Mar 21st

Weekly Motiflection : Masih Dapatkah Kau Percaya?

Hidup memang penuh resiko.  Dan secara tidak sadar sebenarnya manusia itu sendiri adalah makhluk yang sangat berani mengambil resiko.  Dibandingkan makhluk hidup lainnya, hanya manusia yang berani bereksperimen.  Hanya manusia yang berani bersahabat dengan mereka yang jelas-jelas berbeda golongan, berbeda kepercayaan, berbeda hobi, berbeda pandangan.  Dan hanya manusia yang dapat berinteraksi kepada sesamanya tanpa harus kontak langsung (belum pernah melihat hewan saling email-email kan hehehe…).

Lucunya lagi, hanya manusia juga yang paling bisa ngomel bila sedang menghadapi resiko yang dijabaninnya sendiri.  Coba deh kita renungkan, berapa kali kita sudah mengetahui resiko yang akan terjadi dari sebuah keputusan atau peristiwa yang harus kita lalui, tapi tetap saja setelah menghadapinya kita ngomel, sedih, marah, dan yang paling parah putus asa alias sudah malas menanggung resiko.  Nah, malas menanggung resiko itu sebenarnya akibat paling akut dari segala efek resiko kehidupan.  Kenapa?  Ya, karena kalau sudah malas menanggung resiko bukankah identik dengan manusia itu juga malas hidup?  Jelas!

Dari sekian banyak resiko yang harus dihadapi sebenarnya menurut saya, resiko yang terbesar dan bahkan merupakan inti dari segala tindakan manusia itu sendiri adalah : percaya kepada orang.  Bahkan untuk orang yang tidak gampang percaya dengan orang saja harus menghadapi kondisi : percaya kepada orang, atau percaya kepada sesuatu.  Bagi mereka yang tidak percaya Tuhan saja harus bisa belajar percaya dengan orang lain.

Coba saja kalau manusia tidak berani mengambil resiko percaya dengan sesamanya.  Yang jelas tidak akan ada yang namanya persahabatan, rumah tangga, kerja sama, perusahaan.  Semua tindakan kita rata-rata berawal dari percaya itu sendiri.  Ya, walaupun berat resiko untuk percaya dan memegang kepercayaan, toh semua harus melaluinya dan mengalaminya.  Sesakit apapun kita saat dibohongi, kalau kita masih hidup, tetap saja kita selalu dalam proses untuk percaya terhadap apapun yang harus kita percayai.  Walaupun kita sudah berusaha agar tidak asal percaya orang, tetap saja kita harus berhadapan dengan kejadian yang berawal dari kepercayaan.

Lalu saya juga belajar banyak tentang memegang kepercayaan.  Saya pun menyadari bila saya adalah manusia yang ingin dihargai.  Saya ingin menjadi orang yang menghargai hidup dan membuat hidup saya lebih berkualitas.  Oleh sebab itu saya pun harus bisa dapat menjaga kepercayaan itu di pundak saya.

Analoginya seperti sebuah perbankan yang paling banyak menghasilkan pendapatannya dari jasa kredit (credit berasal dari kata credo, yang artinya kepercayaan).  Tanpa menanggung resiko untuk percaya kepada kreditur tentu saja bank tersebut tidak akan memperoleh penghasilan apa-apa.  Yang ada malah mandek.  Jadi saya semakin yakin bahwa dengan percaya sebenarnya akan timbul keberanian untuk melangkah mendapatkan hal yang lebih baik.  Tanpa rasa percaya satu sama lain, saya dan Anda pun tidak dapat bergerak lebih maju.

Dalam beberapa hari ini saya dimelekan mata hati untuk sebuah kasus kepercayaan. Ternyata saya merasakan bila ‘rasa percaya’ itu masih banyak terdapat di hati manusia normal.  Saya sedang dalam usaha menjual buku perdana saya yang berjudul Bingkisan Kata (Motiflection Book Gift Series) melalui media online.  Reaksinya sangat membuat saya takjub.  Respon yang datang justru kebanyakan dari mereka yang sebenarnya belum mengenal saya secara langsung, alias hanya membaca diri saya melalui tulisan-tulisan di notes facebook maupun blog.  Kalau dipikir dengan logika seharusnya saya ini bukan siapa-siapa, perkenalan pun hanya lewat dunia maya.   Jangankan ketemu langsung, nama saya saja mungkin baru terbaca satu kali oleh Anda.  Namun tetap saja ada yang sudah transfer pembayaran duluan sebelum buku terkirim.  Hal itu membuat saya bersyukur bila saya diberikan kepercayaan sedemikian tinggi dari rekan-rekan pembaca.

Memang ternyata semakin maju zaman, tanpa kita sadari semakin tipis pula jarak kecurigaan antar sesama.  Tetapi juga banyak kekecewaan yang kita alami akibat kepercayaan yang diingkari atau dilanggar.  Namun kembali lagi kepada kenyataan hidup adalah resiko, maka saya pun sadar bahwa tidak ada gunanya kapok untuk menjadi percaya. Bagaimanapun kepercayaan adalah inti dari segala tindakan kita sendiri untuk lebih maju.  Tanpa rasa percaya ya mungkin kita akan mandek-mandek saja di sekeliling ketakutan kita.

Saya pun beberapa hari ini juga mengalami peristiwa di mana kepercayaan yang sudah saya tanamkan kepada seseorang, ternyata dianggap angina lalu.  Kecewa?  Pastilah!  Tetapi bersamaan dengan kejadian di mana saya juga diberi kepercayaan oleh teman-teman, saya pun menyadari bila saya melanggar kepercayaan itu, maka kerugian sejatinya ada di pihak saya.  Sayalah yang tidak bisa menjadi manusia yang berguna, tidak bisa memperoleh masa depan yang lebih baik akibat melanggar kepercayaan orang.  Alhasil saya pun dapat menilai ‘orang’ yang sudah melanggar kepercayaan itu memang patut dikasihani, karena mereka tidak dapat menghargai hidupnya sendiri dan tidak dapat meningkatkan kualitas hidup mereka sendiri.

Memahami hal tersebut membuat saya dapat mengelola resiko sakit hati saya agar tidak menjadi berkepanjangan, karena toh jika saya yang memendam amarah berkelanjutan, yang bodoh ya diri saya sendiri.  Mereka yang tidak mampu memegang kepercayaan layaknya memang tidak seharusnya bercokol untuk merusak pikiran kita yang ingin maju akibat memegang sebuah kepercayaan.

Jadi sebenarnya kita hanya perlu mengolah perasaan bagaimana siasat menghadapi resiko diingkar kepercayaan saja. Kita perlu memiliki sikap mawas diri atau waspada terhadap resiko, tetapi bukan berarti kita takut menghadapi resiko untuk percaya kepada orang lain.  Bila memang resiko harus terjadi, maka hal itu harus dihadapi, mau tidak mau!  Saat itulah kita mengeluarkan jurus menyiasati agar kita tidak luka dalam.  Toh sebenarnya kerugian yang sebenarnya itu akan terjadi pada mereka yang melanggar kepercayaan kita.

Ya, sama halnya dengan istilah umum : No risk, no gain, maka tanpa keberanian untuk menghadapi resiko kepercayaan, kita juga tidak akan pernah mendapat apapun.  Sejatinya setiap manusia sudah diberi karunia untuk berani percaya kepada apa yang belum ia lihat.  Percaya kepada rencana orang tua kita, percaya kepada janji teman kita, percaya dengan cinta kekasih kita.  Hal yang sebenarnya sangat abstrak, tetapi mampu membuat kita melangkah hingga saat ini. Dari rasa percaya yang terbentuk sejak lahir itulah kita digiring-Nya untuk percaya pada-Nya yang sudah jelas lebih tak dapat dilihat oleh kasat mata.

Dan apakah percaya kepada-Nya juga memiliki resiko?  Mungkin dapat menjadi renungan kita masing-masing.  Yang jelas segala resiko itu semua mengarah kepada hasil rancangan-Nya yang baik.  Yang jelas Dia juga tidak pernah mengingkari rasa percaya kita.  Pastinya lagi, Ia akan berikan kekuatan untuk mengantisipasi resiko sehingga kita tetap diberi kekuatan untuk percaya pada-Nya bukan malah kapok dengan-Nya.

Saya masih yakin bila semua berawal dari niat baik dan memiliki standar etika yang benar, maka rasa percaya itu adalah satu tindakan berani yang memang beresiko tetapi yang pasti tujuannya untuk memperoleh hasil yang lebih baik.  Jadi, kuatkanlah hati untuk tetap dapat memupuk kepercayaan, khususnya terhadap apa yang kita rasakan dan doakan baik. Hal itu akan membuat kita bertumbuh mendapatkan hasil yang sesuai dengan kualitas-Nya.

Catatan pribadi :

Sekali lagi saya sangat berterima kasih kepada kepercayaan teman-teman yang walaupun belum pernah bertemu apalagi mengenal baik-buruknya diri saya.  Doaku kiranya rasa percaya antara kita membawa hikmah bagi kita semua untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan berbuah lebat bagi-Nya.

Comments

Comments on “Weekly Motiflection : Masih Dapatkah Kau Percaya?”

Susie Syafitri said:

Saya setuju dengan pemikiran Anda dan saya berusaha selalu menerapkannya dalam kehidupan saya.

fekhi said:

@susie : terima kasih :)

DV said:

Wah, jadi BEP nih? Suit-suit suit….
Aku pengen pesen tapi masi di Australia.. piye nih?

fekhi said:

@dv : hehehehe puji Tuhannnn…
ya pesen aja, tapi kirim ke alamat yang di Indonesia aja ya hehehe

Leave a Reply

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes
Copy Protected by Chetan's WP-CopyProtect.