Sinis (Sindiran Manis) : Masih Agrariskah Tanah Airku?

Suatu hari Mbak Sotoy yang pernah mengeluh,

“Beras naik terus yo…!”

Aku jawab,

“Ya… ‘Kan datengin beras dari luar negeri, Mbak”

Dia bingung,

“Iya yah?  Kenapa ya?  Kurang tah sawah di Indonesia?”

Aku jadi mengingat-ingat terus menjawab

Iyo…, kurang!  Wis dadi perumahan kabehhh…!”

Aih… Biasanya si Mbak suka asbun, tapi kali itu buat saya mikir. Kami jadi sedikit berdiskusi bersama dan kali ini nyambung diskusinya, gak pakek acara jadi kesel sendiri gara-gara diajak ‘oon’ bareng.  Bukan menghina, yang bilang ‘oon’ ya si Mbak kepada dirinya sendiri hehehe…

Lanjut dengan percakapan sebelumnya.

“Indonesia ‘kan harusnya negara pertanian ya, kok malah dihilang-hilangin sawahnya,” gumamku bingung.

Iyo yo?!  Yang di desa akhirnya juga ke kota,” sambung Mbak Sotoy.

“Iya jadi supir angkot!”

Iyooo!  Jadi kuli bangunan,” sambung Mbak Sotoy lagi.

“Harusnya sawah ndak boleh dibabat, hutan juga.  Kalau orang mau bikin rumah ya cari tanah kosong.  Kalau pulaunya udah penuh, yo ndak boleh di-jejelin, orang musti pindah cari tempat baru… Biar merata,”  ujarku.

Kalau sudah begitu, Mbak Sotoy sudah tinggal mendengar ocehanku saja.  Mulai rada-rada ndak nyambung soalnya.  Bagi si Mbak yang penting bisa kerja sajalah, daripada dia yang dulu sudah bertani, berkebun, atau beternak tapi gagal.   Sudah gagal, lalu dibarengi juga dengan kapok bertani lagi karena trauma diserang hama, diserang virus ternak, dan entah harus bertindak apa.

Sekarang kita pindah adegan.

Kali ini percakapan antara saya dan suami tatkala di jalan raya.  Seperti biasa, kalau mengendarai mobil harus melawan supir angkot dan supir bis, mulai ocehan-ocehan keluar dari mulutnya.  Daripada bete, ya kita jadikan bahan diskusi lagi.

“Ini supir angkot ngetem sebanyak gini, masak bisa dapet duit???” suamiku menggerutu tapi juga bertanya.

“Ya, gak kali…  Pada kosong gitu…,” aku menduga begitu.

“Terus kalau angkot gak laku, ngapain ada angkot ya?  Kenapa gak busway aja dibanyakin?  Buat apa bikin busway sampai macet-macet kalau tetap kalah sama angkot, sama bis patas yang sembarangan berhenti?” Entah nanya atau protes nih…!

“Iya yah…  Coba busway banyak, terminal dimaksimalin.  Gak perlu angkot.  Di negara ‘peep’ (sensor, biar gak dituduh tidak nasionalis) dan negara ‘beep’ (sensor lagi, pokoknya masih tetangga dekatlah) berhenti di terminal, trus jalan kaki.  Jadi pada olahraga pagi sebelum masuk kerja,” gumamku lagi.

“Di *beeeppp* (ya di salah satu negara di Eropa deh… karena ‘hubby’ pernah melanjutkan studi di sana) juga setelah turun dari bis ya jalan kaki.  Yang naik mobil hanya beberapa, padahal itu negara maju loh…  Tapi gak seribet di sini, gak rebutan ngerasa ‘gue kayak gini juga gara-gara cari duit’  Trus cari duit boleh ganggu rejeki dan waktu orang gitu???” Yahhh… protes lagi…

Akhirnya aku ingat percakapan dengan Mbak Sotoy sebelumnya, dan kurangkai dengan topik pembicaraan kami di jalan tadi.

“Kalau saja sawah banyak, mungkin mereka gak harus terpaksa jadi supir angkot.  Mana nyetir udah gak bisa, denger klakson orang malah memaki.  Sayang yah… Padahal katanya negara agraris, tapi sawah udah nyaris punah,  lahan kerja orang buat wirausaha sudah gak ada.  Mau jadi negara industri juga ternyata nanggung.  Jadinya malah negara yang paling banyak sampah otomotif yang gak guna,” sambungku supaya protes tadi tidak berakhir protes, tetapi berakhir kepada solusi.  (Eitsss…  terus terang perkataan ini saya tambah-tambahin sendiri waktu menuliskan ini hahaha…  Alias waktu bicara lisan ya tidak secerdas ini kalimatnya huhuhu…)

“Kalau saja busway memadai, kita gak perlu pakai mobil pribadi, motor pribadi. Armada transportasi gak perlu berjubelan tanpa penumpang.  Kita cukup pakai sepeda (kabarnya di negara tirai bambu lagi menjamur sepeda listrik, kalau dulu menjamur sepeda tenaga manusia doang…).  Jauh mengurangi polusi.  Selain itu lebih sehat karena mau tidak mau kita olahraga setiap hari,” lanjutku lagi.

Suamiku mengangguk-angguk setuju.  Dia paling senang kalau naik mobil bebas hambatan sih… Alias buat senang-senangan aja sambil melihat pemandangan. Jadi tidak perlu rush dan tidak perlu di-dim orang dari belakang (padahal sudah jalan dengan kecepatan 100km/jam!).  Kalau harus naik kendaraan pribadi setiap hari untuk bekerja???  Hmmm… walaupun jalanan tidak macet juga ogahhh bawa mobil setiap hari. Enakan juga duduk anteng di bis, disetirin hehehe…  Dari segi biaya, tenaga juga lebih efektif.

Tapi cakap-cakap iseng begitu juga tetap serasa sedang berbicara dengan angin.  Siapa yang tersentuh?  Jangan-jangan yang tersentuh ya tetap saja mereka yang tidak mampu berbuat banyak karena segala ide dan saran sudah terkubur.  Semua impian dan nostalgia cita-cita untuk Indonesia kalah dengan ambisi prestasi perseorangan dari pejabat yang duduk di kursi empuk dan lahan basah (dan jadi kebanjiran duit dan bikin becek di mana-mana hehehe…)

Dari cakap-cakap iseng itu saya jadinya kangen dengan situasi Indonesia yang hmmm ahaaa… sering dilantunkan lewat lagu-lagu!  Akhirnya percakapan tadi berbuahkan keisengan mencari sebuah lagu yang pas menggambarkan Indonesia ‘seharusnya’.  Tetapi rasanya semua itu sudah mulai memudar, sulit ditemukan, dan dikhawatirkan menjelang punah.  Semoga masih bisa melihat negara Indonesia di beberapa wilayah sajalah (jika tidak semuanya) seperti kondisi dalam lagu ini :

Pencipta dan Pengarang Lagu / Lirik : Ismail Marzuki

Tanah airku Indonesia
Negeri elok amat kucinta
Tanah tumpah darahku yang mulia
Yang kupuja sepanjang masa

Tanah airku aman dan makmur
Pulau kelapa yang amat subur
Pulau melati pujaan bangsa
Sejak dulu kala

Reff:

Melambai lambai
Nyiur di pantai
Berbisik bisik
Raja Kelana

Memuja pulau
Nan indah permai
Tanah Airku
Indonesia

Ngomong-ngomong : negara agraris itu bukan berarti sawah tanpa sentuhan modernisasi loh ya :) Harusnya kan Indonesia bisa jadi negara hijau membentang dengan internet bebas hambatan dan segala fasilitas canggih lainnya.  Harusnya bisa, ya bisa harusnya.

10 thoughts on “Sinis (Sindiran Manis) : Masih Agrariskah Tanah Airku?

  1. Aku sering banget buka video itu di Youtube kalau pas kangen dengan Indonesia.

    Aku turut prihatin dengan ‘perpindahan identitas’ untuk Indonesia yang semula negara agraris lalu jadi negara tero.. eh, jadi negara modern dan industrialist.

    Harusnya kita berkaca pada luar negeri, betapa di sini dan banyak bagian lain, alam justru ditonjolkan…

  2. beras mahal, soale sawahnya udah jadi mal
    Purbalingga aja udah punya mal
    petani udah bukan profesi
    coba aja tanya, ada anak kecil yang cita2nya jadi petani?
    ;p

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>