Awalnya saya posting tulisan dengan judul Panggilan-Nya , tidak banyak yang saya tulis. Dan rasanya juga tidak banyak yang mengerti isinya hehehe… Di saat itu saya hanya merasakan bahwa di dalam hidup ini setiap manusia pasti memiliki tempat, lingkungan, pekerjaan, dan jalan hidup yang sudah digariskan-Nya.
Pada kenyataannya walaupun kata-kata yang didengungkan macam jalan Tuhan, takdir Tuhan, panggilan Tuhan seakan tinggal dijalankan saja, tetap tidak mudah untuk ditemui, dipahami, bahkan dijalani.
Saya mungkin dapat ingin berbuat ini atau itu, tetapi ujung-ujungnya bila memang itu bukan panggilan saya, memang terasa semua tidak afdol. Selalu ada proses mencari-cari apa yang sreg di hati. Proses ini mungkin berawal sejak kita sadar diri bahwa kita harus berjuang untuk hidup. Berjuang dalam mencari pekerjaan yang kita harapkan, berjuang mencari jodoh yang kita idamkan, hingga berjuang mencari pola hidup yang membuat kita damai dan tentram.
Beberapa bulan belakangan setelah menuliskan tulisan Panggilan-Nya itu, saya seakan ingin membuktikan kepada diri saya sendiri, bila memang apa yang sudah digariskan dalam hidup ini adalah hal yang terbaik untuk saya lakukan. Tetapi walaupun tinggal menjalani panggilan pun juga tidak semudah membalik telapak tangan. Banyak proses yang harus dihadapi. Banyak penyangkalan diri yang harus dibuat. Tetapi saya menjadi yakin bila memang itu panggilan-Nya, maka semua pasti dilapangkan jalannya.
Pernah saya juga hampir ingin banting setir untuk tidak menekuni salah satu kegiatan yang saya geluti, tetapi ternyata di saat itu Ia mendatangkan malaikat tanpa sayap. Kami bertemu muka dan beliau mengatakan bila pertemuan kami pun kala itu bukanlah kebetulan. Kami yang sudah lama loss contact tiba-tiba dapat terhubung begitu saja. Padahal kalau dipikir-pikir mustahil orang tersebut dapat saya hubungi karena semua akses untuk menghubunginya sudah tertutup (no HP orang itu sudah berubah gara-gara hilang terus dan YM orang tersebut di-hack, lengkap sudah).
Sedari pertemuan yang berlangsung dari malam hingga subuh itu membuat saya bersyukur dan berkata dengan yakin,
“Ternyata kalau sudah panggilan-Nya ya gak ke mana-mana. Ia pasti mendatangkan bala bantuan dari pasukan apa pun untuk mengingatkan saya agar tetap menjalani takdir-Nya.” Saya kembali semangat dalam format panggilan saya di dunia ini walaupun harus terus merangkak dari bawah dalam menggapai impian.
Hidup dalam format yang ‘bukan gue banget’ memang selalu membuat hidup kita terasa tidak klop. Seakan-akan kita hidup bukan menjalani peranan kita, impian kita dan apa yang cocok untuk kita. Hidup di luar dari panggilan-Nya seakan-akan belum menemukan satu kunci sukses untuk bertarung dengan kehidupan sesungguhnya yang hendak dicapai.
Sebenarnya ada beberapa istilah menarik untuk kata panggilan ini. Bisa disebut takdir. Dapat juga disebut nasib, walaupun nasib sepertinya berkonotasi negatif. Tetapi buat saya istilah nasib itu sendiri netral. Kalau memang sedang bernasib jelek ya memang mau diapakan? Namanya juga hidup, ada perjalanan yang bagus dan jelek di satu masa. Itulah yang disebut perjuangan menjalani panggilan. Istilah kasarnya, kalau ada yang memang bernasib jadi PRT tetap dapat menjalani panggilan-Nya dengan sempurna bila bertemu dengan majikan yang baik, atau bekerja di lingkungan pas cocok untuk dia berkarya.
Ada yang mengatakan X Factor. Jadi bila hidup belum ketemu X Factor, rasanya perjuangan ini seperti tidak ada arah.
Dan yang populer beberapa tahun silam, ada istilah Lentera Jiwa yang dikumandangkan oleh penyanyi Nugie. Lirik lagu Lentera Jiwa ini kurang lebih menggambarkan apakah kita benar-benar sudah hidup sesuai dengan panggilan dan takdir kita. Dalam situs Lentera Jiwa milik penyanyi Nugie itu juga ada banyak kisah titik balik beberapa tokoh dalam menemukan panggilan hidupnya yang sejati, di mana ia menjadi sosok yang berguna sekecil atau sesulit apapun yang dijalaninya.
Ada yang seharusnya dapat bergelut sebagai politikus sukses akibat jalan lebar yang terbentang, eh malah memilih untuk bergelut menjadi chef (koki) (dapat di baca di sini) karena itulah memang panggilan yang dirasakannya. Hasilnya memang membawa kunci sukses. Mungkin bila ia dulu ngotot menentang batinnya, ia hanya menjadi seorang politikus yang tak membawa makna apapun bagi sesama. Juga kisah single parent yang sudah bergelut dengan perjuangan hidup yang ternyata bukan dia banget. Justru di saat ia terpuruk, miskin, ia kembali mencari apa yang menjadi impian dan panggilan hidup sejatinya untuk berjuang menghidupi anaknya. Dengan menulis di kafe sambil momong anak, akhirnya keluarlah novel Harry Potter dari J.K. Rowling yang kita kenal sekarang (kisah dapat dibaca di sini). Namun demikian, banyak penerbit yang awalnya meremehkan dirinya, tetapi sejatinya saat J.K. Rowling sudah mengikuti suara hatinya, sejak ia menapaki panggilan sejati hidupnya sebagai ibu yang berguna bagi anaknya dengan kemampuannya, Tuhan tinggal menetapkan waktu kesuksesannya.
Di situs Lentera Jiwa lebih banyak kisah tentang pergelutan orang dalam mencari makna hidup lewat pekerjaannya. Tetapi selain itu sudah jelas panggilan-Nya bukan hanya seputar pekerjaan saja. Panggilan-Nya juga mencakup memilih teman hidup atau hidup selibat, memilih lokasi tempat tinggal, bahkan hingga mengevaluasi apakah kita sadar untuk menjaga apa yang sudah kita miliki untuk ditempatkan. Misalnya seperti memiliki orang tua –kita tidak pernah bisa memilih orang tua- tetapi kita sudah dipanggil untuk hadir di antara mereka, berperan dalam hidup mereka. Atau juga ada beberapa di antara kita yang sudah berkeluarga, bagaimana mengaplikasikan panggilan-Nya dalam posisi kita di dalam keluarga? Walaupun hubungan keluarga itu memang rumit, saya yakin Tuhan memiliki format panggilan setiap manusia di tengah lingkungan keluarganya. Kita memang harus mendengarkan apa yang digariskan-Nya.
Saya posting lagu Lentera Jiwa dan liriknya di sini, karena memang isinya persis seperti Kunci yang saya dapatkan untuk mengetahui panggilan-Nya dalam hidup. Isi lirik lagu Lentera Jiwa ini, dikatakan proses menemukan Lentera Jiwa, panggilan jiwa memang tidak mudah. Ada suara yang harus kita ikuti, yaitu suara hati. Suara hati selalu membunyikan cinta dan petunjuk. Kita hanya perlu kepekaan dan kerelaan untuk mengikuti suara hati itu. Dan jelas Suara itu milik Dia yang terus memanggil-manggil kita untuk berjalan di rute-Nya. Maukah kau dengar suara panggilan-Nya?
Lentera Jiwa
Lama sudah kumencari
apa yang hendak kulakukan
Segala titik kujelajahi
tiada satupun kumengerti
Tersesatkah aku di samudera hidupku
Kata-kata yang kubaca
terkadang tak mudah kucerna
Bunga-bunga dan rerumputan
bilakah kau tahu jawabnya
Inikah jalanku inikah takdirku
Reff:
Kubiarkan
Kumengikuti suara dalam hati
yang slalu membunyikan cinta
Kupercaya dan kuyakini
murninya nurani
menjadi penunjuk jalanku
lentera jiwaku
Apa yah? God works in mysterious ways kali. Manusia susah melihat big picture sesuatu termasuk jalan hidupnya sendiri. And life can only be understood backwards while it has to be lived forward.
@Danny : misterius itu jelas, tapi bukan berarti tak berarah kan
Big picture itu selalu mengarah ke atas walaupun di dalamnya terdapat cerukan ke dalam, tetapi grafik selalu mengarah ke atas kalau kita mau mengikuti KUNCI yang diberikan-Nya. Intinya manusia yang diciptakan Tuhan sejatinya pasti dikasih rahasia untuk hidup sesuai dengan jalan-Nya, dengan catatan : manusia itu dengan rela hati mau berkomunikasi dengan pembuat-Nya
Dan secara logika ataupun bukan : sejatinya manusia pasti bisa berbicara dan bertanya kepada Yang Membuat-Nya
(mungkin harus baca posting-posting saya sebelumnya untuk tahu kalimat itu hihihi)