Jan 17th

Weekly Motiflection : Memilih Agama

Moga-moga posting yang ini tidak berbau kontroversial. Awalnya saya juga memikirkan apakah saya sampai perlu menulis tentang sesuatu yang dianggap personal. Tetapi akhirnya saya memutuskan untuk menuliskannya juga karena saya memang tidak berusaha menyinggung apapun dan siapapun di sini. Adapun tulisan saya di sini hanya membeberkan pengalaman sendiri dalam beragama. Mengapa? Kalau begitu silakan baca lanjutannya.

Memasuki usia 30an membuat saya sedikit takjub dengan pengalaman titik balik kehidupan dari kebanyakan teman-teman lama saya (yang saya jumpa lagi melalui jejaring sosial pastinya, mana lagi? Hehehe…). Yang membuat saya takjub dan boleh dikatakan juga terharu adalah mereka semua adalah orang-orang yang menjadi fasih dalam berfilosofi hidup dan agama. Mau berbicara dan berkesaksian tentang pengalaman hidup dan agama pun jadi nyambung. Orang-orang yang saya kenal dulu lugu sampai hancur dapat bersatu pandangan dalam sebuah pandangan hidup ketuhanan di dalam hidup yang sulit ini.

Oh bukan itu saja yang membuat saya takjub. Ada juga banyak rekan yang mulai bertanya kebingungan seperti ini,

Saya harus masuk agama apa?”

Setahu saya jelas di Indonesia tidak ada KTP yang menuliskan kata : Ateis dalam kolom agama. Tetapi bila mereka mencantumkan agama apapun di KTP mereka, boleh dikatakan mereka pasti menuliskannya hanya untuk status, dan supaya tidak menemukan kesulitan dalam administrasi negara.

Terus terang saya sendiri tidak tahu apa yang mendasari mereka sehingga memutuskan untuk menganut agama yang dipilihnya dengan sadar (bukan agama keturunan). Entahlah, apa memang di usia seperti sekarang ini saatnya manusia sadar diri untuk mengakui bahwa Tuhan itu memang ada.

Saya juga tidak tahu apakah ada momen tertentu yang menyebabkan mereka akhirnya serius untuk berkecimpung dalam mengenal Tuhan dalam hidupnya. Tetapi saya mencoba untuk menganalisis. Bukannya merasa jago sehingga saya mencoba menganalisis hal beginian. Tetapi semata-mata karena pengalaman yang sudah banyak saya lihat semenjak saya menetapkan diri untuk serius mencari upah di kerajaan Surga sejak kelas 6 SD. Ya hampir 17 tahun lebih di dalam pasang surut berhubungan dengan Sang Khalik menyebabkan saya sangat percaya bahwa semalas-malasnya orang membahas agama, seanti-antinya orang ditanya tentang agama, namun ada suatu saat mereka juga akan mengakui dalam hati kecilnya bahwa di dunia ini ada Sang Pengatur Semesta.

Berdasarkan pengalaman juga, saya dapat menyimpulkan bila manusia mau mendengar hati nuraninya maka dia akan mengakui bila dirinya sangat memerlukan Satu Sosok pemberi damai kepada dirinya. Satu Sosok tempat untuk mengadu di kala manusia-manusia lainnya tak dapat memberikan kelegaan hati.

Pada akhirnya saya pun yakin bila manusia sejatinya akan menyadari bila apa yang sudah dicapai di dunia ini tidak ada artinya, semua akan ditinggalkan. Dan bila ia mati, dan kisah seorang manusia berhenti begitu saja, buat apa kita bersusah payah di dunia? Toh semua berujung kematian. Dan pada akhirnya seorang ateis akan bertobat dan menyadari bila semua hasil kerja kerasnya selama ini sejatinya adalah bentuk pengabdian hidupnya, tetapi kepada siapa? Keluarga? Lalu mengapa saya harus bekerja bagi keluarga? Apa untungnya bagi saya? Mengapa harus demikian? Apa maknanya bila saya harus mengabdi kepada keluarga? Mengapa manusia harus hadir dan memiliki tanggung jawab begitu rupa?

Itu sebabnya aliran Ateis tidak pernah dapat berkembang sepesat perkembangan agama. Karena ateisme tidak dapat menjawab apa-apa, tidak dapat menjelaskan apa-apa yang disebut hidup. Karena membahas hidup berarti membahas tentang Tuhan. Dan pada akhirnya seorang manusia akan berusaha untuk tidak melihat bahwa hidupnya hanya sia-sia. Ada perputaran di dalamnya, ada fase yang termaktub untuk dipenuhi. Nah… dimulailah pencarian akan sosok Tuhan yang ingin dikenalnya. Mulailah seorang manusia itu berkata,

Aku percaya adanya Tuhan,”

Lalu mulailah persoalan baru datang, seorang manusia itu akan kebingungan sendiri dalam menentukan Tuhan mana yang harus dipercayainya. Mulailah kebingungan melanda dengan pertanyaan seperti ini,

Kenapa banyak sekali agama? Memang Tuhan itu ada berapa?”

Mana agama yang paling benar? Memangnya ada Tuhan yang salah?”

Bahkan timbul pertanyaan paling bodoh (menurut saya), yang berkata,

Tuhan, kalau begitu agamamu apa?”

Padahal Tuhan tidak punya Tuhan, jadi Tuhan otomatis tidak beragama. Tetapi Tuhan juga bukan ateis, karena Ia jelas percaya dengan ketuhanan-Nya sendiri hehehe…

Ah… saya tidak tahu apakah banyak di antara kita yang terjebak dalam usaha memilih agama. Atau ada juga yang merasa tidak puas dan mencari agama yang paling benar. Bukannya saya mau ikut campur dalam urusan beragama seseorang (sama sekali tidak, bahkan orang tua agama saya pun tidak pernah saya campuri), tetapi saya tergelitik untuk menyampaikan beberapa pandangan yang mungkin bermanfaat bagi mereka pencari Tuhan. Ini mungkin tulisan yang sedikit aneh. Ya bagaimanapun sebagai orang yang sudah percaya Tuhan lebih dulu mungkin semestinya membeberkan sedikit banyak apa yang diketahui, tentu tanpa mendiskreditkan agama manapun.

Dari sinilah saya merasa bersyukur dengan keberadaan saya yang sedari dulu sudah terlibat dengan pertentangan diri antara saya dan Tuhan. Suatu hal yang sebenarnya sempat saya anggap tidak berguna karena sementara teman-teman lain dapat menikmati surga dunia, eh kok ya salah malah menjauhinya. Tatkala teman-teman tidak pernah berpikir ke mana dirinya bila ia mati mendadak, eh kok saya kelimpungan mendalami keselamatan. Tatkala teman-teman dengan sukacita menikmati masa kebebasan, eh kok saya malah selalu terlindungi dari Atas untuk tidak terjerumus dalam pesta narkoba atau pesta seks.

Terus terang, dulu sempat saya merasa bahwa yang saya alami ini mungkin merupakan kerugian bagi masa muda saya. Syukurlah beberapa tahun terakhir justru saya merasa bila memang ini sudah panggilan-Nya. Bila saya tidak berusaha bergaul erat dengan-Nya mungkin saya sudah tidak dapat menulis hal-hal di bawah ini dan saya tidak akan menjadi seperti yang sekarang ini. Saya mungkin sudah antah berantah dengan sifat asli saya yang sedemikian buruknya (yang sampai sekarang pun masih saya lawan).

Jadi, inilah beberapa hal yang saya peroleh selama bersahabat dengan Tuhan dalam kurun waktu 17 tahun ini.

Agama itu bukan untuk dipilih! Tetapi Tuhanlah yang memilih saya, Anda, kita semua.

Ya, memilih agama itu seperti memilih-milih dagangan di pasar. Mana yang cocok, mana yang murah, mana yang gampang, mana yang pas, mana yang gak ribet. Semua dicoba, semua dicicip. Mungkin dari banyak kita pernah mengalami ini. Akibatnya? Bila produk tidak cocok, kita ngambek! Aturan ribet? Kita marah! Mulailah merasa, ah… ini gak beres, itu gak beres. Inilah resikonya kalau memilih agama.

Saya pun sempat mengalami hal ini. Saya tidak mengatakan mendalami suatu agama itu jelek. Tetapi kemudian saya menyadari bahwa pemahaman dan pengetahuan teologis belum tentu membawa orang ‘BENAR’ dalam hidup. Dari sini banyak yang berkembang menjadi fasik, garis keras, bahkan menjadi ateis karenanya. Oleh karenanya hal ini menimbulkan persepsi agama ini bagus, agama ini ribet, agama ini aneh. Membuat orang semakin bingung untuk menentukan mana yang sesuai untuknya. Percayalah, kalau Anda memilih agama dengan cara seperti ini, tidak akan sukses. Yang ada malah saling loncat lintas agama tanpa mengetahui apa yang dicari.

Di kemudian hari saya semakin menyadari bahwa yang membuat kita akhirnya memilih sebuah agama atau kepercayaan adalah sebuah panggilan. Tuhanlah yang memilihkan untuk kita. Termasuk bila Anda pernah lintas agama, saya merasa itu adalah salah satu bentuk jalan memenuhi panggilan-Nya untuk mencari suatu kepercayaan yang mententramkan Anda.

Jadi bila Anda masih memilih agama, atau masih ragu dengan apa yang Anda anut sekarang, cara terbaik adalah bertanya dengan-Nya, kemana Ia akan membawa Anda. Cara ini akan membawa diri kita setuju dengan apa yang sudah Tuhan pilih, dan kita pun memilih cara Tuhan, bukan memilih agama itu sendiri.

Jangan mencari agama yang menurut Anda paling enak dan nyaman dari segi Firman dan perintah di dalam agama itu.

Sering saya melihat orang mempertimbangkan agama dengan perbandingan begini,

Ah… agama ini terlalu sombong.”

Agama ini terlalu ribet caranya, banyak aturan.”

Buset, itu agama kaku amat, masak ke kuburan gak boleh.”

Agama ini bikin aku jadi merasa bersalah kalau makan daging.”

Hah! Itu semua akan memusingkan jelas! Karena memang bukan begitu cara memilih dan merasa nyaman dengan sebuah agama atau kepercayaan.

Ketahuilah justru bila Anda sudah memilih Supremasi Ketuhanan dan membiarkan Ia yang membimbing Anda, maka perintah-perintah agama yang awalnya ditakuti sesungguhnya adalah jawaban dari segala pertanyaan Anda tentang hidup. Ya, semua ayat-ayat dalam kitab suci adalah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan Anda tentang hidup.

Jadi, jangan mencari larangan yang paling sedikit dulu, jangan memprioritaskan mana yang mudah untuk Anda jalani dulu. Sebaliknya justru Anda harus membeberkan semua itu satu per satu, karena siapa tahu dari aturan itu dan semua ayat itu justru menjawab semua pertanyaan tentang hidup. Itu kan yang terpenting?

Bila Firman yang Anda rasa kaku itu malah menjawab pertanyaan Anda dalam hidup, percayalah seribet apapun sebuah tata cara keagamaan pasti akan Anda jalani dengan sukacita, ikhlas, dan malah ketagihan terus kepada-Nya.

Ingin percaya Tuhan tapi tidak mau ribet dengan aturan? Tidak mungkin!

Ini juga salah kaprah, karena ujung-ujungnya tetap akan berbuntut kepada kekecewaan terhadap sebuah kepercayaan.

Selama 17 tahun beragama, saya berkesimpulan adalah tidak mungkin seseorang yang berniat untuk mengikuti panggilan-Nya untuk mengenal Tuhan tetapi tidak berminat untuk belajar memahami kitab suci dan ajaran-Nya. Jadi semua itu saling berhubungan. Bila Anda memang sudah terpanggil, secara otomatis Anda bukan mencari hal yang gampang dalam memahami agama, tetapi malah semakin jatuh cinta pada-Nya dan berusaha menyelami kedalaman perkataan-Nya.

Ini juga adalah sebuah refleksi kepada kita yang sudah beragama, apakah kita merasa bahwa membaca kitab suci, berdoa, pendalaman kitab suci adalah sesuatu yang merepotkan? Bila ya, berarti memang Anda hanya memiliki agama tanpa mengetahui esensi yang terkandung di dalamnya.

Bila Anda memang haus akan pencarian makna hidup, maka secara tidak langsung, ritual-ritual keagamaan yang Anda pilih bukan lagi beban. Ritual agama itulah yang membantu Anda mengantar Anda kepada gerbang pemahaman lebih dalam, dan Anda akan dengan bahagia untuk melakukannya.

Saya bukan mengajak semua orang menjadi ahli agama, ahli teologi. Karena saya sendiri sadar menjadi terlalu ahli tanpa pengalaman pribadi dengan Tuhan pun sama saja bohong. Saya sendiri selalu mengatakan kepada beberapa orang bahwa penafsiran sebuah ayat atau teologi ada kemungkinan salah, tetapi pengajaran dan pengalaman hidup yang kita dapatkan dari Tuhan langsung SUDAH PASTI BENAR! Tapi dari mana kita tahu nilai yang kita anut itu benar? Tentu saja kembali lagi ke pemahaman teologis yang tercantum dalam kitab suci.

Jadi mau diputar-putar juga bagaimana pun komitmen berkenalan dengan Allah sudah jelas berbanding lurus dengan keinginan untuk memahami hukum-hukum-Nya. Bila berbanding terbalik, berarti motivasi Anda memang hanya memilih agama selayaknya barang dagangan seperti yang saya sebut di atas.

Hati-hati, Anda bisa bosan dan letih karena agama!

Ya, jika kita hanya berfokus kepada agama, maka hidup jadi membosankan. Segala yang awalnya kita pelajari akhirnya menjadi aturan kaku, mengikat, bahkan pada puncaknya adalah kebingungan.

Santai saja, karena memang tidak semua masalah hidup dapat terjawab dengan mudah dari pemahaman agama. Dan tidak semua perjalanan hidup kita dapat kita mengerti dan diterangkan oleh Tuhan. Banyak hal yang memang harus kita terima dengan lapang dada tanpa harus ada landasan teologis. Dan banyak hal juga yang tidak harus membuat anda frustasi karena tidak dapat mengikuti semua apa yang ditulis dalam kitab.

Tapi sejujurnya, saya tidak pernah bosan dengan Tuhan, seperti saya bosan dengan agama. Saya rasa ini juga akan Anda rasakan bila memang kita percaya kepada Tuhan, bukan agama. Agama itu seperti satu kegiatan, jadi memiliki siklus naik turun, seperti halnya kita lagi bekerja dan belajar.

Tetapi bila kita berfokus pada Tuhan, sebenarnya tidak timbul rasa bosan itu. Hal tersebut identik dengan nafas kehidupan.

Segala ritme dari sedih, marah, kesal itu adalah bagian perasaan kita bersama Tuhan. Dan itu sangatlah tidak membosankan, karena dinamis.

Kita tidak pernah bosan bernafas, bahkan kadang tidak menyadarinya bila kita sebenarnya menghirup udara setiap hari. Dan itu artinya pada dasarnya tidak sedetikpun kejadian yang kita lalui tiap harinya hanya berlalu tanpa bekas begitu saja. Selalu ada hikmah di dalamnya dan itulah peranan Tuhan dalam nadir kita setiap hari.

Semua agama itu serupa tetapi tidak sama! Dan perbedaan memperkaya akan pemahaman Tuhan itu sendiri.

Jadi memang salah kalau mengatakan semua agama sama. Saya merasa kalau saya mengatakan hal seperti ini seperti sedang menggunakan topeng dan sedang menyangkal isi hati saya sendiri. Karena memang sejujurnya, setiap agama itu berbeda!

Kalau semua agama sama  tentu sudah tidak pusing untuk memilih kan? Justru karena berbeda maka terjadilah pilihan. Saya merasa inilah bentuk kejeniusan dan kekayaan Tuhan di dunia. Ia menjadikan kita tidak pernah sama satu sama lain, termasuk pengalaman kita bersama-Nya. Setiap orang mengalami hal-hal yang berbeda dalam pemahaman kepercayaan. Ada yang berintikan perbuatan, ada yang berintikan keselamatan. Semua adalah perjalanan hidup yang harus dilewati semua.

Kembali kepada panggilan, ada banyak cara orang mengenal Tuhan. Selama masih dalam patron mencari kebenaran, kembali lagi itu semua hanyalah perjalanan hidup.

Seiring perjalanan saya beragama pun akhirnya menyadari bahwa dengan mempelajari agama lain yang berbeda dengan yang saya anut itu pun ternyata memperkaya pandangan saya dengan Tuhan. Sehingga sungguh benar bila dikatakan adanya perbedaan justru melengkapi sosok Tuhan menjadi sempurna. Jadi memang sungguh bodoh bagi mereka yang akhirnya bertengkar hanya karena perbedaan agama, karena itu berarti mencabik-cabik Tuhan sendiri.

Jadi perdalamlah keimanan sesuai dengan agama yang kita anut, tetapi perluaslah cakrawala imanmu dengan mengetahui kebenaran yang ada di sekeliling kita. Pada akhirnya kita justru akan melihat bahwa Tuhan tidak sesempit pandangan agama itu sendiri.

Saya tidak tahu berapa banyak orang yang masih mencari-cari agama, mempertanyakan keseriusan diri terhadap agama, kebingungan memilih agama. Dan saya juga tidak tahu berapa banyak orang juga yang mengaku sudah beragama tetapi tidak memahami apa fungsi agama itu sendiri. Banyak juga di antaranya yang terjebak oleh cinta agama tetapi tidak cinta Tuhan, terbukti dari banyaknya perselisihan di antara kaum beragama itu sendiri. Padahal semua agama mengusung Tuhan yang disebut Maha Pemurah, Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Menjadi manusia beragama terus terang membawa beban berat yang amat sangat. Seolah-olah senantiasa disorot sedemikian rupa dengan jutaan ayat-ayat yang harus dibawa di kepala, dan kaki. Tetapi menjadi manusia ber-Tuhan, yang takut akan Tuhan, justru akan meringankan langkah kita dan anehnya secara otomatis membuat orang memberi predikat bahwa kita manusia beragama. Selebihnya kecintaan akan Tuhan itu sendiri yang akan memproses kita untuk menjadi nyaman dengan ajaran-Nya yang menjawab pertanyaan Anda tentang kehidupan (untuk hal ini mungkin Anda harus dibimbing dengan rohaniawan yang sudah lebih memahami dalam tafsir).

Ya, semoga bukan sistem cap cip cup yang digunakan dalam memilih sebuah keyakinan. Kalaupun ada yang masih bingung dan masih mempertimbangkan pilihan, itu adalah sesuatu yang wajar. Di saat itulah Anda memang sedang di ambang titik balik kehidupan Anda untuk mendengar panggilan-Nya di mana engkau akan menempatkan diri untuk terus mengenal-Nya dengan baik.

Comments

Comments on “Weekly Motiflection : Memilih Agama”

Budiman Lee said:

Nice article … lbh baik sy tdk bnyk comment deh, soalnya kalo mulai bicara ttg Tuhan & agama, bisa kebablasan nih. Tp sy suka point bhw: bukan kita yg pilih Tuhan, melainkan Dia-lah yg memilih kita.

Manusia memilih Tuhan, bg sy spt:
yg tdk smpurna koq mau memutuskan mana yg sempurna,
yg tdk benar koq mau menetapkan manakah kebenaran.

Jk dpt pahami prinsip ini, kita akan smakin mngerti bhw: pengenalan akan Tuhan adalah sbuah anugerah yg tak ternilai hrgnya.

(Yoh. 15:16a – Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.)

Olyvia said:

tul, kalimat yang paling kusukai itu :
“Bukan kita memilih Tuhan, tapi Tuhan yang memilih kita.”
Kadang kita sombong dalam beragama, seakan2 sudah paling hebat dan memandang rendah org laen. Padahal belom tentu dimata Tuhan kita udah benar.
Kadang malah dalam rangka membela diri, kupikir begini :
“Apa yang dianggap salah sama manusia belom tentu dianggap salah sama Tuhan. Koq bisa sich dia ******* padahal belom tentu dia tanpa dosa?” (*** diisi yang bener ya…)
Ada kalimat begini dalam kitab suciku :
– “Barang siapa mengganggap dirinya tidak berdosa, bolehlah dia merajamnya terlebih dahulu.” Lalu pergilah mereka itu karena semua merasa pernah berbuat dosa. — (kalimatnya kurang lebih sama dalam beberapa kitab)
So, nobody perfect except the mighty God.
May God bless dan give us His mercy, now and forever.

fekhi said:

@budiman & olyvia : sipppp… saya juga berpendapat begitu ya karena memang sudah merasa sendiri, bahwa saya beragama karena Dialah yang memilihkannya untuk saya :)

pudji hastuti said:

secara awam, ak memandang (semua) agama+umatnya spt memandang (semua) ibu+anaknya, dimana kita sering menganggap ibu kita paling ‘cantik’, paling enak dipandang wajahnya sehingga ditukar dng artis yg cantik ato konglomerat pun kita tidak rela, ibu kitalah yg paling membuat kita ‘nyaman’ bila didekatnya….begitu pula kita memangdang agama kita yg paling ‘baik’, paling ‘benar’ dll. Jadi emang gak bisa dibanding-bandingkan karena sifatnya sgt subjektif, relatif dan sensitif….hehehe…tapi itu menurut ak lho :)

pudji hastuti said:

ehhh satu lagi….ak juga setuju Dia yg memilih kita…spt ibu yg menginginkan kelahiran kita lewat rahimnya….hmmmm…nyambung gak ya?

fekhi said:

@mbak pudji : betul banget analoginya. pas. tapi yang Dia yang memilih kita… hmmm bentar tak pikir dulu ya, nyambung apa gak hehehehe

indahwidjaja said:

memang tidak bisa dipungkiri ketika kita mulai serius memilih atau menghayati agama spt mencari jatidiri atau mengenal diri sendiri, tidak ada habisnya kecuali habislah hidup kita, namun tidak boleh kita lupakan bhw Tuhan memberi kita hak untuk memilih spt adam dan hawa memilih untuk makan buah ditengah taman firdaus. Kenapa pohon itu harus ada di taman itu jika memang akan berbahaya, seperti kenapa harus ada berbagai kepercayaan kalau memang ada yang mungkin tidak tepat, semua itu tergantung pilihan kita,walaupun Tuhan tahu mana yang akan kita pilih, Itulah rahasia Tuhan spy kita takut pada Dia. Dan selalu mencari Dia walau capek kata Penkhotbah. Tp lbh baik capek dan terus mencari dan memilih dr pada udah stugnan artinya kita tdk akan maju lagi, bahkan mundur meragukan Tuhan.

DV said:

Kamu (dan aku) patut bersyukur karena mampu menempatkan agama dalam konteks ‘memilih’. Banyak orang di luar sana merasa bahwa agama itu ‘dipatrikan’ oleh orang tuanya masing-masing dan itu berlaku sampai mati :)

fekhi said:

@indah : iya ujung-ujungnya memang akhirnya kita memang harus memilih apa yang sudah disuarakan oleh Tuhan :)

dv : yoi… apalagi kalau mau memilih agama malah dibilang murtad ya hehehe… kasihan juga sih :D

indahwidjaja said:

mulai seru ya………..

Clementina Dewi said:

akhirnya bisa buka lagi dan lagi lancarr nih jaringan…hihhi..
bagus banget, femi…koq aku jd ngerasa nyambung juga kalo jadi jawaban untuk si ‘bingung’…hihihi….

indahwidjaja said:

hm…maaf dulu ya kalau berlebihan jadinya, hanya menginfokan yang saya tahu mudahan bermanfaat, sekali lagi memang adakalanya pilihan itu tidak sama porsinya satu dengan yang lain , dinegara yang sulit untuk memilih memang seakan akan tidak ada pilihan , tetapi dibawah sadar yang merasakan tekanan itu bukan lagi sebagai kesusahan spt yg kita rasakan ketika dipihak dia, sehingga lagi-lagi mereka tatap punya pilihan walau dalam posi yang berbeda, itulah keadilan Tuhan yang saya rasa semua umat manusia patut mensyukurinya.Contoh extrimnya saat perang; negara;saudara;keluarga, walau porsinya berbeda tetapi tetap ada pilihan disitu, tergantung manusianya sampai dimana keinginannya mencari yg menciptakannya, ya ngak habis habislah kalau dicari.

fekhi said:

@dewi : oooh… waktu si bingung tentang beginian? hehehehe… (bahasa yang membingungkan ya :p)

@indah : bingung… sebenarnya tulisan ini memang buat mereka yang memilih. kalau yang sudah memilih (entah juga terpaksa memilih) ya tidak dapat dibahas hehehe… hanya sekadar berbagi bagi mereka yang membutuhkan. tidak semua orang bisa semudah itu mengambil keputusan setelah hidup selama 30thn tidak beragama loh… tidak seperti kita yang mungkin sudah sedari kecil dipanggil oleh-Nya. jadi kira2 begitulah tujuan tulisan ini. bagi yang sudah dipilih, bersyukurlah. dan bagi mereka yang belum, seperti yang kamu bilang di dalam perang2 dll, pasti ada kesempatannya. Tuhan tidak tidur. Di dalam tulisan itu juga saya katakan bahwa ada masa di setiap manusia memikirkan bila ia harus mencari Dia. Entah kapan, tapi pasti, tinggal orang mau kembali pada-Nya atau tidak.

indahwidjaja said:

hi… semua, ngak usah binggung , yang indah maksudkan bukan melebarkan isi dari article cece, tapi menjawab atau mnginfokan manambahkan beberapa tanggapan.Bahwa kita semua patut bersyukur untuk untuk keadilan Tuhan memberi kesempatan setiap orang untuk memilih, jadi jangan menyerah. ok

Leave a Reply

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes
Copy Protected by Chetan's WP-CopyProtect.