibedakan antara demo mahasiswa, demo massa, dan demo yang menunggangi mahasiswa. Continue reading

Ketika Putri Menikahi Kodok Namun Tak Jua Menjadi Pangeran Tampan

Mengapa banyak pasangan dalam pernikahan yang berselisih paham karena tidak bisa menerima kondisi & sifat pasangannya?  Mungkin hal itu disebabkan karena terlalu sering membaca / mendengar dongeng : Pangeran Kodok dan Sang Putri.

Versi istri

Yang diharapkan, ketika mencium si kodok lalu bisa berubah menjadi pangeran tampan sesuai dongeng.  Tapi ternyata kodok ya tetap kodok.

Wanita cenderung berharap pasangan bisa berubah ketika sudah menikah.  Itu artinya cinta wanita sebelum menikah bisa memaklumi kondisi mantan pacarnya, tetapi sudah menikah malah menuntut harus berubah jadi pangeran impian.

Pria yang dulunya dekil (tapi kok cinta?) diminta lebih perlente. Continue reading

Kabisat

gambar hasil googling dan ketemu di sini http://blog.eogn.com/eastmans_online_genealogy/2012/02/happy-leap-year-day.html

Seperti biasa, late posting lagi.  Padahal tanggal 29 Februari sudah lewat, tetapi anggap saja gaung tahun kabisat masih terngiang-ngiang.

Tulisan ini pun saya niatkan untuk tayang di blog hanya untuk menjawab rasa penasaran kebanyakan orang tentang ultah saya yang terjadi empat tahun sekali itu.  Ya, banyak yang bertanya karena penasaran bagaimana rasanya ulang tahun hanya 4 tahun sekali.  Mungkin kedengarannya amat menyedihkan karena tidak bisa ulang tahun setiap tahun.  Nah…!  Jangan terkejut dengan jawabannya ya…

Ketika orang bertanya seperti itu, jujur saya juga bingung menjawabnya.  Apalagi kalau melihat mimik kasihan dari orang kepada saya, saya bertambah bingung.  Eh eh… padahal ya setiap tahun orang selalu ingat ulang tahun saya, dan setiap tahun selalu ada yang mengucapkan selamat ulang tahun. Setiap tahun pun selalu ada yang kasih kado.  Yang mengucapkannya pun semakin bertambah banyak setiap tahunnya seiring meningkatnya jumlah-jumlah teman dari segala penjuru.  Jadi kenapa saya harus merasa tidak beruntung dan harus dikasihani?  Continue reading

Are You a Baby?

Kamu tuh sudah besar…!’ kata orang tua kepada anaknya kalau melihat anaknya bandel dan terkesan seperti anak kecil yang semua perlu dipaksa dan dibantu orang tua.

Tetapi kalau anak itu merasa sudah besar dan ingin berlaku seperti orang yang lebih besar darinya, maka : ‘Kamu tuh masih kecil…!

Lucu juga ya jadinya.  Sekejap anak bisa jadi besar dan kecil hahaha…  Seringkali kalimat seperti itu terngiang dan hendak dilontarkan dari mulut saya juga jika melihat anak pertama, Pepe mulai beraksi.  Tetapi saya seketika juga sadar kalau kalimat itu juga tidak kreatif karena terkesan old fashion dan hanya sekadar asal ucap untuk ngomel. Continue reading

Aku Presiden Gagal

Dulu zaman saya abege ada sosok boneka cantik nan lucu pintar menyanyi yang disuarakan oleh Ria Enes.  Ya… yang sezaman dengan saya pasti tahu namanya, Susan!  Lagu yang paling saya ingat dari si Susan kecil berlogat Jawa itu adalah Cita-citaku.  Nah waktu dia menyanyi dengan lengkingan lucunya pada bait : ‘cita-citaaaa… ingin jadi presidennn…’ sebenarnya sempat membuat saya salut sama anak-anak kecil yang kalau ditanya cita-citanya apa, jawabannya : presidennn!

Sejak kecil saya tidak pernah bercita-cita jadi presiden tuh…  Soalnya saya merasa itu bukan cita-cita yang normal alias ketinggian buat saya hahaha…  Saya lebih berani bercita-cita jadi biarawati deh daripada jadi presiden.  Kenapa?  Jadi presiden itu bagi saya ribet dan bukan posisi enak.  Pastinya tidak enak jadi orang nomor satu di mana-mana termasuk nomor satu paling sering disorot masyarakat.  Harus bisa mengayomi rakyat, harus bisa jadi teladan, harus bisa menahan tekanan dari lawan.  Apa enaknya kan?  Oh ya yang saya maksud itu jadi presiden Indonesia, bukan presiden direktur.  Kalau jadi presiden direktur sih sudah pernah, wong bikin usaha sendiri ya otomatis mengangkat diri jadi presiden dengan suara bulat.  Continue reading