Kekirian

Saya kidal.  Selama blogging, belum pernah saya curhat mengenai kidalisme (jangan buka kamus KBBI, karena memang tidak ada).  Lalu daripada di catatan hidup saya tidak pernah membahas tentang kebiasaan saya sehari-hari ini, maka saya pun berniat menuliskannya.

Jujur, saya sendiri tidak pernah merasa kidal itu suatu kelainan.  Saya bangga saja, tidak pernah minder tentang kekirian saya. Yang merasa kidal itu berbeda justru mereka yang dominasi menggunakan tangan kanan dalam beraktivitas.  Di rumah saya tidak menemui perlakuan beda jelas, tetapi tidak di sekolah.  Untung saja saya masih menulis dengan tangan kanan karena dibiasakan dari kecil, jadi ‘perlakuan’ yang berbeda ke saya agak menurun dibandingkan mereka yang tidak bisa menulis dengan tangan kanan. 

Di sekolah, saya rasanya tidak mengalami bullying akibat menjadi seorang kidal.  Teman-teman seusia saya walaupun merasa bingung karena saya kidal tetap merasa saya normal saja.  Yang justru agak mendiskreditkan kidal justru beberapa pengajar yang kerepotan jika bertemu anak kidal.  Saya secara tidak langsung suka bikin heboh kalau pelajaran olahraga dan prakarya.

Dalam berolahraga saya kidal murni.  Dari bulutangkis, lempar lembing, lontar martil, pegang tongkat estafet, servis bola voli, dan lain-lain.  Kalau biasanya teman-teman berbaris di kiri agar tidak terkena lemparan lembing atau martil, lalu waktu giliran saya???  Ya, anda bisa bayangkan sendiri hehehe…  Waktu bola voli pun saya harus servis dari sebelah kiri lapangan.  Jika tidak ya bolanya keluar terusss atuhhh…!    Yang lucu kalau lagi jadwal main kasti dari guru olahraga.  Ketika saya yang harus memukul bola, pelempar bola harus pindah tempat.  Jadi tempat yang biasa untuk melempar bola adalah tempat saya memukul bola, demikian sebaliknya.   Gurunya rada membuat saya kesal waktu itu, karena kelihatan sekali kalau beliau bukannya memaklumi malah terkesan mengejek karena saya beda sendiri.

Nah, itu tadi olahraga.  Bagaimana dengan prakarya?  Saya beberapa kali jadi murid mandiri karena tidak ada guru yang bisa mengajarkan secara langsung ke saya cara menjahit, merajut, menyulam, memotong dengan cutter, dan lain sebagainya.  Waktu SD, tangan siswa biasanya dipegang guru untuk belajar merajut, agar dia tahu langkah-langkahnya.  Tetapi kalau saya jelas tidak bisa!  Saya juga ogah pakai tangan kanan karena pasti tambah parah hasilnya alias tidak akan jadi sama sekali karena sudah disorientasi untuk saya. Jadi guru hanya mampu menunjukkan ke saya caranya, lalu arahnya saya sesuaikan sendiri dengan kekirian saya.  Jika orang menjahit ke arah kiri, saya sebaliknya.

Banyak komentar yang sudah saya terima tentang kekirian saya, dari :

  • Orang kidal lebih jago bahasa daripada matematika karena didominasi otak kanan.
  • Tapi ada juga yang bilang kalau kekidalan saya membuat saya pintar dan jago eksak (ini orang memang belum pernah melihat rapor sekolah saya sih hihihi…).
  • Orang kidal memiliki daya khayal dan seni yang tinggi dan bagus.
  • Orang kidal jorok karena cebok pakai tangan kanan padahal tangan kanan untuk pegang (sendok) makanan.  Apa hubunganya ya?  Oh… hubungannya itu karena tangan kiri itu bukan tangan manis.
  • Orang kidal itu pintar dan keren.

Ya segitu sajalah, karena komentar di luar itu belum pernah saya terima.  Nah, sekarang saya pun ingin memberi pernyataan jika semua komentar di atas adalah hoax semata.  Mari saya beberkan kenyataan yang terjadi sesungguhnya, bukan dengan cara ilmiah tetapi cukup dengan realitas yang terjadi saja.

Orang kidal lebih jago bahasa daripada matematika, karena didominasi otak kanan. Anehnya banyak orang berpengaruh atau juga peneliti abal-abal yang mengamini teori di atas itu. Komentar ini mungkin cocok bagi saya, namun tidak adil bagi teman saya yang juga kidal tetapi pintar fisika dan matematika (asli loh… bukan pintar karena kursus kiri kanan).  Jadi mau ngomong otak kiri orang kidal kurang berfungsi???  Hanya orang yang kena penyakit dan malas yang otaknya tidak berfungsi.  Selama manusia hidup, mau otak kiri atau kanan semua bisa sejalan seimbang.  Tinggal minat orangnya saja yang mengarahkan kesukaannya untuk belajar subjek tertentu.  Kalau ternyata lebih minat ke ilmu sosial sehingga tidak terlalu memberi waktu untuk belajar eksakta maka hasilnya pun akan membuat dirinya lebih menguasai ilmu sosial.  Tetapi bukan berarti dia jadi tidak pandai matematika loh!  Kalau sampai ngomong otak kanan terus yang mendominasi, nanti bisa dimarahin Albert Einstein yang kidal tapi jagoan eksakta.

Nah, yang mengatakan orang kidal jago eksak jelas juga gak beres.  Itu cocok bagi Albert Einstein atau Bill Gates yang juga kidal, tetapi tidak cocok bagi saya, Angelina Jolie, dan Barack Obama (ya sekali-sekali menyamakan diri dengan orang ngetop gak salah kannn…).  Penjelasan tentang ini silakan baca alinea di atas ini sekali lagi.

Orang kidal punya daya khayal dan seni yang bagus.  Sebagai orang kidal, saya tersandung eh tersanjung.  Saya memang suka mengkhayal dan berimajinasi, sampai-sampai guru matematika waktu SD kebakaran rambut (karena guru cewe, gak ada jenggot) melihat cara saya menjawab soal dengan rumus saya sendiri hihihi…  Tetapi lagi-lagi, tidak adil bagi mereka yang pengguna tangan kanan yang memiliki daya khayal dan seninya tidak kalah bagus.  Cerpenis dan novelis ngetop tetap didominasi orang kanan (kalau disebut kadal kan gimana gitu…) daripada orang kidal.  Jelas, memiliki daya seni yang baik bukan dipengaruhi kidal atau tidak, tetapi banyak faktor yang menyebabkan orang memiliki kemampuan itu.

Orang kidal jorok karena cebok pakai tangan kanan.  Lalu tangan kanan kan buat bersalaman dengan orang, juga buat makan.  Logika aneh bagi mereka yang terlalu kanan!  Jelas lebih jorok mereka yang cebok pakai tangan kiri, tetapi habis cebok tidak pakai sabun untuk membersihkan tangan kirinya.  Lalu jelas juga lebih jorok kalau tangan kanan yang lagi kotor tapi langsung makan (walaupun makannya pegang sendok).  Jika tangan kanan kita basah sehabis dicuci tetapi belum kering sudah diajak salaman pun juga rasanya jorok kan…  Saya sendiri sering meminta maaf jika tangan saya masih basah karena habis nyuci tangan di toilet (konotasinya habis buang air kecil atau besar) lalu diajak bersalaman.  Jika yang mengajak salaman mengatakan : tidak apa-apa, barulah saya bersalaman.

Istilah tangan manis dan tangan tidak manis pun istilah mereka yang terlalu kanan.  Karena memang rasa tangan tidak manis.  Kelakuan tangan kanan pun tidak selalu manis.  Istilah tangan manis hanya untuk mempermudah anak untuk mengerti metafora tentang kesopanan yang ada pada lingkungan, namun bukan berarti kita lalu mengajarkan bila tangan kiri adalah tangan yang pahit, tidak manis, jorok, dan istilah aneh-aneh yang mendiskreditkan tangan kiri.  Semua manusia tidak ada yang mau kehilangan tangan kiri kan? Hehehe…

Orang kidal itu pintar dan keren.  Ini juga mitos dan juga hoax walaupun saya senang-senang saja jika ada yang berkata seperti itu kepada saya.  Rasanya kesimpulan orang kidal lebih pintar itu karena kemampuan adaptasi si kidal yang memang tinggal di dunia ini yang mayoritas pengguna tangan kanan (88% penduduk dunia adalah aliran kanan).  Karena memang termasuk minoritas maka si kidal memang harus menyesuaikan diri agar tidak terjadi kesulitan bagi dirinya.  Termasuk saya yang akhirnya bisa menulis dengan tangan kanan, makan dengan memakai sendok di tangan kanan, bersalaman dengan tangan kanan sampai semua kegiatan yang ber-kanan itu menjadi sesuatu yang spontan pada si kidal.

Kemungkinan besar bila si kidal dapat mengerjakan beberapa hal baik dengan tangan kiri atau tangan kanan juga membuat orang berkesimpulan pintar, padahal hal tersebut dapat dilakukan hanya dengan berlatih.  Seperti saya ketika bermain bilyar menggunakan tangan kiri, tetapi ketika mendapat bola sulit maka daripada saya nungging tidak keruan lebih baik saya menggunakan tangan kanan sebagaimana pemain lainnya.  Yang lebih gila adalah guru Matematika saya waktu SMA, beliau juga kidal tetapi bisa menulis dengan tangan kanan juga.  Ya, saya juga bisa menulis dengan tangan kiri, tetapi tidak sehebat guru saya ini yang bisa menulis dengan kedua tangan secara berbarengan dan kedua tulisan bisa berbeda isinya!!!  Coba saja deh kalian menulis dengan tangan kanan dan kiri secara berbarengan, pasti isi tulisannya sama.  Kalau tangan kanan menulis angka 1, maka otomatis kiri juga begitu.  Tapi guru saya tidak, beliau dapat menuliskan dua soal sekaligus dengan kedua tangannya.

Namun kemampuan ini bukan hanya ada pada si kidal loh!  Anda juga bisa menggunakan motorik kiri kanan jika berlatih dan menjadi kebiasaan.  Sama seperti mereka yang mengalami cacat patah tangan kanan akhirnya harus belajar menggunakan tangan kiri untuk melakukan pekerjaan.  Juga bagi mereka yang tidak punya tangan akhirnya menggunakan kaki sebagai pengganti tangan.  Kita tidak mungkin mengatakan orang cacat lebih pintar, karena tidak ada yang mau jadi orang cacat untuk menjadi pintar.  Tetapi hal yang dapat dipahami di sini adalah, jika terjadi situasi abnormal biasanya manusia yang tangguh akan menjadi lebih cerdas dan pintar karena melatih kemampuan berpikir dan motoriknya lebih keras daripada yang normal.

Jadi kesimpulan akhirnya, tidak membuat saya menjadi lebih aneh atau spesial dari yang lain.  Itu sama saja dengan manusia yang lahir dengan empat jari, atau dua jempol, juga memiliki unyeng-unyeng di kepala sampai dua atau tiga.  Perbedaan yang terlihat hanya gerakan motorik saja, tetapi secara psikologis dan kemampuan menganalisa semua sama dan hanya bisa berkembang jika rajin berlatih.

6 thoughts on “Kekirian

  1. Sampai kelas dua SD, saya kidal. Lalu belajar belajar menggambar pakai tangan kanan setelah melihat Pak Tino Sidin di TVRI hanya menggambar pakai tangan kanan. Sekarang, saya merasa lebih mahir menggambar pakai tangan kanan ketimbang tangan kiri. Saya mengoplos dan menakar kekentalan cat pakai tangan kiri dan menyapukan kuas pakai tangan kanan. Namun setelah saya pikir-pikir, sekarang saya bisa menggunakan kedua tangan untuk bekerja meski beberapa peralatan kerja yang saya gunakan tanpa sadar oleh produsennya diperuntukkan untuk orang kanan.

    Tapi celakanya, karena sudah terbiasa kanan lantaran produsen yang memproduksi perkakas tidak pernah berpikir bahwa 1/3 penduduk bumi adalah kidal (data ini saya baca dulu di majalah Reader Digest, kalo gak salah awal tahun 1990-an), maka tulisan tangan saya menjadi sangat jelek, baik menulis pakai tangan kanan atau kiri. Saking jeleknya, saya kerap tidak bisa membaca lagi apa yang telah saya tulis hehehehehe…

    Lalu ada berbagai anggapan bahwa orang kidal atau yang bisa menggunakan dua sisi badannya secara seimbang untuk beraktivitas lebih pintar daripada orang yang kinerja motoriknya berorientasi kanan. Saya berkesimpulan bahwa “keunggulan” orang kidal dan yang bisa kidal-kanan lantaran mereka terlatih untuk mengatasi persoalan terhadap barang-barang yang berorientasi kanan. Artinya, ada beberapa persoalan yang membuat mereka atau kami hehehehe menggunakan potensi kognitif lebih besar daripada penggunaan alamiah oleh kebanyakan orang. Itu tidak berarti bahwa secara alamiah, orang kidal dan kidal-kanan dengan sendirinya unggul daripada orang berorientasi kanan. Saya pikir, ini adalah kebiasaan mengatasi persoalan yang diterima lebih banyak lantaran kidak atau kidal-kanan.

    Namun yang kerap saya perhatikan atas diri saya dan juga orang yang murni kidal, gerakan motoriknya lebih cepat dan tangkas. Pemain bulutangkis (saya contohkan bulutangkis karena inilah satu-satunya olahraga yang bisa saya mainkan) kidal punya kesempatan menang lebih besar ketimbang pemain yang memegang raket pakai tangan kanan dan permainannya lebih cepat ketimbang pemain yang kanan. Karena itu pula, kalau melihat bulutangkis ganda atau ganda campuran, maka pasangan itu akan sangat hebat bila yang satu kidal yang satu kanan. Saya pernah lihat pasangan Korea Selatan, saya lupa nama mereka, yang kidal dan yang kanan. Permainan mereka sangat efektif, cepat dan sulit diprediksi oleh lawan.

    Begitu, kira-kira.

    • Mengutip kalimat Olsy : Artinya, ada beberapa persoalan yang membuat mereka atau kami hehehehe menggunakan potensi kognitif lebih besar daripada penggunaan alamiah oleh kebanyakan orang. Itu tidak berarti bahwa secara alamiah, orang kidal dan kidal-kanan dengan sendirinya unggul daripada orang berorientasi kanan. Saya pikir, ini adalah kebiasaan mengatasi persoalan yang diterima lebih banyak lantaran kidak atau kidal-kanan.

      Berarti kita sama-sama setuju hal tersebut adalah kebiasaan yang harus dihadapi orang kidal sementara kebiasaan ini memang tidak terjadi pada mereka yang berorientasi kanan. Aspek kognitif yang lebih jalan sepertinya benar juga, karena tidak mudah bagi orang kidal berusaha ber-kanan walaupun lama-lama jadi kebiasaan, karena itu sudah menyangkut paradigma otak yang menggerakkan motorik.

      Aku sekarang malah pengin balik lagi mencoba latihan menulis dengan tangan kiri karena walaupun kidal tulisan dengan tangan kiri jauh lebih jelek daripada menulis dengan tangan kanan hehehe…

      • Dalam lingkup subyektif, memang bisa dihipotesiskan keunggunglan orang kidal dan kidal-kanan dengan cara demikian. Dalam lingkup yang lebih luas, kesulitan akan membuat seseorang lebih unggul. Tapi percuma bila dia tidak menanggapi kesulitan itu sebagai sesuatu yang harus diatasi. Orang yang terbiasa menanggapi berbagai kesulitan dan persoalan, akan lebih cerdik (smart) ketimbang orang yang hidupnya lurus-lurus saja dan merasa nyaman di wilayah mapan. Tapi itu bukan berarti bahwa masalah harus dicari-cari agar bisa jadi cerdik. Yang paling penting rupanya, menentukan dan menetapkan apakah suatu hal merupakan masalah atau bukan.

  2. Di sini banyak sekali yang kidal. Entah kenapa mungkin genetik mungkin juga karena bagaimana orang tua membiasakan anaknya.
    Anak-anak di sini jarang yang diharuskan pakai tangan kanan untuk aktivitas ‘baik’ dan tangan kiri untuk yang ‘kotor’ seperti di negara kita. Mungkin karena itu akhirnya anak-anak banyak yang kidal.

    Aku setuju denganmu, tak ada yang istimewa dengan orang kidal ataupun tak kidal. Yang penting aksinya untuk sesama dan kehidupan :)

    Salam!

    • Kalau hasil baca-baca memang penyebab kidal juga terjadi karena faktor genetika. Entah mungkin sel-sel kidal lebih banyak dimiliki bule? Hehehe… Tapi ya gak juga sih, setahuku di beberapa negara Asia juga banyak yang kidal.

  3. saya jg kidal, tapi orang2 yg di sekitar saya menolak perilaku saya. jadi, utk nyembunyiin kekidalan saya, saya jadinya pakai jam tangan di tangan kiri, biar gak ketahuan lo kidalnya, kan orang kanan biasanya pakai jam tangan di tangan kiri. di sekolah jg, semua org kaget waktu tau kalo saya kidal, apalg guru2 di sekolah, karena 2 saudara saya yg lbh tua tangan kanan, hanya sayalah yg kidal. jd mereka nanyain kalo saya ini beneran saudara mereka gak sih? ahaha, tapi saya jago menggambar dan hobi berimajinasi loo, saya jg bangga banget dgn keahlian saya! :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>