Weekly Motiflection : Merenungkan Siang dan Malam
Akwila sedang menanti kedatangan Manager itu di ruangan kecil yang penuh dengan buku-buku ini. Selayang pandang dia menjadi takjub,
“Buku-buku penting semua tersusun rapih, dari buku marketing management, sampai buku-buku rohani, bahkan Alkitab,” katanya membatin.
Ia menjadi malu dengan dirinya sendiri, rasanya ia kalah jauh dalam segalanya dengan Si Manager ini.
“Jauh sekali cara dia memperlakukan ruangannya dan buku-buku dengan aku. Buku marketing punyaku tergeletak begitu saja di atas meja. Buku-buku rohani banyak yang masih kubiarkan dalam kardus setelah selesai kubaca. Alkitab?! Malah kutaruh di atas lemari, kadang berdebu kalau sudah dua hari tidak disentuh,” keluh Akwila.
Akwila masih terdiam menunggu kedatangan Manager sambil memohon ampun dalam hati,
“Tuhan, maaf ya kalau aku tidak seperti orang ini. Dia begitu apik menjaga buku-Mu, tidak seperti aku yang lebih suka baca Alkitab online saja dan membiarkan buku-Mu berdebu. Entahlah, aku kok lebih senang ngobrol dengan-Mu seperti ini untuk bertanya apa yang Kau mau buat aku setiap hari,”
“Ya, apa salahnya kalau kau lebih senang ngobrol dengan-Ku?” tanya Tuhan bingung.
“Ehmmm… Ya… kan gak enak aku tanya-tanya terus hehehe…” kata Akwila sambil terkekeh.
“Ya kalau kamu tanya, kan pasti Aku jawab, dan kamu juga akhirnya mencari jawabanku di Alkitab nanti. Terus kenapa kamu minta maaf kalau kamu tidak seperti orang yang kamu sedang tunggu ini?” tanya Tuhan lagi.
“Ya… Setidaknya dengan meletakkan buku-buku seperti ini, ia terus merenungkan firman-Mu, siang dan malam… Eh ya pagi dan sianglah setidaknya. Malam kan dia sudah di rumah, mungkin di rumah juga Alkitabnya dipajang rapih seperti ini,” jawab Akwila.
“Hmmm… Begitu ya…” Tuhan manggut-manggut.
Tidak berapa lama kemudian, Tuhan berkata lagi,
“Memangnya kamu tahu dari mana kalau dia merenungkan firman-Ku, siang dan malam? Eh maksudnya pagi dan siang di kantor?”
“Ya… itu Alkitabnya! Bersih terus… Berarti selalu digunakan dan dibaca. Benar-benar manager yang cinta pada-Mu,” argumen Akwila.
“Hohoho… Begitu ya…” Tuhan manggut-manggut lagi. Akwila menjadi bingung karena Tuhan sampai tertawa mendengar jawabannya.
“Kenapa memangnya, Tuhan? Saya salah?” tanya Akwila.
“Ehmmm… Begini sajaaa… Kamu buat janji lagi besok dengan si Manager ini. Aku akan buat meeting-mu hari ini gagal karena si Manager tiba-tiba dipanggil boss besarnya. Nah, buatlah janji! Pagi-pagi sekali, jam delapan pagi teng! Kamu sudah harus ada di sini, ok?!” kata Tuhan, tepatnya perintah Tuhan.
“Ya, karena Kau sudah bersabda begitu, ya sudahlah! Jadi hari ini aku sia-sia saja menunggu sedari tadi, ternyata besok sudah diatur jam delapan pagi toh…” jawab Akwila mengiyakan sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal.
“Ya! Jam delapan. Jangan terlambat ya…” kata Tuhan lagi.
“Kenapa harus pagi sih?” gerutu Akwila.
“Ahhh! Sudahlah, kau lihat saja nanti…” sergah Tuhan dan Akwila pun pulang dari kantor itu.
Pukul 7.45 pagi
Akwila sudah menanti di lobbi kantor si Manager. Ya, kalau janji jam 8 pagi, memang seharusnya ia sudah tiba sebelum jam 8 pagi. Akwila sebenarnya masih terkantuk-kantuk.
“Hoooaaammm!” tiba-tiba Akwila menutup mulutnya karena sadar ia sudah di kantor orang. Para office boy sudah bersiap sedia membuka semua pintu-pintu petinggi di kantor itu.
“Pak Akwila, silakan masuk saja. Silakan tunggu di dalam, bentar lagi Pak Kio akan datang,” ujar operator telepon yang merangkap sebagai receptionist.
“Oh… Baiklah…” sahut Akwila.
Ia duduk dan kembali mengagumi buku-buku yang rapih jali tersusun di meja. Demikian juga deretan buku rohani dan Alkitab dalam berbagai terjemahan (dari Inggris, Indonesia, King James, Indonesia sehari-hari, lengkap!). Akwila berdecak kagum.
Tiba-tiba masuk seorang office boy yang memegang kemoceng dan lap yang diselempang di pundaknya.
“Pagi, Pak…” sapa office boy itu ramah ke Akwila.
“Pagiii,” jawab Akwila dengan ramah pula.
“Maaf ya, Pak… Saya sambil bersih-bersih ruangan,” pinta office boy agar Akwila memberi izin.
“Oh… Silakan… Silakan…!”
Office boy membuka tirai di jendela ruangan itu. Kemudian dengan telaten membersihkan meja yang sebenarnya tidak terlalu kotor. Setelah itu ia mengarahkan kemocengnya ke lemari tempat buku-buku berharga itu disimpan. Diraihnya kunci dalam saku celananya, dan kemudian dibukalah lemari buku itu.
“Heh???” Akwila bertanya bingung dalam hati.
“Kok kuncinya dibawa OB? Terus si Pak Kio kalau mau baca masak harus minta sama OB? Ah… pasti dia punya kunci cadangan dong…” tebak Akwila.
Tetapi dasar Akwila yang memang orang yang suka penasaran. Ia akhirnya mencoba memancing office boy itu untuk bicara,
“Buku-buku Pak Kio bagus-bagus ya…” ujar Akwila.
“Ya bagus kalau dipajang gini, Pak… Setiap hari harus bersihin nih…” jawab OB itu.
“Iya, habis dibaca, dirapihin lagi ya…” kata Akwila pura-pura sotoy.
“Mana dibaca, Pak! Wong kuncinya ada di saya kok…,” sergah OB itu sambil tersenyum.
Akwila menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu lagi.
Lalu receptionist masuk ruangan Pak Kio,
“Pak Akwila, waduh…! Sabar ya Pak, ini Pak Kio tiba-tiba dipanggil meeting lagi sama boss besar. Tunggu saja, nanti selesai meeting langsung ketemu Bapak,” kata receptionist itu sambil meminta maaf.
“Wah…! Sibuk banget ya, Pak Kio,” kata Akwila kepada gadis receptionist itu.
“Oh iya… Jadwalnya padat, Pak…,” si receptionist mengiyakan. Akwila manggut-manggut.
“Ok, saya tunggu,” jawab Akwila.
Dalam penantian yang sunyi di kantor itu, Akwila tertawa dalam hati,
“Ah… Tuhan, ini toh maksud-Mu supaya aku datang pagi,”
“Iya… Sekarang kamu paham kan kenapa buku-Ku itu selalu rapih di sana,” jawab Tuhan sambil tersenyum.
“Ya, sepertinya dia memang sama sekali tidak punya waktu untuk baca ya… Sayang sekali, padahal aku sudah mengira dia manager yang cinta Tuhan saking sempat-sempatnya baca Alkitab di kantor,” gumam Akwila.
“Hmmm… Kamu juga tidak boleh berprasangka begitu dong…” ujar Tuhan.
“Loh? Kenapa memangnya, Tuhan?” tanya Akwila bingung.
“Ya, siapa tahu juga dia baca Alkitab online di HP-nya kayak kamu. Mengucapkan salam pada-Ku waktu di mobil. Selalu memikirkan apa kehendak-Ku, dan juga bertanya pada-Ku saat mengambil keputusan. Zaman memang terus berkembang, waktu manusia semakin sempit untuk diam. tetapi bukan berarti Aku tidak memberikan alat untuk mengimbangi kegiatan kalian,” jelas Tuhan.
“Hmmm… Jadi kira-kira begini ya model zaman sekarang untuk merenungkan firman-Mu siang dan malam. Berarti tidak ada alasan sama sekali untuk mengatakan Kau sudah kuno dan menyita waktu aktivitas manusia ya…” kata Akwila sambil memandang PDA-nya.
Tuhan mengangguk-angguk. Dan Akwila kembali meneruskan cakap-cakapnya dengan Tuhan sambil menunggu Pak Kio.
Catatan :
Kali ini Weekly Motiflection-nya saya buat berbeda. Format fiksi ini diilhami dari waktu bengong di sebuah kantor yang memajang Alkitab dengan rapih. Tulisan ini saya sengaja buat menggantung saja, supaya setiap pembaca dapat menyimpulkan sendiri sesuai dengan kondisi masing-masing hehehe…





Kenapa kamu slalu pake nama2 yang agak tak lazim dalam berfantasi seperti Akwila, Geya, Kio?
But, that’s fine
berdoa dengan gaya santai di toilet, di restoran, di meja kerja kita..heheh..Sungguh beruntung, karena DIA tidak kaku