Oliver, 6 Bulan

Tak terasa, usianya sudah enam bulan pada tanggal 9 Januari tahun ini.  Tak terasanya bisa jadi karena saya sudah cukup menyantaikan pikiran dalam mengasuh bayi.  Tidak seperti waktu anak pertama, Pepe, yang terasa berat dari hal begadang, jadwal memberi susu, dan sebagainya.  Maka untuk si Oliver, sejak hamil pun saya sudah lebih tidak memusingkan macam-macam rutinitas.

Jika saat hamil Pepe saya selalu menghabiskan vitamin dari dokter, untuk si Oliver saya malah cenderung menghindari.  Hanya beberapa saja yang saya konsumsi, itu pun tidak rutin.  Saya ingin yang lebih alami saja, jadi makan makanan yang sehat sudah cukup membuat saya yakin jika janin tidak bermasalah.  Setiap periksa ke dokter dan di-USG pun tidak bermasalah, jadi saya tetap meneruskan perawatan kehamilan secara biasa saja, tanpa harus parno keharusan makan obat. Continue reading

Do You Still Love Facebook? Yes, I do!

credit photo : Connections within a social network (David Malan)

Aih… itu judul! Ya, kenyataannya begitu. Tahun 2012, tematik facebook dibuat menjadi formasi timeline. Bagi sebagian pengguna, seperti biasa mulai kasak kusuk gerah melihat perubahan lagi di wajah facebook. Kebetulan, sejak dulu saya tidak terlalu pusing dengan beberapa perubahan dari facebook. Ya, tinggal membiasakan diri saja. Jika ternyata facebook semakin mengorek-ngorek album lama, tulisan lama, status lama, atau menguntit apa yang kita lakukan pada facebook teman kita dianggap mengganggu ‘kan tinggal diatur saja menu privasinya. Saya selalu mengatur untuk menyembunyikan dan rajin menghapus recent activities saya di facebook, jadi akan sulit bagi orang untuk melihat saya sedang mengomentari siapa, atau lagi berteman dengan siapa. Kalau malu dengan posting-posting lama, ya tinggal dihapus saja. Gitu aja kok repot hehehe… Continue reading

Pepe, 4 Tahun

Apa makna ulang tahun bagi seorang balita?  Jawabannya tidak ada.  Makna itu jelas dirasakan oleh orang tuanya daripada anaknya sendiri.  Anak kecil memaknai ulang tahun dengan kado?  Ternyata salah, karena mereka pun sebenarnya tidak mengerti konsep kado di usia segitu.

Hal itu yang terjadi pada Pepe, ketika tanggal 14 Desember 2011 memasuki usianya yang ke-4.  Posting ini memang rada telat.  Maklum… waktu di depan monitor sudah amat sangat berkurang (dikarenakan Pepe sudah banyak menguasai laptop dan juga kalau mau menulis harus tunggu si kecil Olly tidur dengan nyaman hehe…).  Baiklah, kembali ke topik ulang tahun Pepe…!  Saya malah lebih memaknai waktu persiapan ulang tahunnya.  Temanya sudah pasti harus Thomas!  Sub tema : swadaya mama alias semua dikerjakan sendiri, tidak pakai order kue, order makanan, dan pesan-pesanan lainnya.

Tidak ada perayaan ulang tahun yang wah…  Acaranya juga berlangsung nyempil di sela pelajaran sekolah Pepe.  Sejatinya, saya sih mau buat acara yang bisa melibatkan murid-murid di sekolah Pepe, biar perayaan tidak hanya sekadar menyanyi, tiup lilin, kasih selamat, dan goody bags.  Namun nampaknya hal tersebut tidak memungkinkan.  Selain guru-gurunya sangat terbatas (berakibat akan sulit mengontrol anak-anak), saat itu memang sedang penuh kegiatan sehubungan acara akhir tahun jadi saya maklum bila konsentrasi mereka tidak bisa ke ulang tahun.  Walau begitu, saya cukup sibuk karena dari A sampai Z semua dikerjakan sendiri. Continue reading

Bandungan dan Bandengan

Libur Natal baru dimulai, tetapi bagiku liburan dalam arti jalan-jalan sudah selesai.  Aku dan keluargaku memang sudah memulai liburan sejak tanggal 17 Desember dan tiba di Jakarta kembali tanggal 23 Desember.

Kuberi catatan pada liburan ini karena liburan tahun ini adalah liburan yang paling minim ‘me time’ bagiku sendiri.  Jika dulu yang namanya liburan berarti hanya tidur, makan, jalan dengan porsi tidur paling banyak, namun kali ini sudah tidak bisa begitu.  Memboyong satu keluarga, walaupun hanya beranggotakan empat orang tetapi karena yang satu masih bayi alhasil aku lebih menikmati untuk menjaga anak mungil itu.

Dimulai dari perjalanan awal dari Jakarta menuju Semarang dengan kereta api.  Jadwal keberangkatan tepat pada pukul 16.45 sehingga Pepe masih sempat melihat pemandangan di sekitar stasiun dan di luar jendela kereta.  Dia sangat menikmati transportasi yang baru pertama kali ia naiki saat itu.  Sebagai ‘Thomas and Friends’ freaks, tak sulit menjelaskan semua hal yang ia lihat.  Continue reading

Kekirian

Saya kidal.  Selama blogging, belum pernah saya curhat mengenai kidalisme (jangan buka kamus KBBI, karena memang tidak ada).  Lalu daripada di catatan hidup saya tidak pernah membahas tentang kebiasaan saya sehari-hari ini, maka saya pun berniat menuliskannya.

Jujur, saya sendiri tidak pernah merasa kidal itu suatu kelainan.  Saya bangga saja, tidak pernah minder tentang kekirian saya. Yang merasa kidal itu berbeda justru mereka yang dominasi menggunakan tangan kanan dalam beraktivitas.  Di rumah saya tidak menemui perlakuan beda jelas, tetapi tidak di sekolah.  Untung saja saya masih menulis dengan tangan kanan karena dibiasakan dari kecil, jadi ‘perlakuan’ yang berbeda ke saya agak menurun dibandingkan mereka yang tidak bisa menulis dengan tangan kanan.  Continue reading

Motiflection : Doa Tanpa Kompensasi

Suatu ketika saya menonton tayangan acara anak yang dimeriahkan oleh dua pembawa acara dari stasiun televisi anak di Indonesia.  Acaranya biasanya dimeriahkan dengan nyanyian-nyanyian, gurauan, dan dongeng fabel dengan menggunakan boneka binatang.

Kali itu dongeng yang dibawakan adalah tentang si gajah dan si anjing yang bermimpi dalam tidur.  Singkat cerita, si gajah tidurnya gelisah karena bermimpi buruk sementara si anjing merasa senang dalam tidur karena bermimpi indah.  Si anjing berdoa sebelum tidur dan si gajah tidak.  Kesimpulannya setelah si gajah dan anjing bertanya kepada raja hutan (si singa) mengapa si gajah tidak nyenyak tidur sementara anjing berbahagia adalah : harus berdoa sebelum tidur.

Wah lagi-lagi ilmu spiritual yang menurut saya keliru untuk diperkenalkan kepada anak.  Bagi saya, jika ingin mengajarkan hal-hal baik dengan harapan mendapat kompensasi malah kelak akan memberikan persepsi yang keliru tentang nilai baik itu.  Seperti cerita yang saya tulis di atas, bagi saya kisah tersebut malah merendahkan arti doa itu sendiri.  Doa jadi diibaratkan seperti jimat atau kalimat sakti yang akan berakibat buruk jika tidak dilakukan.  Padahal makna doa jelas lebih dari itu bagi yang sering mengaplikasikan dengan benar.

Selanjutnya dapat dibaca dengan klik tautan di bawah ini :

http://motiflection.com/2011/10/doa-tanpa-kompensasi/.