SINIS (Sindiran Manis) : Bahasamu, Pribadimu
Gara-gara kemarin pagi sudah menegur seseorang yang tanpa izin langsung membanjiri mailing list dengan posting ilmiah, saya akhirnya ditanya oleh salah satu teman dari Yuk Nulis! tentang metode yang ditawarkan spammer (ya saya sebut saja spammer) itu. Metode NLP yang dibahas oleh spammer ini kebetulan memang ada nyangkut ke bahasa. Jadi ceritanya, bahasa itu sangat berpengaruh kepada perkembangan kepribadian dan pola pikir manusia.
Sebenarnya sih ini bukan metode baru. Sejak dulu negara Indonesia pun sudah memiliki satu pribahasa yaitu : Bahasa menunjukkan bangsa. Arti pribahasa itu kurang lebih adalah :
1.Tabiat seseorang dapat dilihat dari cara bertutur kata mereka.
2.Kesopansantunan seseorang menunjukkan asal keluarganya.
3.Bahasa yang sempurna menunjukkan peradaban yang tinggi dari bangsa pemilik bahasa tersebut.
Nah, sekarang tinggal kita membuktikan apakah benar ada hubungan bahasa dengan kepribadian seseorang? Saya sih seratus persen percaya bila bahasa sangat berhubungan erat dengan kepribadian loh! Tidak percaya?
Mari kita lakukan pertanyaan saja kepada diri sendiri ya hehehe…
Silakan jawab masing-masing dalam hati saja. Pertanyaan ini sebenarnya pendapat Anda untuk orang lain :
-
Bagaimana persepsi Anda bila sedang chatting dengan orang yang ngetiknya semau-maunya dia saja? Dengan kata lain, Anda kebanyakan tidak mengerti maksud pembicaraannya.
-
Bagaimana penilaian Anda saat sedang melakukan pembicaraan, lalu orang yang sedang Anda ajak bicara memberi komentar yang sebenarnya tidak nyambung dengan topik Anda?
-
Bagaimana pandangan Anda bila melihat orang yang menuliskan sesuatu tidak sesuai dengan kaidah yang ada, misalnya aku jadi aq, nya jadi x, kita jadi q-ta ?
-
Bila Anda menegur orang tadi yang menggunakan bahasa tidak sesuai dengan kaidah yang ada, kemudian orang tersebut marah-marah dan menganggap Anda tidak gaul, bagaimana kesimpulan Anda terhadap orang tersebut? Apakah Anda ada kecenderungan mengecap : orang ini memang sukar diatur, pantas tidak suka dengan aturan baku?
-
Bayangkan Anda sedang kencan dengan seorang pria tampan atau wanita cantik nan rupawan, tetapi saat Anda mengajaknya berbicara, semua omongannya tidak nyambung. Apakah Anda akan meneruskan kencan tersebut menjadi hubungan yang lebih serius?
Jawaban-jawaban di atas secara tidak langsung akan membuat Anda setuju dan berkesimpulan, bahasa memang sangat erat dengan cara Anda memandang kepribadian seseorang. Nah, sekarang, cobalah Anda balik pertanyaan tersebut untuk diri Anda sendiri. Apakah Anda merasa gerah? Kalau iya, berarti Anda pun berkesimpulan bila bahasa mencerminkan kepribadian Anda.
Jadi bila ada yang tidak menganggap bahasa itu penting, alias yang penting asal ngucap, asal bunyi, asal bicara, asal mengungkapkan, apakah tidak terkesan jika orang itu egois? Karena sebenarnya yang mengetahui arti pembicaraannya ya hanya dia saja. Dan orang itu akan hidup untuk dirinya saja, karena orang lain tidak pernah memahaminya, dan tidak dibiarkan untuk memahaminya.
Sama dengan halnya hari Valentine yang tidak selalu kasih sayang diungkapkan pada hari Valentine, maka walaupun sekarang bukan bulan bahasa pun bukan berarti sebagai manusia kita dapat sembarangan menggunakan bahasa (kecuali memang dengan sukarela ingin dicap negatif). Menyempurnakan kemampuan bahasa, kemampuan verbal menyampaikan pendapat dan pikiran tanpa menimbulkan multitafsir adalah cermin perkembangan kepribadian diri yang semakin membaik. Rasanya itu rumus umum sejak lama yang sering diabaikan.
Jadi mikir tentang si Spammer kemarin itu lagi. Apakah benar dia juga mendalami metode penguasaan linguistik sebagai unsur perkembangan pribadi seseorang yang sedang dipromosikannya tersebut? Saya jadi ragu. Kalau si Spammer itu menguasai perkembangan linguistik sebagai bagian dari perkembangan kepribadian, mengapa ia tidak menerapkannya di khalayak umum? Apakah susah untuk menuliskan kata : Mohon izin atau mohon tanya tentang peraturan sebuah forum? Ataukah memang si Spammer cermin orang egois mengingat dirinya tak menguasai linguistik sebuah kata perkenalan : Halo atau hai?
Ah… rasanya nambah satu kesimpulan : ternyata untuk berbahasa yang baik saja tidak perlu jadi orang pintar atau trainer sekolah kepribadian. Kalau jadi orang pintar atau orang ngetop tetapi bahasanya acak kadut, bukankah orang tetap akan menganggap dia bodoh? Sepertinya sih begitu hehehe… Jadi bila Anda merasa ada kekurangan sesuatu dalam kepribadian Anda yang ingin Anda ubah, seyogyanya jangan ragu untuk memulai dengan mengubah bahasa Anda menjadi lebih baik. Coba saja, Anda akan merasa manfaatnya! Ya cukup berbahasa yang baik dan benar saja, tidak perlu canggih (atau kecanggihan). Nanti malah jadi mirip si Spammer itu tadi.





@didin : hiksss… ya begitulah, kadang cela, kadang lola
@lotus : makasih banget bro
betul kata boz untara, load nya lambreta pissann…
@mas rub : aihhh terpaksa reply pakek edit. makasih ya… masih gak normal, tapi dah mendingan deh
wkwkwk