Sinis (Sindiran Manis) : Motivator Ulung, Motivator Buntung
- Posted in Sinis
- Comments 2
Entahlah saya kok paling sulit untuk bereuforia dalam mengucapkan salam-salam yang sekarang lebih cenderung jadi slogan tinimbang makna salam itu sendiri. Bila mengucapkan salam aaaaaa, jadi ingat si A. Bila kita membaca salam bbbbbbbb, ingatnya si B.
Mungkin gara-gara dulu pernah ikutan yang namanya seminar gratis. Betul gratis memang. Isinya? Menarik juga. Ternyata buntut-buntutnya ya jualan juga. Saya bukan anti jualannya. Tidak sama sekali. Tetapi saya jadi berasumsi, well… it’s all about business strategy. Hasil akhir selalu kepada mereka yang mampu membeli, mampu berkorban mendapatkan barang dagangan yang bagus dan sesuai harapan. Balik-baliknya kok ya saya jadi minder sendiri dan beranggapan : ya gini deh… orang miskin, mau dapat wejangan bagus aja kudu bayar Rp 10.000.000,- Gimana jadi kayanya? Wong sudah seret duluan? Mana gak ada yang mau dibayar setelah orang jadi sukses kan? Hehehe…
Belakangan saya juga lucu sendiri melihat orang saling berseteru membela para motivator-motivator yang dianggap melakukan ‘blunder’ dalam aksi mereka. Saya juga prihatin sama yang kecewa kepada motivator-motivator tersebut, ngapain juga mereka sampai harus kecewa? Rocker eh motivator kan juga manusia? Kalau orang bilang seharusnya seorang motivator harus lebih hati-hati dalam membuat ucapan, yaaa rasanya semua orang harus begitu, bukan hanya motivator kan?
Dulu banyak sekali wejangan yang mengatakan kepada saya : kalau ke gereja jangan lihat pastur, atau pendetanya. Saya rasa agama lain juga sama, bila ke tempat ibadat, yang dilihat itu Tuhan, jangan hamba-hamba-Nya. Bakal kecewa. Ya, jadi bagi mereka yang mengkultuskan seseorang, seringkali berbuntut kecewa. Sebenarnya hal ini sudah lazim, dan menggenapi hukum Tuhan sendiri yaitu : kita akan kecewa bila melihat dan mengandalkan manusia dalam bertingkah laku.
Jujur saja, manusia normal ya pasti begini. Kenapa? Soalnya pikiran manusia selalu mikir untung rugi. Sebagai customer yang kecewa langsung melenggang kangkung ke tempat lain. Kecewa sama partai ini langsung pindah. Kecewa sama pastur ini langsung cabut. Kecewa sama Aa’ B langsung pindah ke lain hati. Karena merasa dirugikan. Keterampilan seseorang jadi mirip komoditi, dan memang manusia adalah komoditi di antara sesamanya. Jadinya business minded, bukan emphatic minded atau corrective minded lagi. Lihat saja, ketidakpuasan saja bisa jadi bisnis bagi pihak lain hehehe…
Pernah saya ditanya beberapa teman, kenapa saya tidak jadi motivator seperti yang belakangan sedang menjamur. Saya jadi keder sendiri. Masalahnya ya itu tadi, kalau sebuah pelajaran moral dijadikan bisnis tunggal dan utama, alhasil jadinya komoditi. Kalau sudah komoditi, yang ada hukum jual beli. Musti buat image dan slogan salam-salam yang identik dengan si tokoh motivator. Terjadi istilah pelanggan adalah raja, pemilik usaha adalah jongos, nurut aja! Gak nurut, ya gue siap-siap buntung.
Berprofesi sebagai motivator, tidaklah gampang. Bagai bertindak antara ilmu kemanusiaan dan ilmu ke-Tuhanan. Harus ikhlas dianggap setengah dewa (kalau dewa beneran ndak nginjek tanah soalnya, katanya katanyaaa…). Termasuk ikhlas dengan mereka yang gak bayar sepeserpun (seperti saya yang mau gratisan doang) bisa bebas mencaci mereka lewat forum apapun yang mengambil kesempatan. Yang bayar pun menganggap mereka tak ubahnya sebagai cheerleader untuk menghangatkan hati mereka dan siap memutuskan kontrak kalau jasanya gak cocok.
Tapi sebenarnya jarang yang tahu bila motivator ulung itu sendiri sebenarnya motivator yang dapat memotivasi dirinya sendiri di saat dia buntung. Jadi, dia menjadi motivator sejati dalam hidupnya ketika orang sudah tak menganggap dirinya komoditi dan komersil. Semua profesi beresiko, tetapi mereka yang berprofesi dengan menyebarkan moral biasanya sudah mengorbankan diri sendiri sebagai tumbal jika ada yang tidak sesuai di mata masyarakat kebanyakan.
Jadi, berminatkah jadi motivator? Setidaknya memotivasi diri sendiri, dengan kata lain, membuat diri sendiri jadi tumbal bila tidak sesuai dengan standar manusia yang kita kehendaki dalam hidup kita sendiri. Bisakah kita sendiri membalikkan cela dalam hidup kita menjadi satu pelajaran yang dapat kita renungkan. Artinya cela itu bukan menjadi bahan untuk kita cemooh atau malah semakin tenggelam dalam peremehan kepribadian diri kita sendiri. Mudahkah? Sulitkah?





Satu hal konsekuensi dari setengah dewa itu adalah, ketika kita bikin dosa kecilll aja, dianggapnya sudah menghancurkan reputasi kita sebelumnya.
Mending jadi web designer