Feb 8th

Ketika Aku Menjadi Miskin (Weekly Motiflection di Balik Layar -Bagian Pertama-)

Ada beberapa macam tindakan manusia tatkala dia terjepit masalah, antara lain :

Panik

Buru-buru memberontak untuk terlepas. Hasilnya, malah ia semakin sakit akibat gerakannya tersebut. Ia kemungkinan lepas dari persoalan, tetapi mengalami trauma mendalam. Luka batin yang dahsyat. Bila menghadapi masalah yang sama, ia sudah mengalami ketakutan yang amat sangat.

Sabar

Sabar berusaha bergerak pelan-pelan, meringsek pelan dengan berbagai strategi. Hasilnya ia dapat terlepas tanpa mengalami banyak luka. Saat menghadapi masalah yang menjepitnya kembali, ia menyadari bila ia harus melatih otaknya dan kembali mengingat jalan keluar tatkala dulu ia terjepit adalah kesabaran yang merupakan kunci dari segala jalan keluar.

Putus asa

Putus asa, stress, depresi, kemudian mati terjepit (atau pakai acara bunuh diri)

=======================================

Ada yang dulu pernah saya sedikit sesali tetapi sekarang menjadi syukur yang tak terhingga. Ya, hal itu adalah saya sudah hidup baru dan sepenuhnya sadar bila ingin dipakai Tuhan sejak usia masih lumayan muda. Kelas 6 SD. Lalu apa yang buat saya merasa ada rasa sesal? Rasa sesal yang bodoh sih sebenarnya, tetapi pada kenyataannya saya memang merasa tidak seperti teman-teman lainnya yang bisa menikmati masa-masa gamang mereka dengan gaya remaja pada umumnya. Saya sudah mencoba bergelut dengan pertanyaan-pertanyaan : untuk apa saya hidup, mau apa saya hidup, sementara teman yang lain nyantai.

Belum lagi ketika saya dan teman-teman sudah dewasa. Saya kembali melihat hidup teman-teman saya yang dulu kelihatan amburadul, tidak berpikir masa depan (seperti yang sudah saya rintis sejak di sekolahan), ternyata mereka bisa lebih sukses dari saya. Lompatan karier mereka melesat sementara saya ya begitu-begitu saja. Saya sempat merasakan Tuhan benar-benar menolong saya dengan tanpa masalah hingga saya lulus kuliah, dan setelah itu saya seakan manusia ber-Tuhan yang mandek di segala bidang. Miris melihat diri sendiri yang berharap masa depan cemerlang tetapi kalah dengan mereka yang dulu hanya berpikir soal kesenangan hidup.

Saya tahu bila saya salah membandingkan hal seperti itu. Tetapi saya juga ingin Tuhan berikan saya bukti bila saya tetap terberkati selama hidup bergaul dengan-Nya. Dan perlahan-lahan saya akhirnya tahu jawaban-Nya mengapa saya dipilih pada usia muda, mengapa saya ditempa pada usia dini, sementara orang melihat saya seperti orang yang tidak bebas menjalani kegilaan masa muda. Namun pada akhirnya saya sangat bersujud syukur kepada Tuhan dengan apa yang sudah saya jalani bersama-Nya.

Saya akhirnya mengibaratkan bila saya adalah tokoh dalam film Hell Boy, di mana pribadi saya sejatinya sungguh tempramental (bawaan genetika hahaha…), peragu, dan segala macam sifat yang sangat tidak menyenangkan. Ego dan ambisi saya juga sangat tinggi. Ajaibnya ya tanduk saya yang ala Hell Boy itu dikikis pelan-pelan oleh Tuhan dari kecil. Saya sebenarnya juga takjub, dan kadang berpikir,

Heh? Kok bisa saya yang dulu begitu, jadi begini.”

Semua tentu melalui proses. Banyak orang-orang terdekat saya dari dulu hingga sekarang sebenarnya menjadi korban akibat terbentuknya saya menjadi seorang pribadi yang diinginkan Tuhan. Mereka yang berusaha menegur saya yang begini dan begitu, sehingga saya dengan rendah hati mencoba intropeksi diri. Anehnya, walaupun sebenarnya hal itu sangat menyakitkan dan melelahkan akibat dikritik, tetapi kok saya tetap diberi kekuatan untuk berbesar hati dan kemauan untuk menjadi lebih empati.

Ketika saya menikah, saya pun baru menyadari bila saya menikah dengan sosok yang sangat berbeda dengan saya dalam menghadapi persoalan. Hal yang sangat melelahkan di antara kami berdua, karena kami harus saling mengerti segala sesuatu yang tidak kami setujui dari masing-masing pribadi kami. Walaupun secara teori dua kepribadian bersatu untuk saling melengkapi, tetapi rasanya tetap ada batu besar dalam hati yang tidak boleh kami angkat dari hati kami masing-masing. Jadi ya pengertiannya bukan membuat segalanya menjadi klik dan klop. Hanya sekadar menahan semua di hati agar persoalan tidak semakin melebar.

Tetapi sekali lagi Ia menunjukkan bahwa inilah teman hidup saya yang turut membentuk saya. Saya yakin juga banyak di antara kita yang mencintai orang yang sebenarnya bukan tipe laki-laki/wanita idaman yang kita tulis dalam diary. Hanya 1 dari 10.000 orang yang dapat menikah dengan apa yang dia idolakan, selebihnya? Ya berjuanglah atas nama cinta hahaha…! Jadi, intinya justru dengan teman hidup yang jauh dari sempurna inilah saya dan suami bersatu untuk menjadi kuat.

Suami saya mungkin bukan religious man, tetapi siapa yang mengira justru Tuhan pakai dia untuk membuat saya dapat menjadi orang yang lebih perhatian, lebih ekspresif, cepat tanggap dan ah… banyak lagi deh! Kalau disebutkan bisa kepanjangan posting-nya yang sudah panjang ini hehehe… Pokoknya banyak sifat-sifat yang dulu sangat minim tercetus dari tindakan saya pelan-pelan saya perbaiki. Dari sini saya menjadi sadar, bahwa masih banyak sekali kedagingan dan tanduk-tanduk kecil yang harus dijinakkan walaupun saya sudah berpredikat anak Tuhan. Dan memang tidak banyak yang mau berubah drastis menjadi pribadi yang menyenangkan hati Tuhan.

Jadi terlebih saya berterima kasih karena Ia teramat sayang kepada saya dan tidak membiarkan saya stagnan dalam mengubah saya dari seorang Hell Girl (hehehe… Hell Boy-nya tak ganti pakai Girl ya sekarang) menjadi seseorang yang menyusuri stairway to heaven. Padahal saya punya kehendak bebas, saya memiliki kemampuan yang seharusnya dapat saya kembangkan tanpa seizin-Nya, tetapi kok ya jalan itu selalu tertutup. Syukurlah!

Sekarang saya terlebih bersyukur lagi kepada Dia yang sudah membentuk saya sedari dini. Semua pasti ada tujuan-Nya, semua dalam rancangan-Nya. Mungkin memang karena saya memiliki pribadi yang sulit untuk dibentuk, sehingga proses panggilan mengenal Dia sudah saya tanggapi sedari usia 12 tahun. Berbeda dengan mereka yang mungkin melayani Tuhan setelah mereka lulus kuliah, mungkin memang mereka lebih mudah dibentuk tinimbang saya yang emosional ini.

Ya, saya akhirnya membayangkan, bagaimana jadinya saya bila tidak dipersiapkan jalan-Nya sedari dulu. Hal ini Tuhan buktikan juga akhirnya melalui cobaan dan masalah yang semakin lama semakin meningkat dalam kehidupan saya. Saya bersyukur dengan kenyataan yang ada bahwa saya selalu kuat mental akibat tempaan-Nya sedari dulu. Menghadapi masalah bukan lagi sesuatu yang dapat dengan mudah menjatuhkan iman saya. Saya menjadi pribadi yang tidak menyalahkan Tuhan. Ketangguhan itu saya peroleh dari Dia.

Ya, saya menjadi orang yang bisa sabar dalam keadaan terjepit dan diberi otak yang berusaha terus kreatif di tengah keputusasaan. Tempaan dari-Nya mulai sangat saya rasakan ketika saya tidak lagi memiliki apa-apa. Saya yang dulu nyaris tidak pernah kekurangan, nyaris selalu dilapangkan jalan-Nya untuk mendapatkan apa yang saya inginkan untuk ditekuni harus mulai dari nol bahkan minus!

Bermula dari kondisi keluarga (saya dan suami) yang sudah tidak dapat bergerak banyak karena sudah menginvestasikan uang dan aset kami untuk memulai usaha. Rencana tinggal rencana, ternyata berjalan tidak sebagaimana mestinya. Bisnis tidak berkembang sementara pengeluaran harus tetap berjalan, cadangan sudah nyaris habis dan akhirnya benaran minus. Kerja yang kami lakukan seakan sia-sia. Ke sana ke mari, tetap tidak ada hasil yang berarti seperti yang kami harapkan.

Syukur kepada Tuhan, ternyata memang Tuhan sudah mempersiapkan kondisi kami berdua untuk menjadi solid. Ia sudah membekali kami dengan mental yang berusaha terus bersyukur di dalam segala kekurangan. Air mata dan kemarahan terkadang menyertai kami, tetapi kemudian Dia juga yang menghapus air mata dan meredakan kemarahan.

Dalam situasi yang tidak dapat berbuat apa-apa itu ternyata saya memiliki waktu di rumah. Hanya online, telepon, dan menunggu. Saya akhirnya memiliki banyak waktu untuk membaca tulisan teman-teman yang ada di facebook. Seketika itu juga saya kembali berniat menulis. Menyadari hanya ini yang menjadi media saya untuk melampiaskan beban saya, akhirnya saya mulai mencoba membuat catatan tentang kemurahan Tuhan kepada saya walaupun di tengah kesukaran. Kemudian memberanikan diri untuk posting tulisan pertama weekly motiflection di facebook tertanggal 26 Februari 2009 (Silakan baca artikelnya di siniTulisan saya biarkan orisinal dengan gaya lu gua tatkala itu).

Setiap minggu saya berusaha merangkum apa yang saya pelajari dari apa yang Tuhan mau saya pelajari, kemudian saya posting di facebook. Semula tulisan weekly motiflection ini hanya saya tujukan bagi diri saya sendiri. Sebagai catatan bahwa beginilah kondisi saya ketika saya miskin, ketika saya tidak memiliki apa-apa lagi, tetapi saya diselamatkan-Nya untuk tidak menjadi bodoh. Dibuat oleh-Nya pemikiran-pemikiran yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya yang saya arsipkan dalam tulisan weeky motiflection.

Jadi, bila ada yang bertanya apakah tulisan weekly motiflection yang saya tulis itu adalah hal yang betul-betul nyata saya rasakan atau hanya sekadar teori yang saya baca dari buku-buku? Jawabannya semua adalah kisah nyata yang benar saya rasakan dari hati yang tersakit hingga terobati. Tidak banyak buku yang saya dapat baca dalam kondisi pengetatan hehehe… Segala sumber ilmu saya dapati dari Dia saja.

Setelah beberapa saat menggunakan media facebook, saya akhirnya mencoba blogging lagi. Sejak dulu saya sudah punya blog, tetapi tidak pernah saya urus. Saya sejak lama sudah suka menulis tetapi mandek akibat merasa ini bukan bidang yang harus saya kembangkan. Penolakan berbagai media-media membuat saya enggan berharap lebih. Tetapi saya tahu bila saya memiliki media alternatif untuk menuangkan pemikiran saya tentang Sang Pemberi Kehidupan. Akhirnya saya aktifkan kembali diri saya untuk blogging. Dari blog yang semi main-main, lalu beralih ke blog yang lebih serius hingga sekarang saya membuat domain sendiri. Dari format tulisan juga banyak mengalami perkembangan. Yang awalnya lebih bersifat tulisan pribadi berkembang menjadi lebih variatif dari kesaksian, puisi, artikel hingga pendalaman iman.

Menjelang usia satu tahun tulisan weekly motiflection, tanpa terasa sudah ada 54 tulisan weekly motiflection dan juga beberapa puluh tulisan yang berbau motivasi dan refleksi yang saya posting di tengah minggu. Inilah bentuk dari hasil saya meringsek pelan terlepas dari himpitan persoalan, ternyata saya dapat kembali ke jalur yang sudah diarahkan-Nya : berbagi melalui tulisan.

Ternyata menjadi sabar berbuah manis kepada mereka yang bersandar pada-Nya. Saya yang sudah dalam keterpurukan kembali dibantu untuk bergerak pelan-pelan agar tidak terluka parah akibat himpitan. Dan hasilnya? Tatkala masalah masih tetap datang silih berganti hingga sekarang ini, saya sudah memiliki catatan-catatan yang sudah saya abadikan dalam tulisan. Ketika saya lelah saya kembali diingatkan dan dikuatkan kembali dengan apa yang Dia minta untuk saya tuliskan.

Saya akhirnya merasakan bila Ia terlebih besar daripada masalah saya yang sebenarnya hanya berputar di sana-sana saja. Ia berikan rumus yang meringankan yang dapat saya baca kapan saja ketika himpitan itu kembali terulang. Dan Ia sudah mempersiapkan saya untuk melalui semua ini sejak saya masih kecil. Saya tidak dapat membayangkan bila ternyata saya kalah dalam peperangan di dunia ini akibat menolak untuk dibina-Nya, mungkin saya sudah seperti orang yang panik bila saat terjepit atau malah memilih mati tanpa harapan.

Saya juga dibuat-Nya tidak mengasihani diri sendiri. Sementara saya dalam kesulitan ternyata saya banyak mendapat kisah-kisah dari rekan-rekan, saudara, dan teman yang saling berbagi. Saya akhirnya menyadari bila kesulitan dan himpitan yang saya alami ini belum seberapa dibandingkan mereka yang benar-benar susah dalam kata sesungguhnya. Saya bersyukur bukan berarti senang di atas penderitaan orang yang lebih susah daripada saya, tetapi saya dapat dipakai-Nya untuk berbagi kekuatan walaupun dalam kekurangan. Semua ini membuat saya akhirnya melihat bahwa sejatinya kondisi saya masih jauh dari istilah susah, dan dari pengalaman yang saya dapatkan dari Tuhan langsung inilah yang dapat saya bagikan untuk meringankan beban sesama yang mengalami kesulitan sama atau yang lebih dalam daripada saya.

Saya juga berterima kasih kepada pembaca-pembaca motiflection yang pada awalnya hanya beberapa orang kemudian berkembang terutama di jalur media jejaring sosial online facebook . Para pembaca juga merupakan motivator yang kuat bagi saya untuk terus menuliskan kasih-Nya. Ya, tatkala saya menjadi miskin ternyata saya diperkaya dalam lebih banyak hal lagi, termasuk teman-teman yang menguatkan. Doa-doa dan harapan yang dulu seakan tidak terjawab ternyata mulai terkuak perlahan-lahan. Ia sesungguhnya tidak pernah menutup pintu atau jendela, tetapi Ia membuat saya untuk tidak masuk ke pintu atau jendela yang tidak seharusnya saya hadapi dulu sebelum masuk ke pintu-pintu lainnya.

Apakah saya pernah kehabisan ide tatkala menulis weekly motiflection?

Apa yang membuat saya bisa terus konsisten menulis weekly motiflection?

Bagaimana perjalanan saya meringsek untuk lepas dari himpitan dengan weekly motiflection?

Semua ada di tulisan Weekly Motiflection di Balik Layar -Bagian Kedua- yang saya beri judul : Harapan Itu Adalah Candu. Ditunggu ya hehehe…

banner motiflection

banner motiflection yang pernah saya pakai di blog lama

Comments

Comments on “Ketika Aku Menjadi Miskin (Weekly Motiflection di Balik Layar -Bagian Pertama-)”

Fonny said:

Ditunggu sekuel berikutnya, Fem…Sip! GBU more and more…Gile dipersiapkan dari kecil yaaa:)

fekhi said:

@ci fonny : moga2 tidak berlebihan dengan mengatakan sudah dipersiapkan dari kecil hehehehe

Fonny said:

Fem, kalo kelas 6 SD itu buat aku masih kecil sih hehe… Karena aku sendiri kan baru dibaptis pas gede, walaupun dari kecil juga taat beragama nurut Papa-Mama tapi baru serius mencari hadirat-Nya mungkin pas kuliah… Gak berlebihan sih buat aku, gak tau deh kalo yang lain…Tapi, menurut aku bener sih,dari kecil:) Baguslah:)

fekhi said:

@ci fonny : itu juga anugerah. karena aku berasal dari keluarga yang tidak mengenal agama secara spesifik :D

DV said:

54 tulisan? Dibukukan! Cepat! :)

Selamat!

fekhi said:

@dv : beberapa artikel rencananya akan dibegitukan, maksudnya ya dibukukan hehehehe… Thx ya kamu udah baca terus, rajin comment di blog (sementara yg lain memilih jalur fb) hehehe… jadi berkat kamu blog aku rame juga :D GBU don :)

adiarta said:

Baru bagian pertama ya??? ‘panjang amat’ hehehe.. intinya kesabaran… :)

fekhi said:

@adiarta : iya karena panjang makanya dipenggal :p kalau hanya ngomong intinya kesabaran kan gak asik hehehe… bisa disambit orang malah karena dianggap teori doang hahaha

bertha said:

Fem,..ditunggu lanjutannya yah!
tulisannya semakin matang, banyak manfaatnya bagi saya…
hanya orang yang pemarah yang bisa betul-betul bersabar, krn orang yang tidak bisa merasa marah tidak bisa disebut penyabar, krn dia hanya tidak bisa marah. Dan gue termasuk yang cepat marah jadi betul2 harus kerja keras agar bisa tetap bisa berlaku baik dan adil….hehehehe…

fekhi said:

@ci bertha : lanjutannya sudah di-posting kok hehehe… :) lihat di akhir posting ada link-nya :) silakan diklik. makasih ya :)

David Jerry said:

Femmi: Begitu indah cara Tuhan memproses kita. Kamu menulis di bagian akhir cerita: saya sekarang merasa bahwa Allah lebih besar daripada kita yang hanya berputar-putar di situ saja. Dan saya bersyukur….haleluyah. Begitulah kisaran keadaan, dengan kita yang berada di dalam kisarannya, tetapi hasil yang keluar: getuk,dll. Enak, gurih, renyah dan menolong orang lain.

Leave a Reply

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes
Copy Protected by Chetan's WP-CopyProtect.