Mar 9th

Sinis (Sindiran Manis) : Menulis atau Berdemo?

  • Posted in Sinis
  • Comments 4

To be exist, you have to SPEAK UP! If people can’t hear your voice, you still can WRITE!

Lagi pengen bikin perbandingan saja.

Setuju atau tidak, pendapat masing-masinglah.

Mahasiswa Sebelum Masa Orba memimpin

  1. Banyak yang menguasai minimal dua bahasa dengan lancar (malah biasanya tiga).  Yaitu, Indonesia, Inggris, dan Belanda
  2. Susah payah belajar di tengah tekanan penjajahan negara asing
  3. Berjuang melawan penjajah
  4. Cara perjuangan yang ditempuh : berkongres tetapi mereka banyak melakukan perjuangan lewat TULISAN! (hebatnya lagi : dalam bahasa apapun loh, bukan hanya menulis dalam bahasa Indonesia)
  5. Mahasiswa ditangkap oleh pemerintah penjajahan karena isi tulisan atau orasi yang dianggap provokatif (dan tidak pernah ditangkap karena berdemo hehehe…).  Padahal isi tulisan kadang hanya bersifat fiksi (seperti tulisan dari Eduard Douwes Dekker alias Multatuli dalam novelnya Max Havelaar)

Mahasiswa Di Masa Orba dan sesudahnya

  1. Lebih banyak yang menguasai satu bahasa saja daripada mereka yang lancar menguasai dua bahasa (walaupun tetap ada segelintir yang menguasai tiga, biasanya : Indonesia, Inggris dan Mandarin)
  2. Susah payah belajar di tengah tekanan biaya pendidikan mahal
  3. Berjuang melawan pemerintahan (pemerintahan = penjajah era baru? Hehehe…)
  4. Cara perjuangan yang ditempuh : kebanyakan berdemo.  Yang berorasi vokal dengan pemikiran intelek hanya beberapa.  Apalagi yang nulis, nyaris tidak ada (kebanyakan yang menulis sudah lepas dari predikat ‘mahasiswa’).  Entah karena sempitnya media untuk bertutur atau memang tidak dibiasakan untuk mengkritik via tulisan yang sesungguhnya isinya jelas lebih tajam dan akurat dibandingkan orasi yang bersifat impromptu (spontan).  Sebagian memang mendirikan organisasi seperti lembaga swadaya tapi juga tidak jelas statusnya karena tidak pernah diajak berdiskusi bareng dengan pemerintahan (yang ada malah terima dana buat kegiatan sendiri hehehe)
  5. Mahasiswa ditangkap biasanya karena aksi demo, lempar-lemparan batu, melawan polisi secara fisik.

Grrrr… Nyindir ya?  Saya juga nyindir diri sendiri kok soalnya saya juga salah satu mahasiswa era 1998 (pas Orde Baru mau dibubarkan).  Saya sih tidak berdemo, tapi juga tidak menuang lewat tulisan.  Jadi klop hehehe…  Tipikal mahasiswa era Orba.

Tetapi yang saya ingat dulu waktu sehabis kerusuhan etnis 1998 saya hanya sempat memberi semangat untuk teman-teman satu gereja.  Waktu itu sebagai ketua kaum muda di gereja, saya berusaha tersenyum dan menjelaskan bila negara kita sedang berjuang dari penjajahan era baru yang kejahatan itu ternyata disebut Rezim.  Dan juga menyemangati  bagaimanapun kondisi saat itu seakan etnis Tionghoa dimusuhi, tapi kita tetap warga negara Indonesia dan cinta Indonesia.  Jadi tetap berusaha untuk mendukung perjuangan keruntuhan Orba walaupun banyak memakan korban massa.  Ya setiap perjuangan pasti ada pahlawan tak dikenal dari etnis manapun, termasuk Tionghoa.

Balik lagi ke topik.  Di era di mana ledakan media asli Indonesia ada di mana-mana, malah cenderung mahasiswa lebih menjurus ke perjuangan fisik.  Gaya-gaya perjuangan dengan bambu runcing dan batu sebagai alat untuk menerjang. Padahal bambu runcing adalah alat perjuangan dari kaum petani zaman dulu waktu melawan penjajah.  Mahasiswa zaman penjajahan berjuang lewat pena walaupun sesungguhnya media era Belanda zaman itu ketat dalam menerima tulisan yang bersifat kritik.  Itu perbedaan antara mereka yang berintelektual ala mahasiwa daripada mereka yang tidak mampu mengecap bangku sekolahan.

Sebenarnya banyak faktor yang membuat mahasiswa era Orde Baru dan sesudahnya sulit berjuang lewat tulisan, antara lain :

  1. Penguasaan bahasa tidak sebagus mereka yang di era penjajahan. Realita loh ini hehehe… Mereka yang memiliki penguasaan bahasa yang baik otomatis berpengaruh kepada penyampaian logika yang betul, bukan asal nulis, asal kritik, asal ngomel (kalau asal ngomel di facebook juga banyak yang begitu ya hahaha…)
  2. Media massa memang merebak sekarang.  Tidak ada penjajah yang memantau tulisan tetapi sebagai gantinya justru pemerintahan yang memiliki sensor lebih kejam kepada mereka yang menulis dalam bentuk kritik kepada pemerintahan.  Penulis langsung diciduk!  Bukan oleh penjajah, tapi oleh pemerintah hehehe… Hal ini membawa trauma pastinya bagi mereka yang dapat menulis tentang logika kritik pemerintahan (padahal bermaksud baik, malah dikira pemberontak).
  3. Walaupun media massa sudah melalukan sensor dengan memuat tulisan kritik pemerintah yang memang masuk akal, tidak provokatif, dan cerdas  dan dianggap baik untuk diketahui pemerintahan, ya tetap saja dibredel!
  4. Alhasil banyak yang memilih cara perjuangan frontal, dengan acara memaki karena merasa dengan memaki telinga pejabat pasti panas.  Merasa lewat tulisan dirasa tidak mempan, bahkan tetap saja dianggap sebagai ekstrimis.

Tetapi terlepas dari kekangan penjajah atau pemerintah, toh mahasiswa zaman sebelum Orba tetap bisa menggeliat berjuang dengan pemikiran tajam dan elite.  Dalam masa yang lebih susah pun mereka tidak berjuang dengan fisik secara frontal.  Tulisanlah yang membuat mereka dipenjara dan terbuang alias diasingkan.

Grrr…!  Nyindir lagi?  Ah enggak dong…, saya lagi berandai-andai.  Ya andai dulu saya seberani dr. Cipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantara, Eduard Douwes Dekker (Multatuli), yang berani menulis apapun demi perjuangan mencapai Indonesia merdeka.  Moga-moga mahasiswa yang sekarang pun tidak meniru kebodohan saya yang walaupun menguasai dua bahasa dengan cukup baik tetap tidak berjuang lewat tulisan apapun untuk Indonesia.  Malah saya hanya melongo melihat teman-teman kala itu berorasi sambil merasa miris karena suara mereka hanya sebatas volume megaphone.  Di kantor rektorat saja tidak terdengar seruan mereka, apalagi di Senayan???

Comments

Comments on “Sinis (Sindiran Manis) : Menulis atau Berdemo?”

Dewa Bantal said:

Waduh… pengamat benar kamu ya…

Aku jujur nggak bisa mengingat sama sekali gimana kegerakan mahasiswa sebelum ORBA, soalnya waktu itu aku masih imut dan gemesin :)

Tapi setelah Orba selesai dengan lengsernya sang Jagoan kita Suharto, itu baru terlihat bagaimana mahasiswa yang selama ini “tenang” mulai tampak seperti tukang Jagal :)

Akhirnya makin lama, penindasan pemerintah kembali nampak, dan mirip sama periode Orba lagi kan? Langsung main ciduk :)

Intinya? Masyarakat Indonesia memang nggak siap untuk hidup secara liberal, cocoknya mungkin memang perlu (maap) “dikekang” oleh seorang “diktator” — bisa jadi.

fekhi said:

@bantal : wah ya ndak mengamati banget2 sih… kan dari baca2 juga, trus mikir eh iya ya… baru ditulis hehehehe…
kesimpulan semua yang baca ini beda2 ternyata ya… jadi seneng aku baca komentarnya :D
betul juga, aku juga suka mikir apa memang kita harus mirip2 pemerintahan di cina untuk jadi raksasa? dilihat dari penduduk, industri, sumber daya alam mirip2, tapi mrk bisa melesat jauh

DV said:

Kupikir, runtuhnya Orde Baru juga ikut meruntuhkan pamor mahasiswa di depan rakyat..:)

fekhi said:

@dv : iya jadi image-nya begitu ya hehehe…

Leave a Reply

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes
Copy Protected by Chetan's WP-CopyProtect.