Feb 23rd

Sinis (Sindiran Manis) : Kopi Darat dengan Buaya Darat

Belakangan heboh tentang kasus penculikan, perkosaan, pencemaran nama baik, penyalahgunaan akun jejaring yang berasal dari situs pertemanan, facebook.  Kok bisa heboh ya?  Memangnya aneh ya? (maaf, saya lagi ingin jadi orang yang menyebalkan hehehe…)

Yakin nih sebelum ada facebook, kasus semacam ini tidak pernah terjadi?  Gak kan ya?  Kalau mau lebih cerdas untuk flash back sebenarnya banyak tuh media teknologi komunikasi lain yang juga memiliki andil besar dalam kasus-kasus kriminalitas.

Jadi?  Ya, facebook hanya bagian dari segelontor (kalau segelintir kan dikit, segelontor berarti banyak ya hehehe…) media komunikasi yang sudah beredar sejak abad 19.  Malah bagi saya, facebook masih kurang canggih dan kurang massal untuk sebuah kasus kriminalitas dibandingkan penipuan berbasis ponsel (apakah kita sependapat?).  Yang jelas pemilik ponsel jumlahnya lebih banyak daripada pemilik akun facebook.  Dari segi data saja sudah jelas kasus penipuan berbasis ponsel atau karena ponsel lebih merebak daripada facebook.  Dan bayangkan orang yang tertutup saja dengan nomor ponselnya tetap dapat menjadi sasaran penipuan, penculikan hingga pembunuhan kan?  Sementara facebook?  Ya hanya terjadi bagi mereka yang gegabah, lugu, atau lagi apes.

Mari kita coba bandingkan modus operandi terjadinya kejahatan sejak ada media facebook dengan media zaman sebelum ada facebook.

Pencemaran (Duplikasi akun, di-hack, atau fitnah)

Biasanya untuk penyalahgunaan akun facebook adalah kasus pelanggaran yang teringan karena tidak berdampak fisik secara langsung.  Tetapi belakangan hal ini juga berdampak sangat merugikan karena dapat mengarah ke pencemaran nama baik dan dapat dipidanakan selama bukti ada dan kuat.

Di media sebelum ada facebook, kalaupun ada penyalahgunaan akun masih tidak terlalu menjurus ke pencemaran nama baik yang keterlaluan.  Mengapa?  Karena media pertemanan sebelum facebook menggunakan nama samaran! Dari zaman komunikasi orari, radio, hingga chatting dengan messenger pun orang masih banyak ngotot menggunakan nama samaran.  Hal ini memang untuk mengantisipasi agar identitas tetap terlindungi, dan bila terjadi duplikasi, kita langsung dapat membuat nama samaran lain sebagai identitas pengganti, tanpa harus terganggu dengan kehidupan pribadi.

Nah… anehnya di facebook kok banyak yang pakai nama asli ya?  Padahal sangat beresiko! Mungkin latar belakang terciptanya facebook yang memang awalnya adalah jejaring sebuah alumni sekolahan, sehingga nama asli yang digunakan dalam data pertemanan.  Justru kalau pakai nama samaran malah dicurigai.  Bahkan Obama saja pakai nama asli (SBY juga ya hehehe…).  Public figure banyak menggunakan facebook sebagai sarana berpromosi, jadi ya orang tidak ragu juga menggunakan nama asli.

Jangan bingung atau jadi panik sendiri ya, soalnya saya juga pakai nama asli di facebook, sementara akun email dan lainnya yang relatif lebih aman malah pakai nama samaran.  Tanya kenapa?  Tapi sekali lagi, bila Anda bukan termasuk mereka yang gegabah, lugu, dan apes seharusnya sih akun Anda juga minim dari ancaman.

Kerugian fisik (penculikan, perkosaan, aniaya, dan pembunuhan)

Modus operandi kasus kerugian fisik biasanya dimulai dari keinginan kopi darat sesama teman dari facebook.  Usianya juga biasanya menyerang mereka yang berusia kisaran 12-20 tahunan (walaupun di luar itu sih ya ada aja mungkin).  Sekali lagi, facebook hanya media yang kebetulan baru.  Karena istilah kopi darat itu sudah ada sejak zaman dulu kala sekaleee

Waktu zaman radio dan orari masih berjaya, kopi darat ada yang berlangsung aman sentosa.  Demikian juga sahabat pena lewat tulisan tangan.  Tapi ada juga yang berakhir kepada ‘kecelakaan’.  Saya ingat dulu waktu masih kecil (saking lugunya) pernah kasih data nomor telepon (dulu ponsel belum lahir) di salah satu radio.  Weh… dering-dering telepon yang masuk kok ya memang selalu yang bernada kurang ajar daripada yang beres?  Padahal niat saya kenalan doang hahaha…!   Untungnya orang tua saya bukan orang yang gegabah tadi.  Dengan cara memarah-marahi. Orang tua saya menjelaskan baik buruknya memberikan data personal terlalu detil kepada orang.

Sejak itu saya sadar, tidak semua punya pikiran sebaik saya.  Aha!  Bukankah itu yang terjadi pada semua remaja yang memang niatnya hanya mencari teman, jodoh?  Tapi dunia memang tidak bersahabat dengan kaum remaja yang masih dalam proses pencarian.  Kalau (dulu saya) ngotot melawan ortu, ya kemungkinan besar setelah gegabah, akan bernasib apes itu tadi.

Lagi-lagi kasus seperti ini tidak harus facebook. Kalau mau ditelaah masih banyak juga kasus penipuan fisik berawal dari perkenalan lewat ponsel, email, chatting kemudian berakhir dengan kopi darat dengan si buaya darat.  Tapi mungkin tidak terekspos karena media sedang berpihak kepada facebook.  Padahal yang ketipu gara-gara media komunikasi canggih lain juga seabrek, tapi sedang kalah pamor dengan mereka yang apes gara-gara facebook hehehe…

Ya, sebenarnya kesimpulan sederhana, semua pelaku kejahatan teknologi hanya oknum.  Sama seperti dinamit yang dulu diciptakan bukan untuk senjata teroris, demikian juga kemudahan akses pertemanan lewat teknologi.  Setiap produk teknologi pasti dimanfaatkan oleh banyak pihak, salah satunya pihak yang ingin cari enak sendiri.

Cara menghindari oknum itu hanyalah membatasi diri kita dengan etika (etika berinternet = netiquette).  Etika adalah batas dari kecanggihan sebuah teknologi atau ilmu pengetahuan canggih.  Etika yang membuat kita sebagai orang tua dapat menjelaskan baik buruknya dampak teknologi.  Etika membuat kita membatasi diri sebagai pengguna yang bijak tanpa harus menyakiti perasaan orang.  Etika membuat diri kita dapat menerima bahwa setiap insan pengguna fasilitas jaringan pertemanan memiliki karateristik tersendiri yang kita maklumi.  Etika membuat kita tetap terbuka tetapi tidak membiarkan diri untuk terluka.  Sejatinya bila setiap pengguna kecanggihan teknologi punya etika, ya sejahteralah dunia maya.

Jadi lagi-lagi, bukan berarti mereka yang sudah berpegang pada etika tidak bisa tertipu.  Bisa saja lah…!  Apalagi kita tidak dapat menerapkan etika kepada mereka yang tidak perduli etika kan?  Tetapi minimal tidak bernasib apes, paling-paling hanya menyanyi :

“Owww… Buaya darat*)?! Buset!  Aku tertipu lagi…!”

*)Buaya darat = Bukan hanya lelaki loh…! Wanita sebagai pelaku kriminal dari dunia maya atau teknologi juga seabrek!

Comments

Leave a Reply

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes
Copy Protected by Chetan's WP-CopyProtect.