Satu tahun bukan waktu yang lama. Tetapi bila dalam satu tahun itu hanya merenda penantian dengan beriman : Segala sesuatu akan indah pada waktunya, wah…! Semua pasti sudah pernah merasakan lima menit yang rasanya satu jam, satu jam yang rasanya sehari, sehari yang serasa sebulan, sebulan yang seperti setahun. Semua karena menunggu yang tidak pasti.
Satu tahun yang lalu ketika memulai tulisan weekly motiflection, saya masih di Surabaya. Pada masa itu apa yang saya rencanakan mental. Apa yang ditargetkan salah. Apa yang diharapkan meleset. Belum lagi rumah yang saya beli sendiri harus segera dijual karena saya sudah habis uang. Harga jual rumah juga kami beri discount 50% (rumah loh, bukan garage sale hehehe) dari harga yang awal kami tetapkan. Padahal rumah yang baru selesai dibangun ini kami rencanakan untuk tempati jika kontrakan sudah selesai. Lalu mobil yang sudah kami jual untuk modal juga masih belum balik. Akhirnya dengan sedikit sisa kami menyicil motor saja daripada harus berat ongkos kalau naik taxi ke mana-mana.
Belum lagi rumah yang saya tempati / kontrak selalu membuat saya ketakutan bila mendengar suara angin kencang. Rumah yang kami kontrak ini pernah nyaris ambruk plafonnya, karena memang pondasi dan atap tidak solid akibat rayap. Kami sempat mengungsi di rumah keluarga ketika akhirnya rumah itu roboh dan direnovasi oleh pemiliknya. Sejak itu saya selalu menjadi trauma dan langsung dalam posisi loncat dari tempat tidur bila mendengar bunyi dari atas plafon. Kami tahu bila nanti masuk musim hujan, kejadian yang sama akan kembali terulang. Panas terik adalah sahabat yang saya benci. Dan suami saya katakan,
“Sudah, gak perlu ngomong panas terusss. Kalau dikasih hujan, kita justru kelimpungan loh.”
Jadi saya bersyukur sekali sebenarnya kalau di rumah itu rasanya terpanggang hehehe… Karena saya tidak cemas bila rumah itu rusak lagi. Kami juga menghibur diri,
“Kalau sudah mau musim hujan, nah berarti kita sudah dikasih jalan buat pindah rumah, dan ada duit buat kontrak rumah.”
Saya berdoa agar saya boleh menjadi seorang Ayub yang dicobai, tetapi jangan sampai saya menyalahkan Tuhan. Di satu sisi, saya malah masih merasa lebih beruntung daripada Ayub. Setidaknya saya tidak kehilangan keluarga yang saya kasihi, dan saya selalu diberi kesehatan maksimal.
Lalu bagaimana dengan kondisi yang sedih, kecewa, dan kadang kesal dapat terlibat dalam proses kreativitas dalam membuat weekly motiflection? Saya buka rahasianya, yaitu bukan sayalah yang kreatif dalam hal ini. Tapi Tuhan yang menciptakan, saya hanya alat untuk menuliskan-Nya. Setiap hari, setiap minggu. Rasanya pengalaman yang seperti mistis ini hanya terjadi ketika saya terpuruk, saya dapat berkomunikasi langsung dengan Dia.
Banyak pertanyaan-pertanyaan tentang kesia-siaan hidup yang saya pikirkan dan mencoba mencari jawaban para ahli. Tetapi akhirnya memang selalu mentok alias tidak mengerti. Mulai saat itu saya langsung bertanya kepada Tuhan. Saya berbicara bukan dengan format yang formal. Dan memang betulan bicara! Jadi kalau dulu bicara dengan Tuhan itu serasa hanya khayalan, sejak memulai weekly motiflection, saya betulan bicara dengan Tuhan.
Mungkin banyak yang sedikit sangsi kalau saya berkata saya berbicara kepada Tuhan hehehe… Ya saya juga tidak bisa menampik karena dulu saya pun bingung bagaimana caranya. Kalau ditanya orang, saya juga hanya menjawab dengan jawaban gak jelas gitu. Tetapi yang jelas, Tuhan itu memang kreatif, karena Dia tahu tidak mungkin Ia membuka suara-Nya dari atas sana. Dia juga tahu untuk tidak sembarangan menjatuhkan uang dari langit. Dia juga tidak menjatuhkan instruksi manual dari atas yang menuliskan, nih nanti kamu bakal begini, harus begitu. Kadang kita memang berharap Tuhan seperti itu, tetapi kalau Tuhan seperti itu rasanya juga kita akan tetap bebal atau malah ngibrit ketakutan melihat kedahsyatan Tuhan.
Saya yakin bukan saya saja yang bisa begini, karena seharusnya setiap manusia bisa berbicara dengan Yang Membuatnya toh…! Sekadar berbagi, walaupun posting-nya jadi agak panjang, saya coba jelaskan sesederhana mungkin bagaimana kita dapat berbicaranya dengan-Nya. Saya tidak pandai mengungkapkan dalam bahasa teologis. Yang saya jabarkan hanya dalam bahasa ringan akibat pengalaman pribadi dan referensi kitab-kitab yang membahas Tuhan yang ada di dunia ini.
Dasar logikanya (walaupun Tuhan tidak dibatasi logika) ialah, Tuhan adalah Kesempurnaan. Ia tidak dibatasi dimensi waktu dan ruang. Berarti kesimpulan sederhana, Ia ada di mana-mana, termasuk Ia juga pasti bersemayam dalam diri kita sendiri, tubuh kita sendiri. Sekarang hanya perlu proses apakah kita mau membiarkan Dia menjadi Tuhan bagi tubuh kita, atau kita tetap ingin menjadi tuhan atas tubuh kita sendiri. Bila kita berkenan Dia menjadi Tuhan dalam kemanusiaan kita, maka Dialah yang bekerja atas tubuh kita hingga ke nadi-nadi terkecil. Berarti otak, suara, pikiran pun adalah tindakan Tuhan atas diri kita.
Inilah yang dimaksud dengan istilah : Persembahan tubuh menjadi persembahan tertinggi dan ibadah sejati. Dulu maksud kata ini pun serasa di awang-awang bagi saya. Ngerti tetapi tidak gamblang. Apalagi secara simbolik, hukum ini sudah dihapus oleh Allah menjadi korban binatang, karena mempertimbangkan ketulusan Nabi Abraham (Nabi Ibrahim) yang rela mengorbankan anaknya kala itu. Semakin tidak nyambunglah simbol korban tubuh dan jiwa bagi Tuhan itu hehehe… Ternyata semua diperjelas-Nya sendiri. Jadi bila mempersembahkan hidup, tubuh sebagai korban bagi Tuhan adalah satu tindakan di mana kita membiarkan Tuhan yang mengatur tubuh kita (dari otak, jiwa, hati, roh), sepenuhnya! Dan kita yang sudah memberi tubuh kita sebagai korban bagi Tuhan, seharusnya memang sudah mati selayaknya korban bakaran! Yang ada adalah Dia yang berkuasa dalam tubuh dan hidup kita. Tubuh ini adalah rumah-Nya.
Istilah ekstrimnya, tubuh, pikiran, hati, dan roh saya seketika menjadi otak-Nya yang bekerja dengan menggunakan otak saya, hati saya, dan roh saya. Suara yang timbul di hati saya juga bukan suara saya lagi. Itu juga suara Tuhan. Itulah cara Dia berbicara dengan saya. Kami bicara secara dua arah, tetapi dalam tubuh yang sama. Seperti bicara pada diri sendiri, tetapi sesungguhnya bukan. Karena kalau ngomong sendiri, malah tidak pernah keluar jawaban yang membuat saya sendiri takjub.
Seketika saya sering berpikir,
“Eh kok ya bisa saya menguraikan sesuatu hal menjadi begini secara tiba-tiba.”
Tetapi saya sepenuhnya sadar, itu semua adalah ucapan-Nya yang bekerja dalam tubuh saya. Karena kalau berdasarkan pemikiran saya sendiri, itu semua tidak mungkin terjadi dehhh…! Manusia kok bisa ngerti Tuhan, rasanya lucu aja… Yang ada kan justru Tuhan membuat manusia itu jadi ngerti maunya Dia itu apa. (Tapi memang sih seringnya kita terbalik hehehe…, terbukti Santo/Rasul Paulus sering mengatakan jangan aku bermegah atas diriku sendiri, karena emang gak pantes lagi! Wong yang kerja Tuhan, tapi kok kita yang merasa bisa dan sombong).
Apakah saya tidak pernah kehabisan ide? Secara manusiawi pasti pernah. Tetapi kembali saya percaya bila Tuhan adalah Sosok yang Kreatif yang terus berbicara kepada saya. Dia jelas tidak pernah kehabisan ide. Apalagi saya selalu memiliki banyak pertanyaan tatkala merasakan ini, itu, mendengar cerita si ini, itu, langsung saya tanyakan saja tanpa gengsi,
“Ini gimana ya kira-kira penjelasannya, Han” (Tuhan maksudnya hehehe…)
Saya bukan muluk-muluk, ternyata Ia selalu menjawab dan saya menuliskannya. Jangan salah, sebelum menulis weekly motiflection, saya sama sekali tidak pernah mengalami pengalaman seperti ini. Dulu saya juga enggan menuliskan sesuatu yang bersifat keimanan untuk umum, karena takut berdampak kemunafikan. Tetapi sekarang semua saya jalankan. Jadi pantasnya memang saya berterima kasih karena dengan segala kejadian yang membuat saya merasa miskin itu, saya justru bisa masuk dalam dimensi-Nya dan dimensi-Nya masuk ke dalam saya.
Dalam masa penantian itu membuat saya justru belajar banyak pemahaman yang dulu seakan di awang-awang untuk dimengerti. Mengucap syukur misalnya, kalau dulu masih bisa mengucap syukur walaupun lagi dimarahin orang, sekarang beneran mengalami mengucap syukur dalam kekurangan. Berdoa yang nyaris datar-datar saja, eh tiba-tiba dikasih shock terapi berupa penglihatan kecil. Etos kerja yang menurut Alkitab adalah bekerja seakan-akan untuk Tuhan ya betulan saya hadapi. Soalnya memang saya kerja tak berupah, yang dapat membuat saya tetap kuat bekerja ya akhirnya Tuhan juga.
Saya juga akhirnya benar-benar dapat mendefinisikan kata sabar dalam tindakan saya. Saya belajar untuk tidak iri dan menghargai apa yang saya miliki. Saya belajar untuk tidak sombong dan tidak menganggap orang lain lebih sepele daripada saya. Saya juga akhirnya bisa merasakan bagaimana yang namanya haus akan firman-Nya (dulu ya konotasinya cuman baca Alkitab), eh kok ya jadi betulan merasa haus dalam arti kata sesungguhnya.
Lalu apa yang membuat saya dapat bertahan untuk terus konsisten menuliskan weekly motiflection? Apa yang membuat saya beriman dapat lepas dari himpitan di masa seperti itu? Sepertinya memang dalam tulisan saya seakan-akan tidak merasa susah, sedih, marah, putus asa. Ya, semua kembali kepada rumus : tubuh saya ini adalah kepunyaan-Nya, hidup ini bukan aku lagi, tetapi Dia yang hidup dalam saya. Jadi, Tuhan yang bersemayam di tubuh juga rasakan sakit saya, Tuhan juga sedih, Tuhan ikut menangis bersama saya, Tuhan pun memahami kekecewaan dan kemarahan saya. Tetapi Tuhan juga adalah Sosok yang kuat, sabar, penuh kasih, tangguh, yang ada di tubuh saya. Setiap kali manusiawi saya menjadi lemah, Ia yang sudah mengambil alih badan ini menjadi semakin kuat. Jadi saya dapat bertahan, semua karena kekuatan-Nya yang menggantikan kelemahan saya.
Kekuatan-Nya yang membuat saya tidak putus berharap walaupun saya masih tidak melihat titik terang sedikitpun. Saya dulu sudah pernah merasakan kejayaan, nyaris selalu merasa pengharapan saya dikabulkan. Tetapi sekarang saya juga diajar bagaimana berharap-harap cemas. Kalimat : Semua akan indah pada waktu-Nya itu serasa tetap di awang-awang. Karena memang dulu hidup saya indah-indah saja hehehe… Waktu dulu percaya Tuhan juga happy-happy saja. Jadi mungkin memang saya tidak pernah belajar berharap dan menghargai bahwa waktu-Nya itu indah.
Dalam proses untuk kuat dalam pengharapan itu saya juga pernah selalu mencari apa yang kurang dan salah dari usaha saya? Apa saya yang tidak well prepare? Tidak well planned? Tidak survey sana sini dulu sebelum bertindak? Eh saya malah ditegur-Nya agar tidak selalu mencari apa yang kurang dan salah dari diri saya. Dan Tuhan katakan,
“Hanya satu yang salah, yaitu jika kamu berhenti berharap!”
Karena berhenti berharap, berhenti percaya pada target, itu berarti berhenti untuk percaya bila Ia sudah menyediakan yang terbaik buat saya. Saat itu saya menangis dan akhirnya kembali sadar jika Ia yang ada di tubuh ini pasti tetap akan membuat saya kuat melihat pengharapan yang indah.
Sambil menulis setiap minggunya adalah bentuk pengharapan itu sendiri. Ya berharap pekerjaan membawa hasil, berharap rumah cepat terjual, berharap segera dapat memiliki mobil saya kembali, berharap dapat jalan-jalan ke mall/refreshing sama anak minimal satu minggu sekali (berarti dulu gak? Iya, refreshing di rumah terus hehehe… Akibatnya jadi ratu online hehehe…), berharap juga agar keluarga kami jangan menjadi lemah. Pokoknya berharap kami dapat hidup dengan lebih layak.
Jika orang mengatakan harapan itu menguras sendi perasaan itu benar. Harapan juga sering membuat orang terjatuh jadi kecewa karena selalu gagal memenuhi harapan itu. Harapan selalu membuat efek khayalan semu yang tidak sesuai realita. Harapan itu akhirnya membuat orang takut untuk berharap. Tetapi di saat saya tahu bahwa inti pengharapan itu adalah berserah kepada rencana-Nya dalam tujuan yang saya inginkan, justru harapan itu pulalah yang membuat saya tetap bertahan di dalam kesukaran.
Saya menyadari semua adalah proses yang mempersiapkan saya untuk tujuan akhir yang akan dicapai itu. Dan saya yang walaupun secara manusia ragu, takut, tetap dikuatkan untuk bertahan dalam pengharapan. Alhasil saya menganggap harapan itu seperti candu. Di mana saat digunakan akan membawa kesakitan dan kekecewaan, tetapi kenyataannya saya tidak dapat terlepas dan berhenti untuk menggunakan itu. Saat keraguan dan kecewa datang, sejurus itu pula saya juga percaya ada jalan lain untuk mencapai tujuan yang belum terjadi itu. Ya, saya jadi ketagihan dalam berharap, tidak dapat berhenti untuk berharap walaupun sakit tetapi saya tetap ketagihan menyerahkan semuanya kepada proses-Nya.
Dan akhirnya benar, semua memang indah pada waktu-Nya. Hasil-Nya selalu maksimal! Ia memang tidak pernah terlambat, itu betul saya rasakan. Ketika kami sudah harus pindah rumah, rumah yang kami miliki dapat terjual (tetap discount 50% itu tadi ya hehehe), saat kami sudah harus punya mobil, Dia kembalikan dengan cara yang sebenarnya berbeda dengan yang saya rencanakan. Kami kembali terus diberi keberanian untuk mencari peluang-peluang kerja yang dapat menghidupi kami. Walaupun beberapa kali gagal, anehnya seperti candu harapan itu tadi, kami tidak pernah kapok untuk berusaha. Tetapi kami menjadi lebih bijaksana dalam mengatur rencana dan menyerahkannya kepada Tuhan untuk diwujudkan sesuai dengan cara-Nya.
Pengharapan itu menjelma menjadi buah yang matang dan manis! Bukan sekadar matang. Karena sejak waktu-Nya dinyatakan saya benar-benar dapat memetik hasil di mana saya belajar untuk tidak menjadi sombong ketika saya sudah tidak kekurangan. Kami dengan rendah hati sudah merasakan bahwa di atas langit, masih ada langit. Jadi tidak perlu merasa kecil hati atau tinggi hati. Mencukupkan diri dengan apa yang sudah ada saja sudah sangat bagus, sementara orang lain banyak yang tidak berkecukupan. Dulu mungkin kami membuat gaya hidup kami tidak sesuai dengan kemampuan, sekarang kami malah senang-senang dan cuek saja kalau dibilang tidak ada uang. So what gitu loh hehehe…
Bukan berarti sekarang semua persoalan sudah selesai. Tentu saja belum! Hingga sekarang pun tantangan datang silih berganti. Tetapi kami akhirnya dapat melihat bahwa kesukaran kami ini masih seonggok pasir. Sementara ada yang sudah membawa beban batu kilangan di pundaknya, yang sudah terbungkuk-bungkuk untuk minta pertolongan sesama. Dulu mungkin kami kurang kasih, serakah, pemaksa kehendak, tetapi sekarang kami dapat melihat ternyata jalan-Nya lebih menggoda, melegakan, dan menguntungkan dari apapun.
Dia memang Ilham segala ilham yang saya miliki. Ternyata nyadik (kecanduan) kepada-Nya adalah hal yang paling nyaman dibanding apapun di dunia ini. Semoga selama saya terus nyadik kepada pengharapan, saya masih terus dapat berbagi melalui tulisan weekly motiflection ini pada tahun-tahun seterusnya dengan para sobat terkasih.
Catatan :
Posting favorit selama setahun ini dapat di baca di SINI, judul : Berharap untuk Kecewa
Ucapan terima kasih kepada teman-teman yang sudah bersedia membaca terus setiap minggunya. Tidak lupa ucapan terima kasih juga kepada forum-forum tempat saya berbagi tulisan weekly motiflection seperti : Yuk Nulis! (G. Lini Hanafiah), Kisah-kisah Inspiratif (Mbak Cecil), Grup Alumni SMA Xaverius Palembang (Kiang S The), Noters Indonesia (Penk Artanov), Kata Bijak, Pengagum Kata, Forum Anak Panah (Suryadi Kintani) dan juga teman-teman yang juga membagikan tulisan ini kepada orang lain melalui tautan facebook, blog, atau email.
tuhan lebih dekat dibanding urat nadi kita sendiri .. ibadahku, hidupku, matiku hanya untuk tuhan ( doa iftitah yg slalu dibaca dlm sholat umat islam). Kita sering kecewa, stress bahkan ada yg sampai bunuh diri itu semua kr kita berharap kepada manusia bukan pada Robnya (tuhan), saat kita berharap hanya pd tuhan maka kedahsyatan yg akan kita rasakan .. subhanalloh walau kita beda agama tp tulisanmu mampu menjadi inspirasi. Makasih dah mau berbagi
@lotus : makasih juga ya bro sudah berkunjung. semoga dirimu juga dikuatkan senantiasa